Feeds:
Posts
Comments

joy5Kawasan konservasi laut (KKL) secara individu maupun jaringan merupakan alat utama dalam melindungi keanekaragaman hayati laut. Walaupun pengetahuan tentang KKL terus berubah-ubah/meningkat tetapi penerapan dari teori teori untuk kawasan yang luas hampir belum ada. Beberapa teori merekomendasikan bahwa zona inti dalam KKL seharusnya melindungi lebih dari 20 %. Namum kesepakatan tentang seberapa besar habitat yang harus dilindungi keanekaragaman hayati lautnya dalam menjamin konektivitas ekologi belum ada. Salah satu contoh KKL yang dibentuk untuk menjamin konektivitas ekologi antara KKL adalah KKL Gulf of California yang meliptui 10 KKL dengan perbedaan habitat yang beranekaragam. Pengertian KKL diusulkan oleh KOMITE NASIONAL KONSERVASI LAUT (KOMNASLAUT) sebagai terjemahan resmi dari Marine Protected Area (MPA). Dengan mengadopsi definisi dari IUCN, KKL dibagi kedalam beberapa kategori yang dapat disetarakan dengan jenis KKL di Indonesia , definisi kategori tersebut adalah sebagai berikut :

Kawasan Konservasi Laut adalah perairan pasang surut termasuk kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil, termasuk tumbuhan dan hewan didalamnya, serta termasuk bukti peninggalan sejarah dan sosial budaya dibawahnya, yang dilindungi secara hukum atau cara lain yang efektif, baik dengan melindungi seluruh atau sebagian wilayah tersebut.

Pengertian di atas adalah suatu pemahaman yang sudah berlaku umum diterjemahkan dalam kegiatan proses-proses perencanaan di wilayah pesisir. Satu hal yang menjadi menarik ketika melakukan kajian mengenai apa yang di maksud dengan Kawasan Konservasi Laut atau Marine Protected Area dalam UU no 31 Tahun 2004. Di dalam UU no 31 2004 dalam pasal 7 ayat 1 point q hanya menulis Suaka Perikanan (Suaka perikanan merupakan kawasan perairan tertentu baik air payau maupun air laut dengan kondisi dan ciri tertentu sebagai tempat berlindung atau berkembang biak jenis sumber daya ikan tertentu, yang berfungsi sebagai daerah perlindungan) yang secara ekplisit tercantum juga pada bagian awalnya mengenai pengertian Konservasi Sumberdaya Perikanan dalam pasal 1 ayat 8 yang mengartikan demikian:

“Konservasi Sumberdaya Ikan adalah: upaya perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan sumberdaya ikan, termasuk ekosistem, jenis dan genetic untuk menjamin keberadaan, ketersediaan dan kesinambungannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragaan sumberdaya ikan.”

Bagaimana Kawasan Konservasi Laut akan memberikan nilai positif terhadap dunia perikanan?

Dari berbagai proses pembentukan kawasan konservasi laut di Indonesia jelas terlihat adanya berbagai perbedaan dalam menentukan fungsi kawasan. Sebagian besar penentuan kawasan masih bersifat hanya pada lokasi setempat atau belum menggambarkan keterkaitan dengan kawasan konservasi laut wilayah lainnya. Perbedaan-perbedaan ini dimungkinkan akan menimbulkan konfllik baik dari aspek biofisik maupun dari aspek pengelolaan. Kawasan konservasi laut merupakan suatu kawasan yang berfungsi untuk menjaga kelestarian keanekaragaman hayati yang terdapat di dalam kawasan tersebut dari berbagai gangguan. Berbagai gangguan terhadap kawasan konservasi laut yang terjadi semakin meningkat dalam beberapa tahun belakangan ini, baik gangguan dari alam maupun dari aktivitas kegiatan manusia. Salah satu langkah yang nyata dalam mengurangi berbagai gangguan tersebut adalah penetapan kawasan konservasi laut. akhir-akir ini upaya penetapan kawasan konservasi laut banyak menghadapi berbagai tantangan, misalnya krisis ekonomi, sosial budaya yang menurun, pemanfaatan sumberdaya yang berlebihan dll. Beberapa alasan penting dalam penetapan kawasan konservasi laut adalah sebagai berikut:

1) Perlindungan terhadap kelangsungan ekosistem pesisir laut dan pulau-pulau kecil dari berbagai ancaman baik dari alam maupun kegiatan manusia.

2) Perlindungan terhadap biota laut yang dilindungi dari ancaman kepunahan

3) Menjaga kelestarian sumberdaya laut dari eksploitasi yang berlebihan

4) Pemanfaatan aktivitas kegiatan yang tepat/sesuai dengan fungsi kawasan

Pengelolaan Kawasan Konservasi bertujuan untuk mewujudkan keseimbangan ekosistem, kelestarian sumberdaya ikan serta untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan. Untuk itu perlu upaya – upaya dalam pengelolaan kawasan konservasi seperti :

a. Pengembangan Data dan Informasi

b. Pengelolaan Batas dan Zonasi

c. Pengelolaan Sumberdaya Hayati dan Perikanan

d. Pengelolaan Sarana dan Prasarana

e. Pengelolaan Pariwisata, Pendidikan dan Penelitian

f. Pengendalian, Monitoring dan Pengawasan

g. Pemberdayaan Masyarakat

h. Penyadaran Masyarakat

i. Penguatan Kapasitas dan Sumberdaya Manusia

j. Pengembangan Jaringan Kerjasama dan Kemitraan

Selain itu pula, untuk berhasilnya pengelolaan perikanan di Kawasan Konservasi Laut perlu adanya jejaring (network) antar kawasan konservasi laut mempunyai peranan yang penting dalam empertahankan keanekaragaman hayati di kawasan tersebut. Beberapa alasan dalam membuat jejaring antar kawasan konservasi laut diantaranya sebagai berikut:

