Studi tentang kondisi Hidro-Oseanografi dan Bathimetri Pantai Bajo – Popareng, Kabupaten Minahasa Selatan

4 05 2008

Abstract
Important to management of coastal area, drawn by destroying of almost most its good coastal area and also existence form unfold its nature. This study aim, to study physical parameter like sea current, tidal and bathymetry in coast of Bajo and Popareng . From result of research, surface current distribution has speed 0.01 - 0.9 m / sec in 18 experiment sample. While, maximum current (Umax) measured at deepness 0.8d is equal to 0.60 m/sec. Hereinafter, tidal type from result of tidal harmonic analysis during 15 days observation shown by ratio of Formzahl is 0.40 interpreted as semi-diurnal tide, that is one day there are twice high water and twice low tide. Furthermore, information about bathymetric survey at Bajo and Popareng beach, deepness variation shown with coastal morphology identified from 49 profiles follow the example of steep and sloping coast.
Key words: coastal, harmonic analysis, Formzahl index, Bathymetri, morphology

1. Pendahuluan.

Pemanfaatan dan pengelolaan wilayah pesisir pada satu dasawarsa terakhir menjadi perhatian, dimana telah terjadi degradasi lingkungan pesisir besar - besaran seperti erosi pantai dan rusaknya ekosistem wilayah pesisir (mangrove, terumbu karang dan estuaria). Pengrusakan Daerah Aliran Sungai (DAS), turut memicu terjadinya penumpukan sedimen di muara sungai (pengendapan) sehingga menyebabkan wilayah pesisir menjadi sangat rentan dan ringkih. Pemahaman pentingnya pengelolaan wilayah pesisir membutuhkan pananganan yang berkelanjutan (Sustainable), salah satu aspek lingkungan yang penting untuk di ketahui agar pengelolaan sumberdaya dapat dilaksanakan dengan tepat adalah dengan memahami dinamika perairan. Hal ini disebabkan karena perairan berupa fluida tidak mengenal batas administrasi atau ekologi, sehingga jika diperairan disuatu lokasi tercemar maka dampaknya akan tersebar di wilayah sekitar. Dampak tersebut dapat di atasi atau di cegah dengan mengetahui pola gerakan massa airnya. Dinamika perairan tersebut dapat diketahui dengan mengenal parameter-parameter oseanografi perairan yang di maksud (Pariwono, 2002). Perairan pantai Bajo – Popareng merupakan bagian dari Teluk Amurang, adalah perairan yang banyak di manfaatkan oleh masyarakat setempat sebagai daerah perikanan tangkap (fishing ground), budidaya (mariculture), transportasi (transportation), dan juga sebagai daerah wisata (tourism). Perairan lautnya sebagian masuk di dalam wilayah Taman Nasional Bunaken yaitu di perairan Popareng yang berbatasan langsung dengan wilayah perairan pantai Bajo. Berbagai kegiatan tersebut akan menyebabkan peningkatan jumlah bahan pencemar serta pengaruh terhadap kondisi eksisting alamiah pantai. Dengan dasar pemikiran tersebut maka perlu dilakukan kajian kondisi hidro-oseanografis dan bathimetri pantai Bajo dan Popareng untuk keperluan perencanaan pengelolaan wilayah pesisir Kabupaten Minahasa Selatan. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji parameter fisik perairan seperti Arus Laut (Sea Current) dan Pasang Surut (Tide), juga mengkaji bentuk bentang alam pesisir (coastal morphology) dengan melakukan pengukuran kedalam laut (bathimetri).
2. Metodologi

2.1 Wilayah Studi
Perairan pantai Bajo dan Popareng berada di bagian dalam Teluk Amurang yang memanjang dari arah selatan ke utara sepanjang  5 km adapun posisi geografis wilayah pesisirnya adalah 10 16’13.63” LU dan 124034’22.79” BT sampai 10 16’47.26” LU dan 124032’15.76” (Gambar 1). Secara administratif, Desa Bajo dan Popareng masuk dalam wilayah kecamatan Tatapaan. Wilayah ini adalah merupakan hasil pemekaran dari kecamatan Tumpaan pada tahun 2004 di Kabupaten Minahasa Selatan.
Gambar 1. Lokasi Penelitian Pantai Bajo Popareng di Teluk Amurang (Sumber : Peta Bakosurtanal, 1991)