  1. Untuk menggambarkan keanekaragaman hayati di kawasan konservasi laut

  2. Untuk menjaga dan memeliharan keanekaragaman hayati

  3. Untuk memberikan model pemanfaatan kawasan konservasi laut yang mendukung ekosistem setempat

  4. Untuk menjaga atau melindungi tempat biota laut yang dilindungi dari berbagai ancaman

  5. Menjaga keberadaan potensi sumberdaya perikanan laut

  6. Untuk memperluas kawasan konservasi laut

chicagoKepada Wisudawan Angkatan 1935 Sudah hampir lima belas tahun aku berada di posisi kalian sekarang. Maka aku dapat memberi nasihat bagi kalian tentang bahaya dan kesulitan yang akan kalian hadapi di depan. Masalahnya terutama, menurut pendapatku, bukanlah masalah ekonomi atau keuangan. Umumnya sebagian orang Amerika selalu bisa mendapat penghasilan; dan umumnya lulusan dari universitas terkenal bisa seperti itu. Kalian mempunyai keunggulan dibandingkan dengan saudaramu setanah air yang lain. Kalian sudah belajar bagaimana bekerja; kalian telah berpengalaman bekerja dengan banyak orang; kalian punya guru-guru yang baik dan telah membaca banyak buku bagus; kalian telah diterangi oleh akumulasi pengetahuan manusia. Jika ada orang yang bisa bertahan hidup, kalianlah orangnya. Aku tidak kuatir tentang masa depan ekonomi kalian. Yang paling kukuatirkan adalah moral kalian. Pengalaman dan pengamatanku telah membuatku melihat untuk mengingatkanmu bahwa bahaya yang paling besar, menggoda, melumpuhkan, yang akan kalian hadapi adalah kerusakan moral. Waktu akan merusakmu. Teman-temanmu, istri atau suamimu, rekan kerja dan seprofesimu; ambisi sosial, politik dan finansialmu akan merusakmu. Hal yang paling buruk di dalam hidup adalah keruntuhan moral. Sistem Amerika adalah sebuah sistem yang memberikan insentif besar bagi inisiatif. Sistem ini didasarkan pada usaha individu. Jalan menuju ke atas terbuka bagi siapa saja, tak peduli dari mana dia mulai. Paradoks yang paling mengejutkan dari kehidupan Amerika ini adalah bahwa sistem ini, yang bertumpu pada perbedaan individu, menghasilkan dorongan yang paling kuat menuju penyeragaman. Fakta bahwa anak mana pun bisa menjadi Presiden, ketimbang membuat setiap anak menjadi seorang individu, membuatnya cenderung untuk menjadi sebuah replika dari semua yang lain. Keikutsertaan adalah bagian dari aspirasi Amerika. Dan di sinilah kerusakannya terjadi; cara untuk ikut serta adalah dengan ambil jalan “aman”, dapat diterima, kompromistis, tidak konfrontatif, tidak memiliki pandangan yang tidak disetujui oleh banyak orang, oleh atasanmu, atau kelompokmu. Kita percaya bahwa dengan mengenal orang yang tepat, memakai pakaian yang tepat, memegang pendapat yang tepat, berpikir dengan tepat, kita bisa ikut bermain; kita bisa ikut serta dalam suatu gambaran surga yang dipenuhi mobil bagus, minuman dingin, dan wanita yang mengagumkan. Begitu menggugahnya gambaran ini sehingga kita bisa melihat bahwa para politikus selama kampanye berusaha sebisa mungkin untuk tidak berkata apa-apa; kita tahu bahwa orang di kalangan atas melakukan penipuan dan korupsi dan tidak enak untuk mengkritik mereka; dan kita tahu, yang kutakutkan, kalau rektor universitas membatasi ucapannya di muka publik untuk berkata yang datar-datar saja. Ketidakberanian ini menjadi kebiasaan, dan ke-konservatif-an ini menjadi salah satu karakteristik dari era kita ini. Tekanan menuju penyeragaman semakin kuat sekarang. Metode yang lebih efektif untuk mencapainya makin banyak muncul. Perkembangan periklanan sekarang membuat setiap warga Amerika mesti kelihatan, bertindak, dan berpikir seperti tetangganya, dan harus memakai perabot dan alat yang sama. Menjadi nomor dua, adalah yang ditakutkan semua orang sekarang. Ini semua terefleksi dari histeria bentuk opini, yang menekankan kebebasan berbicara bagi mereka sendiri, meskipun tidak ada yang mau mengambil itu dari mereka, dan pada saat yang sama mau mengambilnya dari orang lain. Ini terefleksi dari kembalinya pemaksaan ke dalam politik. Ini terefleksi dari penolakan umum atas kebenaran yang tidak mengenakkan. Ini terefleksi dari mundurnya rasio nasional. Anda hampir tidak bisa menanyakan sekarang tentang sebuah rancangan undang-undang atau usulan apapun apakah ia cukup bijak, adil dan bertanggung jawab. Pertanyaannya adalah betapa kuat tekanan di balik itu dan betapa kuat kepentingan yang ada di belakangnya. Ketakutan ini juga terefleksi pada serangan pada institusi perguruan tinggi. Dari satu sisi, serangan ini dapat dibenarkan. Dari sisi lain bagi mereka yang berpikir bahwa surga adalah sebuah country club, universitas adalah sesuatu yang berbahaya. Jika kamu mengingankan sesuatu yang rata-rata, jika kamu ingin sebuah negara yang terdiri dari kembar identik semua, tanpa inisiatif, intelektualiatas, atau ide, kamu harus takut kepada universitas. Dari sudut pandang ini universitas adalah subversif. Mereka mencoba membuat mahasiswa mereka berpikir; mereka tidak ingin memproduksi automaton yang serupa. Dengan membantu mahasiswanya berpikir, universitas membuat mereka lebih resisten terhadap tekanan, propaganda, bahkan imbalan. Universitas membuat mereka tidak puas, jika tidak ada ketidakpuasan, tidak akan ada kemajuan dan universitas membuat mereka lebih ingin membuat sesuatu untuk memperbaiki kondisi hidup masyarakat. Universitas membuat mereka menjadi seorang individu, dan invidualitas adalah sebuah impian Amerika, tidak hidup untuk diri mereka sendiri, tetapi hidup untuk sesamanya. Betapa kontras dan tajam perbedaan antara atmosfer Amerika dan tujuan universitas ini, di mana orang takut untuk berpikir sendiri dan universitas tidak berbuat apa-apa kecuali membuat orang berpikir, sehingga dari satu sisi universitas bisa dituduh untuk tidak mempersiapkan mahasiswanya untuk hidup di masyarakat. Lulusan mereka tidak bisa diterima. Universitas mungkin bahkan tidak tertarik untuk itu. Tetapi kamu akan melihat bahwa keutamaan yang dicoba ditanamkan oleh sebuah universitas adalah bentuk dicari oleh pemerintahan kita dan tanpa itu kita tidak akan bisa bertahan. Dengan mengalahkan ketidakpedulian, penghakiman, ketidakadilan, keseragaman, pemerataan, kemudahpuasan, dan kebodohan dan memajukan kecerdasan dan kemerdekaan, universitas melakukan sebuah pelayanan yang esensial untuk demokrasi. Demokrasi bertumpu, pertama pada pemahaman di tingkat universitas, yang disebarkan melalui pendidikan para guru untuk sekolah umum dan melalui penemuan dan penyebarluasan ilmu pengetahuan. Demokrasi bertumpu, kedua pada kepentingan individual, tidak harus politik, tetapi intelektual dan spiritual juga. Dengan ini universitas memberi kontribusi melalui kerja keras para profesor dan para lulusannya. Seperti yang diimpikan Thomas Jefferson ketika ia mendirikan University of Virginia, pelayanan ini harus selalu ada untuk demokrasi. Tetapi para pendiri republik in hampir tidak mungkin memperkirakan betapa akutnya kebutuhan akan itu di saat ini. Mereka tidak bisa mengantisipasi kekuatan propaganda dalam setiap sektor kehidupan yang menyelimuti masyarakat saat ini. Mereka tidak bisa membayangkan sebuah pemerintahan yang penuh dengan kelompok, yang mampu dan bisa melenyapkan kepentingan yang tidak sesuai dengan mereka. Mereka tidak bisa membayangkan suatu hari ketika individualisme akan berarti: “Berbuatlah untuk kepentingan dirimu sendiri.” Jika mereka telah memperkirakan ini, mereka akan lebih meninggalkan pesan yang kuat disertai doa bagi saudara sebangsa setanah air mereka untuk lebih memajukan dan menguatkan institusi pendidikan tinggi. Jadi aku kuatir tentang moral kalian. Universitas ini tidak akan bisa menyelesaikan seluruh kewajibannya terhadap negara jika kamu ikut arus dalam hidup yang biasa-biasa saja. Percayalah, kalian sekarang lebih dekat dengan kebenaran dari pada di masa akan datang nantinya. Jangan biarkan orang-orang “praktis” mengatakan kepadamu bahwa kamu harus menyerahkan idealismu karena tidak praktis. Jangan berkompromi dengan ketidakjujuran, ketidakpatutan, dan kebrutalan. Dengan berlalunya waktu, bertahanlah terhadap kerusakan yang akan datang kepadamu. Ambil posisimu sekarang sebelum waktu merusakmu. Sebelum kalian sadar, semua sudah terlambat. Keberanian, menahan diri, kehormatan, keadilan, kebijaksanaan harus ditempatkan pertama. Di dalam keutamaan intelektual inilah universitas telah mendidikmu. Hidupmu di sini akan membantumu hidup di masyarakat nanti. Jika kamu memegangnya, kamu menghargai dirimu sendiri dan universitas, dan menjadi pelayan bagi negaramu.

“You are free to choose, but the choice you make today will determine what you will have, be and do in the tomorrows of your life”  Zig Ziglar.

Pertanyaan yang kelihatan sangat sederhana, akan tetapi membutuhkan pemikiran yang empiris dan pragmatis untuk menjawab perilaku dan tabiat dari diri sendiri. Pada dasarnya, setiap individu memiliki : Karakter dan Kharisma. Secara spesifik dijelaskan untuk mengetahui kepribadian seseorang ( baca: saya/sebagai individu) dilihat dari 2 (empat) kriteria di atas yaitu:

1. Karakter.

  • Karakter dilihat bukan dari perbuatan dan perkataan akan tetapi, karakter ditentukan oleh siapa saya sesungguhnya. Siapa saya sesungguhnya,menentukan apa yang saya lihat, itulah sebabnya seseorang/diri sendiri tidak dapat dipisahkan karakter dirinya sendiri dengan perbuatan yang ia lakukan.
  • Karakter adalah suatu pilihan. Banyak hal didunia ini yang tidak bisa kita kendalikan. Misalnya: memilih orang tua kita, tempat dimana kita lahir, memilih talenta yang kita miliki atau IQ sekalipun. Namun kita bisa memilih karakter kita pada saat kita menghadapi permasalahan, mengambil keputusan, mendukung atau menolak suatu pernyataan, dan lain sebagainya. Disaat kita mengambil keputusan kita secara tidak sadar kita menciptakan karakter kita.
  • Karakter mempengaruhi orang lain. Kepemimpinan sejati selalu melibatkan orang lain seperti ungkapan jika sayapikir sayamemimpin padahal tidak ada orang mengikuti anda, maka sayasebenarnya hanya jalan-jalan.