2.2 Teknik Pengkuran dan Analisis Data
Pengukuran arus laut dan pasang surut dilakukan bersamaan, dimana untuk arus pasang surut dilakukan pengukuran pada titik on shore dan off shore. Pengukuran arus laut digunakan current meter type Flow Probe Global waters 101, dengan sistem computerized di dalam mencatat kecepatan maksimum (max velocity) dan kecepatan rata-rata (average velocity) dalam meter/jam (mph). Sedangkan untuk arah arus di gunakan floater (pengapung) dengan kompas sebagai penunjuk arah. Pengambilan data arus dilakukan pada setiap titik sampling dengan tiga kedalaman ukur yaitu 0.2 d, 0.6 d dan 0.8 d (Poerbandono dan Junarsah, 2005). Selanjutnya untuk menganalisis data arus adalah menghitung arus maksimum berdasar pada rumus yang di kembangkan oleh Knauss dalam Poerbandono dan Junarsah (2005) yaitu:

dimana: umax = kecepatan maksimum arus pasut (m/det), A = amplitudo pasut, g = akselerasi karena gravitasi bumi dan d = kedalaman perairan. Sebaran arus permukaan di gunakan metode langrangian (Thomson et all, 1981) yaitu dengan melakukan pengukuran arus pada setiap titik ukur (sampling) yang di tetapkan terlebih dahulu dengan menggunakan GPS type Garmin C60. Pemetaan sebaran arus permukaan (surface current dispersion) digunakan perangkat lunak Surfer 8.0 dengan metode kriging.
Pengamatan pasang surut laut dilakukan 14 dan 29 hari bulan (piantan – lunar days) secara terus menerus, data-data hasil pengukuran disajikan dalam bentuk komponen harmonik pasang surut yang di analisis dengan metoda admiralty (Pariwono, 1996). Penerapan metoda admiralty ini dimaksudkan untuk observasi data-data harian pendek. Data-data harian pasang surut kemudian di analisa konstanta harmonik pasang surut dimodelkan dengan persamaan (Poerbandono dan Junarsah, 2005):

Dengan yb = tinggi muka air laut saat t, Ab = amplitudo pasut,  = kecepatan sudut (2f, t = waktu dan  = keterlambatan fase. Untuk analisa tipe pasut (Nisbah Formzahl) di lokasi penelitian digunakan persamaan (Defant dalam Poerbandono dan Junarsah, 2005) yang dinyatakan dengan:
Dimana, berdasarkan nisbah Formzahl dapat dikelompokkan kedalam tipe pasut dengan bentuk nilai 0 < F < 0,25 adalah pasut harian ganda murni, 0.25 < F < 1.5 Campuran berganda, 1.5 < F < 3 Campuran tunggal dan F > tunggal murni. Adapun pengamatan pasang surut di gunakan rambu ukur (tide pole) dengan skala cm .
Pemeruman atau bathimetri, prosedur pelaksanaanya dengan mengikuti IHO standarts for Hydrographics Survey ( Djunarsjah, 2001). Pelaksanaan pemeruman di gunakan video-sounder merek eagle 128, sedangkan posisi geografis menggunakan GPS Garmin C60 dengan proyeksi Universal Transverse Mercator (UTM) dan ellipsoid WGS 84. Disain lajur pemeruman (sounding line), dibuat sedemikian rupa sehingga memudahkan pada saat pengukuran kedalaman di titik-titik fiks perum, biasanya yang di gunakan dalam lajur sounding adalah arah tegak lurus pantai. Oleh Hydrographic Department (1983), untuk hasil pengukuran garis pantai (shoreline map), koordinat titik fix serta kedalaman terukur (z-ukur), kedalam transducer (z-trans), pasut (z-pasut) disajikan dalam bentuk table. Kedalaman terukur dihitung dengan bilangan koreksi pasang dan transduser yang di set sedalam 30 cm selama pengukuran berlangsung. Adapun harga kedalaman terkoreksi adalah:

Hplot = h ukur + h transduser – h pasut
Dimana: Hplot = kedalaman terkoreksi, yaitu harga kedalaman laut dari MSL, H ukur = kedalaman laut saat sounding, H transduser = kedalaman transduser, H pasut = tinggi muka air dari MSL, saat sounding.