2. Kharisma.

Kharisma, menurut Dr. Doe Lang (pengarang buku The New Secrets of Charisma: How to Discover and Unleash Your Hidden Powers) adalah sesuatu yang memberikan daya magnet dan membuat setiap orang merasa semakin kuat, semakin berdaya, semakin indah dan semakin sukses. Kalau kita kaitkan dengan konsep Stephen R. Covey (pengarang The 7 Habits of Highly Effective People), orang berkharisma adalah orang yang memiliki “comfort zone” yang sangat luas sehingga dapat membuat orang yang berada disekitarnya terinspirasi dan teduh. Kebanyakan orang menganggap kharisma itu berhubungan dengan mistik, hampir tidak dapat didefinisikan, mereka berasumsi bahwa karakter itu bawaan sejak lahir. Sehingga apabila kita mengacu pada definisi yang di kembangkan oleh Dr. Doe Lang, pada dasarnya kunci utama dari karisma tersebut adalah menghargai orang lain secara tulus. Seseorang yang secara tulus yang mementingkan dan menghargai secara tidak langsung menunjukkan karismanya. Seringkali, jika ditanya oleh seseorang, apa sebenarnya hobi kita? Kita kesulitan menjawabnya. Lalu ditanya, apa sebenarnya bakat kita? Kita malah bingung, sebenarnya punya bakat apa ya? Ketika ditanya tentang cita-cita, malah kebanyakan orang semakin bingung, punya cita-cita apa? Hal yang sama juga terjadi, jika ditanya soal apa sesungguhnya yang menjadi keinginan kita di masa depan nanti? Banyak orang yang bingung dalam menjawabnya. Apapun itu namanya, hobi, bakat, keinginan, dan cita-cita; seringkali memang membuat kita menjadi bingung dan bimbang, bagaimana harus menjawabnya dengan benar. Kebingungan kita tersebut sebenarnya tidak bisa lepas dari kuatnya pengaruh lingkungan tempat kita berada, sejak masa kanak-kanak sampai dengan masa dewasa ini. Pada masa kecil kita, sebenarnya kita sudah punya keinginan-keinginan pribadi sendiri. Akan tetapi, pada saat kita ingin menyalurkan keinginan kita, seringkali ada hambatan dari lingkungan tempat kita berada. Hambatan lingkungan itu bisa berasal dari orang tua kita, dari teman-teman sepermainan, teman-teman sekolah ataupun dari kakek-nenek kita sendiri. Mereka semualah sesungguhnya yang menjadikan kita bingung dan bimbang dalam memahami bakat, keinginan atau cita-cita kita pada saat dewasa nanti. Pengaruh lingkungan ini begitu kuatnya, sehingga kita menjadi lebih cenderung untuk mengikuti apa yang diinginkan oleh lingkungan kita pada diri kita; diri kita akan menjadi sesuai dengan keinginan lingkungan tersebut, dan tidak menjadi diri kita sendiri. Saya sendiri pernah mengalami kejadian-kejadian, yang memaksa diri saya, mau atau tidak mau harus mengikuti atau menuruti apa yang diinginkan oleh lingkungan tempat Saya berada saat itu. Seringkali, karena kita belum mempunyai pendirian dan kepribadian kuat; maka biasanya kita mau tidak mau harus menuruti apa yang diinginkan lingkungan, dan kita juga harus melakukannya. Pada saat kita masih kecil, seringkali orang tua kita punya keinginan, agar kita bisa dan mau mengikuti keinginan mereka; misalnya, banyak orang tua menginginkan anaknya menjadi seorang dokter, atau insinyur; padahal si anak sebenarnya lebih senang di bidang seni atau yang selalu berhubungan dengan bentuk-bentuk seni. Pada gilirannya nanti, saat si anak benar-benar menjadi seorang dokter atau insinyur, biasanya dia akan merasakan ada sesuatu yang kurang pada dirinya; dan itu disebabkan oleh keinginan dirinya yang “dipendam dalam” oleh keinginan orang tuanya. Dan banyak sekali kasus demikian, sehingga pada akhirnya, si dokter atau si insinyur tersebut meninggalkan gelar dan profesinya, kemudian mulai mengikuti keinginannya yang sudah sekian lamanya dipendam oleh ambisi orang tuanya tersebut. Sehingga akhirnya dia bisa menjadi lebih sukses lagi, bahkan tidak hanya sukses dari segi materi, melainkan juga dia bisa berbahagia menikmati hidupnya sesuai dengan keinginan atau bakat dan cita-citanya sejak dia masih kecil. Pada kenyataan hidup sekarang ini, Saya bisa melihat adanya fenomena-fenomena seperti itu. Saya bisa melihat ada pelukis yang bergelar insinyur, sarjana ekonomi atau sarjana lainnya, banyak aktris atau aktor dengan gelar dokter atau sarjana hukum ataupun gelar-gelar yang lain. Banyak penyanyi menyandang gelar yang tidak sesuai dengan dunia yang digelutinya saat ini. Bahkan banyak orang menekuni sebuah profesi yang jauh sekali dari jurusan pendidikan akademisnya. Inilah suatu fenomena, yang sesungguhnya hasil dari pemaksaan keinginan lingkungan tempat hidup kita, kepada diri kita sejak masa kanak-kanak sampai dewasa ini. Untuk membentuk sebuah konsep diri secara benar, sesuai dengan siapa diri Saya sesungguhnya, dan apa yang Saya benar-benar inginkan dalam hidup ini; sebenarnya bisa Saya lakukan lagi pada saat ini. Saya sesungguhnya bisa membentuk kembali konsep diri sendiri. Saya bisa mulai membuat visi baru mengenai siapa diri Sayasebenarnya, diri Sayayang benar-benar baru dan lebih baik tentunya. Saya harus memandang diri Saya sendiri dengan sudut pandang yang benar, sudut pandang yang bisa menghargai siapa diri Saya sendiri. Sehingga, dengan melihat secara benar mengenai siapa diri sendir, maka Sayasudah melakukan langkah awal untuk menuju kepada suatu pembentukan sebuah konsep diri yang baru. Tidak ada kata terlambat, jika itu untuk suatu kebaikan bagi diri Saya sendiri. Memang bukan suatu hal yang mudah untuk membentuk konsep diri dengan benar sebagaimana keinginan sendir; hal ini disebabkan besarnya dan kuatnya pengaruh dari lingkungan sekitar . Pokok terpenting di sini adalah: Saya harus membuat sebuah konsep baru mengenai citra diri Saya sebenarnya, citra diri yang Saya impikan, yang benar-benar Saya inginkan sebagai diri Saya sesungguhnya. Selanjutnya Saya harus berpikir dan bertindak dengan kepercayaan penuh sesuai dengan apa yang menurut Saya benar mengenai siapa diri Saya sesungguhnya; sebagaimana yang sudah Saya programkan sekarang ini. Sehingga pada akhirnya pikiran bawah sadar Saya akan mengambil alih, karena hukum pikiran kita adalah hukum kepercayaan; dan pikiran bawah sadar kita itu peka dan tanggap terhadap apa saja yang kita pikirkan dengan penuh kepercayaan. Oleh karena itu pada gilirannya Saya akan berpikir dan bertindak sebagaimana konsep diri yang Saya benarkan dan Saya terima dengan rasa percaya yang membetuk keikhlasan, bahwa itu adalah diri Sayayang sejati; sehingga Sayaakan benar-benar menjadi diri sendiri sesuai dengan konsep diri yang baru itu. Hal penting yang harus diingat adalah, bahwa begitu pikiran bawah sadar sudah menerima suatu gagasan, maka dengan serta merta pelaksanaannya langsung dimulai. Bagaimana Saya sampai menempati bumi ini? Jawaban secara radikal adalah saya tidak tahu. Akan tetapi kalaupun dibuktikan secara ilmiah dan agama yang saya yakini tentu akan terjawab. Pembuktiannya sebagai berikut. Kapan saat kamu terkecil yang bisa saya ingat ? Semasa 2 tahun, 4 tahun atau ketika bayi ? ingatkah kita pada saat kita lahir ? sulit dan tidak mungkin di jawab oleh diri sendiri Kenapa kita yakin bahwa yg melahirkan kita itu “ibu” kita yg sekarang kita kenal ? Paling tidak hanya karena surat kenal lahir atau akta kelahiran. Bahkan mungkin foto kita wektu berumur beberapa hari yg di “klaim” itu adalah diri kita waktu kecil. Walaupun tanpa ada memory (ingatan di otak) dan kita percaya saja kan … apa kata nenek, om, tante dsb. Keyakinan bahwa foto itu adalah diri kita hanyalah keyakinan yg “dihembuskan” oleh pendahulu kita tanpa kita menyadarinya. Apakah kebenaran teori darwin bisa terbantahkan dengan kemajuan teknologi saat ini? Tentu sebagai seorang yang beragama saya yakini saya di ciptakan oleh TUHAN YANG MAHA ESA. Banyak orang mengatakan bahwa kalau asal manusia menurut versi agama dan versi sejarah tidak bisa dihubungkan. Agama mengatakan bahwa manusia pertama di bumi ini adalah Adam dan Hawa yang berasal dari surga (tanah?), sedangkan sejarah mengatakan bahwa manusia berasal dari kera dan berevolusi menjadi manusia. Ada pandangan bahwa Manusia ciptaan Tuhan dan manusia purba yang mirip kera yang berevolusi hidup bersamaan di jaman yang sama. Sebenarnya Tuhan tidak menciptkan manusia, melainkan manusia adalah pecahan roh dari Tuhan.

“Sungguh suatu hal yang tidak menguntungkan untuk dilahirkan sebagai manusia di alam kehidupan yang tidak abadi ini. Setiap manusia pasti akan mengalami umur tua, sakit, dan kematian. Walau demikian manusia harus bersyukur, karena ternyata dilahirkan sebagai binatang akan jauh lebih menderita” -Huan Lie-

av052_lgBy:Eryan Ariobowo (Teknik Fisika ITB)

Pada musim panas th 1989, dalam perjalanan ke pedalaman negara bagian New York, saya mulai memikirkan secara serius kemungkinan bahwa sains, sains murni, telah berakhir. Saya terbang ke Universitas Syracuse untuk mewawancarai Roger Penrose, seorang ahli fisika Inggris yang menjadi dosen tamu di sana. Sebelum bertemu Penrose, saya bergulat membaca bukunya yang padat dan rumit, “The Emperor’s New Mind”, yang secara mengagetkan menjadi bestseller beberapa bulan kemudian, setelah mendapat pujian di New York Times Book Review. Di dalam buku itu, Penrose mengamati panorama luas sains modern dan melihat kekurangannya. Menurut Penrose, pengetahuan, sekalipun sangat kuat dan kaya, tidak mungkin menjelaskan misteri eksistensi yang terakhir, yakni kesadaran manusia. Penrose berspekulasi bahwa kunci dari kesadaran mungkin tersembunyi di celah antara kedua teori utama ilmu fisika modern, yakni mekanika kuantum, yang menguraikan elektromagnetisme dan gaya-gaya nuklir, dan relativitas umum, teori Einstein tentang gaya berat. Banyak ahli fisika, mulai dengan Einstein, telah mencoba dan gagal memadukan mekanika kuantum dan relativitas umum ke dalam suatu teori “penyatuan” yang tunggal, tanpa sambungan. Di dalam bukunya, Penrose membuat sketsa tentang bagaimana kira-kira tampaknya teori penyatuan itu, dan bagaimana teori itu dapat menghasilkan pikiran. Skemanya, yang melibatkan efek-efek kuantum dan gravitasional yang eksotik, yang meresapi otak, terasa kabur, berliku-liku, tanpa didukung bukti-bukti dari ilmu fisika maupun sains syaraf. Tetapi jika kelak ternyata benar dari segi mana pun, itu akan merupakan pencapaian yang monumental, sebuah teori yang sekaligus akan menyatukan ilmu fisika dan memecahkan salah satu masalah filosofis yang paling tangguh, yakni hubungan antara jiwa dan badan. Saya pikir, ambisi Penrose itu saja sudah cukup menjadikannya tokoh yang pantas untuk diprofilkan di majalah Scientific American, yang mempekerjakan saya sebagai staf penulisnya. Ketika saya tiba di bandara Syracuse, Penrose telah menunggu saya. Ia seorang yang mirip malaikat, berambut hitam ikal, dan tampak sekaligus tidak peduli dan sangat waspada. Sementara ia mengendarai mobil yang membawa kami ke kampus Syracuse, ia terus-menerus bimbang apakah ia tidak salah jalan. Ia tampak tenggelam di dalam berbagai misteri. Saya mendapati diri saya dalam kedudukan yang menggelisahkan dengan mengusulkan agar ia berbelok ke sini dan berputar ke sana, sekalipun saya belum pernah mengunjungi Syracuse. Alhasil, sekalipun kami berdua sama-sama tidak tahu jalan, kami berhasil mencapai dengan selamat gedung tempat Penrose bekerja. Ketika memasuki kamar kerja Penrose, kami mendapati seorang rekan kerjanya meninggalkan sekaleng aerosol yang berwarna cerah bertuliskan “Superstring” di atas mejanya. Ketika Penrose memencet tombol di tutup kaleng itu, suatu bahan semacam spageti berwarna hijau meloncat dari kaleng itu melintasi ruangan. Penrose tersenyum saja melihat gurauan rekannya itu. ‘Superstring’ bukan hanya nama suatu mainan anak-anak, melainkan juga nama dari suatu partikel hipotetik yang mirip benang dan sangat kecil, yang diduga adanya dalam suatu teori fisika populer. Menurut teori itu, gerakan benang-benang ini di dalam ruang berdimensi sepuluh menghasilkan semua materi dan energi di alam semesta ini dan bahkan ruang dan waktu itu sendiri. Banyak ahli fisika terkemuka di dunia merasa bahwa teori superstring mungkin merupakan teori penyatuan yang mereka cari selama ini; beberapa di antara mereka malah menamakannya teori segala sesuatu. Penrose bukanlah termasuk orang yang percaya itu. “Itu tidak mungkin benar,” katanya. “Bukan itu jawaban yang saya harapkan.” Saya mulai menyadari, sementara Penrose berbicara, bahwa baginya ‘jawaban’ itu lebih daripada sekadar teori fisika, sekadar cara mengorganisasikan data dan meramalkan peristiwa. Ia bicara tentang ‘Jawaban Akhir’: rahasia kehidupan, jawaban terhadap teka-teki alam semesta. Penrose mengakui dirinya seorang Platonis. Para ilmuwan tidak menciptakan kebenaran; mereka menemukannya. Kebenaran-kebenaran yang sejati memancarkan keindahan, kelurusan, suatu kualitas yang terlihat jelas, yang memberinya kekuatan ilham. Menurut Penrose, teori superstring tidak memiliki sifat-sifat ini. Ia mengakui bawah “saran-saran” yang dikemukakannya di dalam “The Emperor’s New Mind”–yang belum pantas disebut ‘teori’, katanya–agak kedodoran. Mungkin saja kelak ternyata salah, bahkan hampir pasti salah di dalam detailnya. Saya bertanya, apakah dengan berkata demikian, Penrose menyiratkan bahwa pada suatu hari kelak para ilmuwan akan menemukan ‘Jawaban Akhir’, dan dengan demikian mengakhiri seluruh pencarian ini? Tidak seperti sementara ilmuwan terkemuka, yang tampak menganggap sikap berhati-hati sama dengan kelemahan, Penrose malah berpikir sejenak sebelum menjawab, dan bahkan berpikir sambil menjawab. “Saya rasa kita masih jauh,” katanya perlahan-lahan, sambil memandang keluar jendela kamar kerjanya, “tapi itu tidak berarti bahwa pada suatu tahap tertentu tidak mungkin terjadi perkembangan yang pesat.” Ia merenung lagi. “Saya rasa ini menunjuk ke arah adanya ‘jawaban akhir’,” lanjutnya, “sekalipun mungkin itu terlalu pesimistik.” Kalimatnya yang terakhir itu membuat saya tertegun. Apanya yang pesimistik kalau seorang pencari kebenaran mengira bahwa kebenaran mungkin tercapai, tanya saya. “Memecahkan misteri memang baik,” jawab Penrose. “Dan jika semua misteri telah terpecahkan, bagaimana pun juga sedikit banyak akan membosankan.” Lalu ia bergumam, seolah-olah terkejut oleh keanehan kata-katanya sendiri. Lama setelah meninggalkan Syracuse, saya merenungkan kata-kata Penrose. Mungkinkah sains berakhir? Dapatkah para ilmuwan mempelajari segala sesuatu yang dapat dipelajari? Dapatkah mereka mengenyahkan misteri dari alam semesta? Sukar bagi saya membayangkan dunia tanpa sains, dan itu bukan hanya karena pekerjaan saya bergantung padanya. Saya menjadi penulis sains sebagian besar disebabkan karena saya menganggap sains–sains murni, yakni mencari pengetahuan demi pengetahuan itu sendiri–sebagai upaya manusia yang paling mulia dan paling bermakna. Kita ada di sini untuk memahami mengapa kita ada di sini. Tujuan apa lagi yang lebih pantas bagi manusia? Saya tidak selamanya tergila-gila pada sains. Di kolese, saya melewati suatu tahap ketika kritik sastra saya lihat sebagai kegiatan intelektual yang paling menggairahkan. Namun, pada suatu larut malam, sehabis minum banyak kopi, dan menghabiskan berjam-jam menulis suatu tafsiran baru terhadap karya James Joyce Ulysses, saya mengalami krisis kepercayaan. Berbagai orang pandai telah berdebat selama berpuluh tahun tentang makna Ulysses. Tetapi salah satu pesan kritisisme modern, dan sastra modern, adalah bahwa semua naskah bersifat “ironik”; semua memiliki makna ganda, tidak satu pun definitif. Oedipus Rex, Inferno, bahkan Alkitab dalam suatu makna hanya sekadar “bercanda”, tidak perlu dianggap terlalu literal. Argumentasi tentang makna tidak pernah dapat terselesaikan, oleh karena satu-satunya makna sejati dari suatu naskah adalah naskah itu sendiri. Sudah tentu, pesan ini pun berlaku untuk para kritikus itu sendiri. Yang tinggal akhirnya adalah regresi tafsir-tafsir tanpa akhir, dan tidak satu pun darinya merupakan kata akhir. Tetapi setiap orang tetap berdebat! Untuk apa? Agar masing-masing kritikus tampak lebih cerdik, lebih menarik, daripada yang lain? Semuanya tampak tidak berarti lagi. Sekalipun bidang studi utama saya adalah bahasa Inggris, saya mengambil