3. Hasil dan Pembahasan

3.1 Kondisi Arus Laut dan Pasang Surut Pantai Bajo Popareng.

Pengukuran arus laut di lakukan pada 20 titik sampel (tabel 1.), dari pengukuran tersebut tergambar bahwa pada

Tabel 1. Data distribusi kecepatan arus (m/det) dan arah (derajad) di perairan Bajo dan Popareng

No. Posisi Geografis Kecepatan Arus
Utara Timur Kec. (m/det) Arah (derajad)
1 670867.297996 141374.191401 0.03 320
2 671168.56323 141294.612084 0.04 10
3 671509.618581 141129.768624 0.01 45
4 670850.245046 141152.505789 0.08 30
5 671171.40549 141186.61108 0.07 320
6 671484.03946 140976.293899 0.08 300
7 671751.199098 141018.925665 0.06 20
8 671719.935762 140771.660628 0.07 360
9 672140.57043 140828.503389 0.05 20
10 672146.254646 140618.185903 0.5 30
11 672453.2044 140555.659231 0.7 120
12 672470.257046 140368.07891 0.3 230
13 672802.785921 140558.501186 0.08 330
14 672603.83717 140217.44614 0.04 300
15 673530.370343 140513.02716 0.03 340
16 673538.896514 140254.393692 0.06 60
17 673928.267846 140549.974711 0.07 90
18 673922.58363 140154.919164 0.9 90
19 674184.059358 140834.187604 0.1 300
20 674400.06106 140177.656329 0.3 300

Dari tabel 1, dapat di lihat bahwa pada titik pengukuran 18 atau pada posisi geografis 674184.059358 utara dan 140834.187604 timur, kecepatan arus terukur maksimum adalah adalah 0.9 m/det dengan arah 900. sebaliknya pada titik pengukuran 3 dengan posisi geografis 671509.618581 utara dan 141129.768624 timur, kecepatan arus terukur minimum adalah 0.01 m/det dengan arah 450. Distribusi arus permukaan pada lokasi penelitian arah dan kecepatannya bervariasi menurut titik-titik pengukuran, pada gambar 2, hasil analisis perangkat lunak Surfer 8.0, dengan gridding method: natural neighbor, terlihat bahwa arus yang berada di perairan popareng dominan dipengaruhi oleh aliran massa air dari luar teluk Amurang, sedangkan arus yang masuk dari perairan Bajo akan membentur tanjung Koyakat dengan massa aliran akan berputar ke arah timur tidak masuk ke perairan Popareng akan tetapi keluar menuju teluk Amurang. Pada sisi yang lain aliran arus menuju perairan Bajo dari tanjung Koyakat (arus dari timur ke barat), kondisi ini menunjukkan adanya coastal circulation cell (Kumaat, 2007), yang mana pada setiap bilik-bilik pelataran daerah pantai (coastal shore platform) memiliki segmen-segmen tersendiri (Sunarso, 1996), ini dapat di lihat pada peta distribusi arus permukaan terbagi ke dalam tiga (3) segmen sirkulasi pantai yaitu : segmen dari muara sungai popareng sampai tanjung koyakat, segmen yang kedua dari tanjung koyakat sampai dengan tanjung Bajo, sedangkan segmen yang ketiga adalah sirkulasi pantai yang terjadi di lesuk Bajo. Hal ini, merupakan fenomena tersendiri bahwa dalam luasan areal sempit ( 5 km), pelataran pantai menunjukkan adanya dinamika fluida yang bervariasi menurut pola arus yang terjadi. Selanjutnya untuk arus maksimum, yang adalah merupakan perbandinan dari amplitudo pasang surut dilokasi studi (A), gaya grafitasi bumi (g) dan kedalaman ukur (d).
Tabel 2. Hasil analisis arus maksimum pantai Bajo Popareng setiap kedalaman

Lokasi Kecepatan arus (m/det)
On - Shore Off - Shore
0.2 0.6 0.8 0.2 0.6 0.8
Bajo dan Popareng 0.50 0.45 0.53 0.40 0.30 0.60

Gambar 2. Peta distribusi arus laut di pantai Bajo dan Popareng

3.2. Pasang Surut di Pantai Bajo dan Popareng

Kondisi pasang surut di pantai Bajo dan Popareng menunjukkan pola yang sama dengan pantai-pantai lainnya di pesisir Sulawesi Utara yaitu tipe campuran condong ke harian ganda. Elevasi pasang surut yang terjadi di analisis dengan menggunakan metode konstanta harmonik untuk mendapatkan 10 konstanta yang umum di pakai di dalam menganalisis tipe pasang surut. Hasil analisis harmonik pasang surut, dapat di tunjukkan pada tabel berikut ini:

Tabel 3. Hasil analisis harmonik pasang surut di pantai Bajo dan Popareng

Lokasi Komponen Pasang Surut (cm)
So M2 K2 N2 K1 O1 M4 Ms4 K2 P1
Bajo Popareng 116,3 29,2 43,1 9,6 9,0 20,2 0,5 0,8 9,9 3,0

Sedangkan, nisbah formzahl adalah:
Yang berarti, pantai Bajo dan Popareng memiliki tipe pasang surut bersifat campuran dengan tipe ganda yang menonjol. Oleh karena itu, di dalam satu hari periode pasang dan surut terjadi dua kali pasang dan dua kali surut. Hasil pengukuran pasang surut dapat di lihat pada gambar 3 berikut ini.

Gambar 3. grafik elevasi harian pasang surut di pantai Bajo Popareng

Tunggang pasut atau tinggi pasut yang terbaca pada setiap pengamatan menunjukan perebedaan dari hari ke hari dan ini berlaku pada semua tempat (perairan), keadaan yang di tunjukkan pada tabel 3, ini apa yang disebut dengan ketidaksamaan (inequality). Ketidaksamaan tunggang pasut ini di sebabkan oleh beberapa faktor yaitu (Dishidros dalam Tilaar 1993): perubahan lintang bulan terhadap bumi, perubahan fase (umur) bulan, perubahan jarak antar bumi dan bulan dan perubahan deklinasi dari bulan.

3.3. Bathimetri di Pantai Bajo Popareng
Hasil survey bathimetri di pantai Bajo Popareng di lakukan sounding dengan panjang pantai  5 km, di mulai dari sungai popareng kemudian dilakukan pemeruman dengan menggunakan lajur yang sudah ditentukan terlebih dahulu, pada setiap titik fiks (titik tetap) diambil koordinat geografi (x dan y) bersamaan dengan titik kedalaman (z). Pemeruman, sepanjang lajur yang sudah ditetapkan bolak balik dengan kedalaman maksimum adalah  20 m.

Tabel 4. Hasil Analisis Kemirigan Lereng setiap transek/profil di Pantai Bajo – Popareng

Nomor Nama Profil Kemiringan (%) Keterangan
1 Section Popareng - 1 5.42 Curam
2 Section Popareng – 2 4.69 Curam
3 Section Popareng – 3 6.82 Curam
4 Section Popareng – 4 6.69 Curam
5 Section Popareng – 5 7.46 Curam
6 Section Popareng – 6 7.62 Curam
7 Section Popareng – 7 8.76 Curam
8 Section Popareng – 8 9.99 Curam
9 Section Popareng – 9 10.73 Curam
10 Section Popareng – 10 8.28 Curam
11 Section Popareng – 11 8.18 Curam
12 Section Popareng – 12 11.04 Curam
13 Section Popareng – 13 8.75 Curam
14 Section Popareng – 14 9.85 Curam
15 Section Popareng – 15 9.41 Curam
16 Section Popareng – 16 10.13 Curam
17 Section Popareng – 17 5.55 Curam
18 Section Popareng – 18 5.26 Curam
19 Section Bajo – 1 7.11 Curam
20 Section Bajo – 2 7.84 Curam
21 Section Bajo – 3 11.12 Curam
22 Section Bajo – 4 12.58 Curam
23 Section Bajo – 5 12.75 Curam
24 Section Bajo – 6 9.26 Curam
25 Section Bajo – 7 6.76 Curam
26 Section Bajo – 8 5.88 Curam
27 Section Bajo – 9 5.80 Curam
28 Section Bajo – 10 5.04 Curam
29 Section Bajo – 11 4.55 Curam
30 Section Bajo – 12 3.67 Curam
32 Section Bajo – 13 2.96 Curam
33 Section Bajo – 14 4.86 Curam
34 Section Bajo – 15 13.46 Curam
35 Section Bajo – 16 10.57 Curam
36 Section Bajo – 17 15.82 Curam
37 Section Bajo – 18 14.61 Curam
38 Section Bajo – 19 10.00 Curam
39 Section Bajo – 20 4.99 Curam
40 Section Bajo – 21 2.84 Curam
41 Section Bajo – 22 1.28 Landai
42 Section Bajo – 23 2.37 Curam
43 Section Bajo – 24 3.45 Curam
44 Section Bajo – 25 5.33 Curam
45 Section Bajo – 26 6.93 Curam
46 Section Bajo – 27 4.51 Curam
47 Section Bajo – 28 4.68 Curam
48 Section Bajo – 29 3.70 Curam
Dari hasil analisis kemiringan lereng di dapat bahwa variasi lereng di pantai Bajo Popareng antara 1.28 % - 14.61 % , terdefinisikan sebagai pantai landai sampai curam. Dari 48 profil pantai yang diambil sebagai transek untuk pengukuran profil pantai, sebanyak 47 profil pantai teridentifikasi sebagai pantai curam sedangkan satu profil pantai yang berada di pantai Bajo teridentifikasi sebagai pantai landai. Hal ini di tandai dengan adanya terumbu yang menjorok kearah laut. Variasi morfologi pantai Bajo – Popareng adalah merupakan proses geologi yang panjang di mana perubahan bentuk bentang alam pesisir sangat di pengaruhi oleh faktor-faktor hidrodinamika air laut. Di pantai Popareng banyak terdapat batuan magmatik terhamapar di sebagian pantainya bercampur dengan sedimen pasir (coasrse sand). Mendandakan bahwa pengaruh daratan memiliki peran terhadap perubahan morfologi pantai.