sekurang-kurangnya satu mata kuliah sains atau matematika setiap semester. Memecahkan soal-soal kalkulus atau fisika merupakan pergantian suasana yang menyenangkan dari tugas-tugas bidang humanities yang kacau; saya memperoleh kepuasan yang mendalam dalam menemukan jawaban yang benar dari suatu soal. Semakin saya mengalami frustrasi terhadap sudut pandang ironik dari sastra dan kritik sastra, semakin saya mengapresiasikan pendekatan sains yang lugas dan tidak omong-kosong. Para ilmuwan mampu mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan memecahkannya dengan cara yang tak dapat dilakukan oleh para kritikus, filsuf, dan ahli sejarah. Teori-teori diuji secara eksperimental, dibandingkan dengan realitas, dan yang tidak sesuai dibuang. Kekuatan sains tidak dapat dimungkiri: sains telah memberikan kepada kita komputer dan pesawat jet, vaksin dan bom termonuklir, berbagai teknologi yang, baik atau buruk, telah mengubah jalan sejarah. Sains, lebih dari modus pengetahuan lainnya–kritik sastra, filsafat, seni, agama–menghasilkan pencerahan yang lestari tentang hakikat benda-benda. Sains telah membawa kita sampai sejauh ini. Pencerahan-mini saya pada akhirnya membawa saya menjadi penulis sains. Peristiwa itu juga mewariskan kepada saya suatu kriteria sains: sains menggarap masalah-masalah yang dapat dijawab, setidak-tidaknya dalam prinsip, asal saja tersedia cukup waktu dan sumber daya. Sebelum saya bertemu dengan Penrose, saya menganggap sains itu tidak berujung, bahkan tidak terbatas. Kemungkinan bahwa para ilmuwan pada suatu hari kelak menemukan suatu kebenaran yang begitu hebat sehingga tidak memerlukan penyelidikan-penyelidikan lebih jauh saya anggap paling-paling isapan jempol, atau semacam hiperbola yang dibutuhkan untuk menjual sains (atau buku-buku sains) kepada masyarakat awam. Kesungguhan, dan ambivalensi, dari Penrose dalam mengkaji prospek suatu teori final memaksa saya menilai kembali pandangan-pandangan saya tentang masa depan sains. Sementara waktu berjalan, saya menjadi terobsesi dengan masalah itu. Apakah batas-batas sains itu, jika batas itu ada? Apakah sains tidak terbatas, ataukah ia fana seperti kita? Jika fana, apakah akhir dari sains sudah terlihat? Sudah menjelang? Setelah pembicaraan saya yang pertama dengan Penrose, saya mencari ilmuwan-ilmuwan lain yang mengadu otak mereka dengan batas pengetahuan: para ilmuwan fisika partikel, yang bermimpi tentang suatu teori terakhir dari materi dan energi; para ahli kosmologi, yang mencoba memahami secara tepat bagaimana dan kapan alam semesta kita tercipta; para ahli biologi evolusioner, yang mencoba menetapkan bagaimana asal mula kehidupan, serta hukum-hukum apa yang mengatur pemekarannya kemudian; para ahli neurosains yang meneropong proses-proses dalam otak yang menghasilkan kesadaran; para penjelajah khaos dan kompleksitas, yang berharap dengan komputer dan teknik-teknik matematis baru dapat menghidupkan kembali sains. Saya juga bicara dengan para filsuf, termasuk beberapa orang yang dikabarkan meragukan apakah sains akan pernah mencapai kebenaran yang objektif dan mutlak. Saya menulis sejumlah artikel tentang ilmuwan dan filsuf ini untuk majalah Scientific American. Ketika pertama kali saya berpikir untuk menulis sebuah buku, saya membayangkannya sebagai suatu seri potret, yang menampilkan sampai ke bisul-bisulnya, dari semua pencari kebenaran dan penolak kebenaran yang dapat saya wawancarai. Saya bermaksud menyerahkan kepada pembaca untuk menentukan sendiri, mana ramalan masa depan sains yang masuk akal dan mana yang tidak. Bagaimana pun juga, siapakah yang sungguh-sungguh tahu, apakah batas terakhir dari pengetahuan? Tetapi berangsur-angsur, saya mulai membayangkan bahwa saya tahu; saya merasa yakin bahwa satu skenario tertentu lebih mungkin ketimbang semua yang lain. Saya memutuskan untuk tidak menganut keobyektifan jurnalistik, dan menulis sebuah buku yang terang-terangan menilai, bersifat argumentatif, dan personal. Sementara tetap berfokus pada ilmuwan dan filsuf secara individual, buku ini akan menyajikan pula pandangan saya. Saya merasa pendekatan itu akan lebih sesuai dengan keyakinan saya bahwa kebanyakan pernyataan tentang batas-batas pengetahuan pada akhirnya bersifat sangat idiosinkratik (bersifat khas individual). Sekarang sudah jelas bahwa ilmuwan bukanlah sekadar mesin penghasil pengetahuan; mereka dituntun oleh emosi dan intuisi di samping penalaran dingin dan perhitungan. Saya mendapati, ilmuwan jarang menunjukkan sifat manusiawinya, begitu terombang-ambing oleh ketakutan dan keinginan mereka, seperti ketika mereka berhadapan dengan batas-batas pengetahuan. Para ilmuwan yang terbesar semata-mata berharap untuk menemukan kebenaran-kebenaran tentang alam semesta (di samping memperoleh ketenaran, hadiah, dan jabatan di perguruan tinggi, serta memperbaiki kehidupan umat manusia); mereka ingin tahu. Mereka berharap, dan percaya, bahwa kebenaran [terakhir] dapat dicapai, bukan sekadar ideal atau asimtot (pendekatan), yang mereka dekati terus-menerus. Mereka juga percaya, seperti saya juga, bahwa pencarian pengetahuan adalah kegiatan manusia yang paling mulia dan paling berarti. Ilmuwan yang menganut kepercayaan ini sering kali dituduh arogan. Beberapa memang arogan, bahkan sangat arogan. Tetapi saya mendapati, banyak yang lain yang merasa cemas alih-alih arogan. Dewasa ini adalah masa-masa sulit bagi pencari kebenaran. Kegiatan ilmiah terancam oleh kaum teknofob (orang yang fobi terhadap teknologi), pejuang hak asasi binatang, kaum fundamentalis agama, dan yang paling penting, para politisi kikir. Berbagai kendala sosial, politis, dan ekonomis membuat lebih sukar untuk mempraktekkan sains, khususnya sains murni, di masa depan. Lagipula, sains sendiri, sambil maju, selalu menetapkan batas-batas pada kekuatannya sendiri. Teori relativitas khusus Einstein melarang penyebaran materi atau bahkan informasi pada kecepatan lebih dari kecepatan cahaya; mekanika kuantum mendalilkan bahwa pengetahuan kita tentang alam mikro akan selalu tidak pasti; teori khaos menguatkan bahwa, sekalipun tanpa ketidakpastian kuantum, banyak fenomena tidak mungkin diramalkan; dalil ketidaklengkapan Kurt Goedel memustahilkan penyusunan suatu deskripsi matematis yang lengkap dan konsisten dari realitas. Dan biologi evolusioner terus-menerus mengingatkan kita bahwa kita adalah hewan, yang didesain oleh seleksi alamiah bukan untuk menemukan kebenaran-kebenaran mendalam tentang alam semesta, melainkan untuk berkembang biak. Kaum optimis, yang berpendapat bahwa mereka dapat mengatasi semua batas-batas ini, masih harus menghadapi lawan lain, mungkin yang paling merisaukan. Apakah yang akan dilakukan oleh para ilmuwan, jika mereka berhasil mengetahui apa yang dapat diketahui? Lalu, apakah tujuan hidup sesudah itu? Apa tujuan umat manusia sesudah itu? Roger Penrose mengungkapkan kecemasannya terhadap dilema ini ketika ia menyebut impiannya tentang suatu teori terakhir sebagai pesimistik. Menghadapi masalah-masalah yang menggelisahkan ini, tidak heran bila banyak ilmuwan yang saya wawancarai untuk buku ini tampak tercekam oleh kebimbangan yang mendalam. Tetapi malaise mereka, menurut saya, mempunyai akar lain yang lebih langsung. Jika kita peracya akan sains, kita harus menerima kemungkinan–atau kemungkinan besar–bahwa zaman penemuan sains yang besar telah lewat. Yang saya maksud dengan sains bukanlah sains terapan, melainkan sains yang paling murni dan paling besar, yakni upaya primordial manusia untuk memahami alam semesta dan tempat kita di dalamnya. Penelitian lebih jauh mungkin tidak akan memberikan lagi pencerahan dan revolusi besar, melainkan sekadar hasil-hasil tambahan yang makin lama makin kecil. Kecemasan Pengaruh Ilmiah Dalam mencoba memahami suasana hati para ilmuwan modern, saya mendapati bahwa ide-ide dari kritik sastra dapat dimanfaatkan. Dalam esainya pada th 1973 yang berpengaruh, “The Anxiety of Influence” (Kecemasan Pengaruh), Harold Bloom menyamakan penyair modern dengan Setan dalam karya Milton, “Paradise Lost”. Seperti Setan yang berjuang untuk menampilkan individualitasnya dengan menantang kesempurnaan Tuhan, begitu pula penyair modern terlibat pergulatan seperti Oedipus untuk menemukan jatidirinya dalam hubungannya dengan Shakespeare, Dante, dan para master besar lainnya. Upaya itu mau tidak mau akan sia-sia, kata Bloom, karena tidak ada penyair bisa berharap untuk mendekati, apalagi melampaui, kesempurnaan para pendahulu itu. Semua penyair modern pada dasarnya adalah tokoh-tokoh tragis, pendatang belakangan. Para ilmuwan modern pun pendatang belakangan, dan beban mereka jauh lebih berat ketimbang para penyair. Para ilmuwan tidak hanya harus menerima “King Lear” dari Shakespeare, tapi juga hukum-hukum gerak dari Newton, teori seleksi alamiah dari Darwin, dan teori relativitas umum dari Einstein. Teori-teori ini bukan hanya indah; mereka juga benar, benar secara empiris, sedemikian rupa tidak dapat ditiru oleh suatu karya seni. Kebanyakan peneliti terpaksa mengakui ketidakmampuan mereka untuk melampaui apa yang oleh Bloom disebut “kejengahan suatu tradisi yang sudah menjadi begitu kaya sehingga tidak membutuhkan apa-apa lagi.” Mereka mencoba memecahkan apa yang secara merendahkan disebut oleh filsuf ilmu Thomas Kuhn sebagai “teka-teki” (puzzles), yakni problem-problem yang pemecahannya sekadar mendukung paradigma yang ada (tidak menghasilkan paradigma baru). Mereka sekadar memperhalus dan menerapkan temuan-temuan rintisan yang brilyan dari para pendahulu mereka. Mereka mencoba mengukur massa quark dengan lebih teliti, atau menetapkan bagaimana suatu bagian tertentu dari DNA menuntun perkembangan otak embrionik. Sedangkan yang lain menjadi apa yang dilecehkan oleh Bloom sebagai “sekadar pemberontak, penjungkir-balik kekanak-kanakan dari kategori-kategori moral konvensional.” Para pemberontak ini mengecilkan arti teori-teori ilmiah yang dominan sebagai rekayasa sosial yang rapuh, alih-alih sebagai deskripsi dari alam yang teruji secara ketat. Apa yang oleh Bloom disebut “penyair kuat” menerima kesempurnaan para pendahulu mereka, namun berupaya melampauinya dengan berbagai muslihat, termasuk penyalahtafsiran secara halus terhadap karya-karya pendahulu mereka; hanya dengan demikian para penyair modern dapat membebaskan diri dari pengaruh masa lampau yang melumpuhkan. Terdapat pula para “ilmuwan kuat”, yakni mereka yang mencoba menyalahtafsirkan, dan dengan demikian mengatasi, mekanika kuantum atau teori “big bang” atau evolusi Darwin. Roger Penrose adalah seorang ilmuwan kuat. Untuk sebagian besar, ia dan orang-orang lain sejenisnya hanya mempunyai satu pilihan: yakni menjalankan sains dengan cara yang spekulatif, pasca-empiris, yang saya sebut “sains ironis”. Sains ironis menyerupai kritik sastra dalam hal menyajikan sudut pandang-sudut pandang, opini-opini, yang setidak-tidaknya menarik, yang merangsang komentar lebih lanjut. Tetapi sains ironis tidak mendekat kepada kebenaran. Ia tidak dapat mencapai kejutan-kejutan yang dapat dibuktikan secara empiris, yang memaksa para ilmuwan mengadakan perbaikan penting dalam deskripsi mereka tentang realitas. Strategi yang paling sering dipakai oleh kaum ilmuwan kuat adalah menampilkan semua kelemahan dari pengetahuan ilmiah yang ada sekarang, semua pertanyaan yang belum terjawab. Tetapi pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak akan pernah terjawab secara definitif oleh karena keterbatasan sains manusiawi. Bagaimana persisnya alam semesta ini tercipta? Mungkinkah alam semesta kita merupakan satu saja dari sejumlah alam semesta yang tak terbatas banyaknya? Mungkinkah quark dan elektron terdiri dari partikel-partikel yang lebih kecil lagi, dan seterusnya ad infinitum? Apakah makna sesungguhnya dari mekanika kuantum? (Kebanyakan pertanyaan tentang makna hanya dapat dijawab secara ironis, sebagaimana diketahui dalam kritik sastra.) Biologi juga mempunyai teka-tekinya sendiri yang tak terpecahkan. Bagaimana persisnya kehidupan mulai di bumi? Apakah terjadinya kehidupan dan perjalanan evolusinya seperti yang kita lihat ini bersifat niscaya (tidak mungkin ada alternatif lain)? Pelaku sains ironis mempunyai satu kelebihan dibandingkan penyair kuat: yakni selera pembaca awam terhadap “revolusi” ilmiah. Sementara sains empiris membatu, para jurnalis seperti saya, yang memuaskan kehausan masyarakat, akan mengalami tekanan yang semakin berat untuk menampilkan teori-teori yang dianggap melampaui mekanika kuantum atau teori “big bang” atau seleksi alamiah. Bagaimana pun juga, para jurnalislah yang sebagian besar bertanggung-jawab bagi terciptanya kesan populer bahwa bidang-bidang seperti khaos dan kompleksitas mewakili sains baru yang lebih tinggi daripada metode reduksionis dari Newton, Einstein, dan Darwin. Para jurnalis, termasuk saya, telah membantu ide-ide tentang kesadaran dari Roger Penrose diterima oleh kalangan yang jauh lebih luas dari yang sepatutnya, menilik kedudukannya yang lemah di kalangan ahli neurosains profesional. Saya tidak bermaksud menyiratkan bahwa sains ironis tidak punya nilai. Jauh dari itu. Setidak-tidaknya, sains ironis, seperti juga seni dan filsafat yang besar, atau bahkan kritik sastra, membangkitkan kekaguman dalam diri kita; ia memelihara ketakjuban kita di hadapan misteri alam semesta. Tetapi ia tidak dapat mencapai cita-cita mengatasi kebenaran yang telah kita miliki. Dan jelas ia tidak bisa memberikan kepada kita–malah, ia melindungi kita dari–”Jawaban Terakhir”, yakni suatu kebenaran yang begitu kuat sehingga melenyapkan keingintahuan kita untuk selama-lamanya. Bagaimana pun juga, sains sendiri mendalilkan bahwa kita sebagai manusia selamanya harus puas dengan kebenaran-kebenaran sebagian. Di dalam sebagian besar dari buku ini, saya akan memeriksa sains seperti yang dipraktekkan pada hari ini, oleh manusia. (Bab 2 membahas filsafat.) Dalam dua bab terakhir, saya membahas kemungkinan–yang dikemukakan oleh ilmuwan dan filsuf yang jumlahnya mengejutkan–bahwa pada suatu hari kelak kita manusia akan menciptakan mesin yang cerdas yang dapat mengatasi pengetahuan kita yang kerdil. Dalam versi favorit saya tentang skenario ini, mesin-mesin akan mengubah seluruh kosmos ini menjadi jaringan pemroses informasi yang terpadu. Semua materi menjadi batin. Jelas, proposal ini bukan sains, melainkan impian indah. Namun itu mengangkat sejumlah pertanyaan menarik, pertanyaan yang biasanya dibahas oleh para ahli teologi. Apakah yang akan dilakukan oleh sebuah komputer kosmik yang mahakuasa? Apakah yang akan dipikirkannya? Saya hanya dapat membayangkan satu kemungkinan. Ia akan mencoba menemukan “Jawaban Terakhir”, jawaban yang tersembunyi di balik semua pertanyaan, seperti seorang aktor yang memainkan semua peran dari suatu lakon: Mengapa ada, dan bukan tidak ada? Di dalam upayanya menemukan “Jawaban Terakhir” terhadap “Pertanyaan Terakhir”, batin universal itu mungkin menemukan batas terakhir dari pengetahuan. *) Diterjemahkan dari John Horgan, “The End of Science: Facing the Limits of Knowledge in the Twilight of Scientific Age”, 1997,