Gambar 4.a Model 3D Bathimetri desa Bajo Popareng Kecamatan Tatapaan, Kabupeten Minahasa Selatan;
Gambar 4.b Peta Bathimetri (2D) desa Bajo dan Popareng Kecamatan Tatapaan, Kabupaten Minahasa Selatan

4. Kesimpulan dan Saran

4.1 Kesimpulan
Kondisi hidro-oseanografi pantai Bajo – Popareng adalah merupakan satu kesatuan dengan kondisi yang ada di Teluk Amurang, dari hasil pengukuran dan analisis data di temukan bahwa arus laut maksimum dengan kecepatan 0.60 cm/det di kedalaman 0.8 d didaerah off-shore. Sedangkan, distribusi arus permukaan terukur bervariasi antara: 0.01 – 0.9 m/det yang di ambil dari 18 titik disekitar perairan Bajo dan Popareng. Tipe pasang – surut yang terukur dari analisa nisbah Formzhal adalah 0.40, adalah merupakan tipe pasang surut semi-diurnal yang diartikan bahwa dalam satu hari siklus pasang surut terjadi dua kali pasang (air naik) dan dua kali air surut (air turun). Selanjutnya, dari hasil survey bathimetri sepanjang  5 km panjang garis pantai dari desa Bajo sampai dengan desa Popareng di tunjukkan dengan variasi kemiringan lereng antara: 1.28 – 15.82 % yang didefinisikan sebagai pantai landai sampai curam dari 49 transek yang di ambil sebagai profil contoh.

4.2 Saran
Pentingnya data-data hidro-oseanografi dipakai di dalam perencanaan wilayah pesisir berkelanjutan dimana, proses hidrodinamika air laut dapat di manfaatkan untuk mengetahui sirkulasi arus yang dapat berperan di dalam pengangkutan sedimen dan bahan-bahan cemar (polluted material). Selain itu, bentuk bentang alam yaitu keadaan bathimetri pesisir pantai Bajo dan Popareng bervariasi sehingga berpotensi di dalam pengebangan budidaya air laut (mariculture). Adapun data hidrooseanografi dan bathimetri ini adalah merupakan informasi awal di dalam perencanaan pembangunan wilayah pesisir secara berkelanjutan, oleh karena itu; perlu adanya kajian secara komprehensif dan holistik untuk memenuhi model dimensi fisik yang sudah dilakukan. Yang perlu dipertimbangkan disini adalah, bahwa wilayah pesisir di Bajo dan Popareng keadaan bio-fisiknya secara kasat mata berpotensi untuk di kembangkan sebagai daerah eko-wisata (eco-tourism), pengembangan budidaya (tambak dan jaring apung) serta berpotensi untuk dijadikan daerah pengembangan alternatif untuk industri perikanan di Kabupaten Minahasa Selatan. Akan tetapi, perlu adanya dukungan perangkat hukum dan regulasi yang baik untuk kearah pembangunan wilayah pesisir berkelanjutan di Kabupaten Minahasa Selatan.
Daftar Pustaka

Djunarsjah, 2001. Standart Survei (Baru) Dalam Survei Hidrografi. Proceedings Forum Ilmiah Tahunan ISI, Surabaya, 5 – 6 Nopember 2001. 8 Halaman.