plato1Satu hari, Plato bertanya pada gurunya, “Apa itu cinta? Bagaimana saya bisa menemukannya? Gurunya menjawab, “Ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta” Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun. Gurunya bertanya, “Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?” Plato menjawab, “Aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik)”. Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut. Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwasanya ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya” Gurunya kemudian menjawab ” Jadi ya itulah cinta” Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya, “Apa itu perkawinan? Bagaimana saya bisa menemukannya?” Gurunya pun menjawab “Ada hutan yang subur didepan saja. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan” Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa pohon. Pohon tersebut bukanlah pohon yang segar/ subur, dan tidak juga terlalu tinggi. Pohon itu biasa-biasa saja. Gurunya bertanya, “Mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu?” Plato pun menjawab, “sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi dikesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya” Gurunyapun kemudian menjawab, “Dan ya itulah perkawinan” CATATAN – KECIL : Cinta itu semakin dicari, maka semakin tidak ditemukan. Cinta adanya didalam lubuk hati, ketika dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih. Ketika pengharapan dan keinginan yang berlebih akan cinta, maka yang didapat adalah kehampaan… tiada sesuatupun yang didapat, dan tidak dapat dimundurkan kembali. Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur.

logonewAbstract

( Master Thesis in Marine Science Departement, UNIVPM Ancona Italy)

Coral reef ecosystems benefit millions of people around the world. Coral reefs buffer coastal communities against ocean storms, provide a ready supply of animal protein, and harbor organisms with pharmaceutical properties. Bunaken National Park (BNP) encompasses 89,056 hectares of land and sea area, divided into a southern mainland section (the Arakan-Wowontulap coast, protected primarily for its old-growth mangrove forests and dugong population) and a northern island section (including five islands with its fringing coral reefs and a mainland section). This study was designed to examine differences in Morphologic Coastal Platform use between Coral Reef Distribution around Siladen Island. The specific objectives were to (1) Identify reef morphology along Siladen Island coastlines. (2) Identify Coral Reef distribution according each profile measurement. (3) Identify and analyze the surface sediment on the Siladen Islands. As for result of which is studied to be divided to the three part of that is: Reef morphology, Sediment characterized, and Coral reef cover in four (4) transect around Siladen Island. Coral reef ecosystems, the most varied on earth, continually face destruction from anthropogenic and natural threats. Following shallow-water classifications, presented here are new methods, based on acoustic data, for classifying benthic terrain below 30m, around Siladen Island, North Sulawesi. This study uses high-resolution single beam bathymetry, bathymetric derivatives, 3D visualization, and in situ data in a Geographic Information System (GIS). The results introduce a new classification scheme that may be suitable for developing habitat maps pinpointing high biodiversity around coral reefs. From result indicate that morphology is long of reef part of Siladen island east is longest, that is 439.2 meter and short part of south that is: 197.5 meter. While, for the reef classification indicate that generally the condition of hard corals distribution is good around Siladen Island, only of North Siladen island indicates is poor condition that is only 5 %. Hereinafter, sediment composition some location in Siladen island, for mean grain size varying between fine sand until very fine gravel. While, result of got for the sorting of to vary between poorly sorted until well sorted.

ADDITIONAL INDEX WORDS: Coral Reef, BNP, Morphologic, Single Beam, Biodiversity

(M.Sc Student in Master Knowledge and Management Coral Reef Biodiversity, UNIVPM Ancona Italy)

Older Posts »