Hydrographic Department ,1983. Standar Ketelitian Survey Hidrografi, Jawatan Hidro – Oseanografi TNI – AL, Jakarta. 10 Halaman

Kumaat. J.Ch, 2007. Analisis Karakteristik Morfodinamika Pelataran Pantai di Teluk Belang, Kabupaten Minahasa Selatan. Penelitian Mandiri. Unpublishshed. 6 Halaman.

Pariwono, 2002. Kondisi Oseanografi Perairan Pesisir Teluk Lampung. Proyek Pesisir Publication, Tecnical Report (TE-99/12-I). Coastal Resources Centre, University Rhode of Island. Jakarta, Indonesia. 28 Halaman.

Poerbandono dan Junarsah, 2005. Survei Hidrografi. PT. Refika Aditama. Bandung. Cetakan Pertama. 45 Halaman.

Sunarso, 1996. Geomorfologi Pantai. Jurusan Geografi. Universitas Gajah Mada. 50 Halaman

Tilaar, 1993. Pengukuran dan Analisa Pasang Surut di Sulawesi Utara dengan menggunakan perangkat lunak TIDES. Fakultas Perikanan. Universitas Sam Ratulangi. 70 Halaman.





Karakteristik Gugusan Pulau Kecil (Archipelagic Islands) di Kabupaten Kepulauan SITARO

21 04 2008

Pengantar.

Kawasan pulau-pulau kecil memiliki potensi sumberdaya alam dan jasa lingkungan yang tinggi dan dapat dijadikan sebagai modal dasar pelaksanaan pembangunan Indonesia di masa yang akan datang. Kawasan ini menyediakan sumberdaya alam yang produktif seperti terumbu karang, padang lamun (seagrass), hutan mangrove, perikanan dan kawasan konservasi. Pulau-pulau kecil juga memberikan jasa lingkungan yang besar karena keindahan alam yang dimilikinya yang dapat menggerakkan industri pariwisata bahari. Dilain pihak, pemanfaatan potensi pulau-pulau kecil masih belum optimal akibat perhatian dan kebijakan Pemerintah selama ini yang lebih berorientasi ke darat (land based oriented). Pengembangan kawasan pulau-pulau kecil merupakan suatu proses yang akan membawa suatu perubahan pada ekosistemnya. Perubahan-perubahan tersebut akan membawa pengaruh pada lingkungan. Semakin tinggi intensitas pengelolaan dan pembangunan yang dilaksanakan berarti semakin tinggi tingkat pemanfaatan sumberdaya, maka semakin tinggi pula perubahan-perubahan lingkungan yang akan terjadi di kawasan pulau- pulau kecil. Pulau-pulau kecil penting artinya karena fungsinya sebagai sabuk penghubung, sabuk pengaman, dan sabuk ekonomi. Pemberdayaan fungsinya dapat ditempuh melalui sektor wisata bahari, perikanan, pertambangan, atau kehutanan. Jumlah pulau hasil perhitungan DISHIDROS tercatat 17.508 buah, maka pemberdayaan dapat dikembangkan melalui berbagai sektor sesuai dengan potensi pulau-pulaunya. Pulau-pulau kecil memiliki keunikan ekologis dengan potensi sumberdaya alam antar pulau bervariasi. Ekologis pulau kecil relatif homogen dengan posisi terisolir dan ekosistem laut mendominasi karakteristik pulau ini. Keunikan ini menawarkan suatu potensi yang menarik karena secara natural berbeda dengan pulau besar, sehingga memberi peluang diversifikasi upaya pembangunan. Lingkup pengelolaan dilakukan secara parsial disebabkan antara lain oleh paradigma pengembangan pulau dengan memanfaatkan keunikan suatu pulau. Kasus ini berefek pada ketidakseimbangan ekosistem antar pulau karena tidak ada keterpaduan pengelolaan di antara pulau-pulau tersebut. Di sisi lain, dirasakan bahwa pengembangan pulau-pulau kecil masih terabaikan dibandingkan pulau besar. Hal ini disebabkan oleh berbagai kendala seperti infrastrukturnya relatif kurang lengkap dan lebih sulit dicapai. Permasalahan ini diawali oleh ketiadaan informasi tentang karakteristik fisik dan sosial di tingkat perencana baik regional maupun nasional, sehingga hal ini dirasakan sebagai penghambat upaya pembangunan (Asriningrum, 2004).
Pengembangan dan pengelolaan pulau-pulau kecil pada dasarnya terkait dengan masalah tata ruang antar pulau. Jika di pulau besar penetapan rencana umum tata ruang menggunakan unit Daerah Aliran Sungai (DAS), maka di pulau kecil perlu menggunakan unit tertentu misalnya gugusan (entitas) pulau. Dari jumlah pulau 17.508 buah dipisahkan pulau-pulau yang termasuk pulau kecil dan dikelompokkan dalam unit-unit yang saling mendukung sehingga tercipta suatu keterpaduan. Dengan permasalah itu, maka pengaturan tata ruang pulau-pulau kecil perlu mendapat perhatian serius, termasuk pengadaan data dasar berupa data sosial, ekonomi, kependudukan, dan juga data fisik lahan.
Dari berbagai fakta di atas tentu pengelolaan pulau-pulau kecil perlu di perhatikan dengan melihat tingkat kerentanan dan kepekaan dari pulau tersebut. Adapun definisi dari pulau kecil seperti yang di kutip oleh Bengen dan Retraubun (2006) yang di tuangkan UNCLOS (1982, Bab VIII Pasal 121 Ayat 1) adalah: ” Pulau adalah massa daratan yang terbentuk secara alami, dikelilingi oleh air dan selalu berada/muncul di atas permukaan air pasang”. Selanjutnya, berdasarkan SK Menteri Kelautan dan Perikanan No 41 Tahun 2000 mendefinisikan lagi berdasarkan kondisi geografis dan perairan Indonesia , bahwa yang dimaksud dengan pulau kecil adalah “pulau yang mempunyai luas area kurang dari atau sama dengan 10.000 km2 , dengan jumlah penduduk kurang dari atau sama dengan 200.000 orang” (DKP, 2001 dalam Bengen dan Retraubun, 2006). Batasan yang sama pula seperti yang didefinisikan oleh Hess, 1990 dalam Bengen dan Retraubun, 2006 yang membedakannya adalah komposisi jumlah penduduk yang mendiami pulau tersebut kurang dari atau sama dengan 500.000 orang. Keterkaitan ekolologis pulau kecil tidak semata di pandang dari satu sisi saja akan tetapi juga di lihat bahwa pulau kecil adalah merupakan suatu sistem yang saling mengkait antar sitem yang satu dengan sistem yang lain. Dari sisi Geomorfologi kepesisiran tidak terlepas dari hubungan yang sangat erat antara ekosistem perairan pulau-pulau kecil. Oleh Retraubun (2002) juga Bengen dan Retraubun (2006) bahwa pulau-pulau di dunia di kelompokan menjadi lima (5), yaitu pulau benua, pulau vulkanik, pulau daratan rendah, pulau karang timbul dan pulau atoll. Selanjutnya, oleh Bengen dan Retraubun, 2006 memberikan klasifikasi dari pulau-pulau yang ada kedalam dua kelompok yaitu: kelompok pulau dataran yang terdiri dari tiga kelompok yaitu pulau aluvium, pulau karang/koral dan pulau atol. Kelompok pulau berbukit terdiri dari lima kelompok yaitu: pulau vulkanik, pulau tektonik, pulau teras terangkat, pulau petabah dan pulau genesis campuran. Secara geomorfologi kelompok-kelompok pulau ini adalah merupakan pulau-pulau yang khas dan memiliki sifat kondisi alam yang spesifik.
Sebagai ilustrasi, proses-proses darat dan laut yag terjadi di pulau-pulau kecil memiliki mekanisme yang khas contohnya pulau aluvial terbentuk oleh adanya sistem aliran sebagai pembawa sedimen di daerah berbatasan pantai. Sedimen ini awalnya berasal dari darat dan oleh adanya proses abrasi dan akresi, material ini diendapkan lagi ke darat oleh gelombang laut. Bentuklahan ini sebagian besar berupa hutan lahan basah dengan tumbuhan mangrove. Fungsi unit lahan ini sebagai penahan abrasi dan intrusi air laut dan tempat perkembangbiakan berbagai fauna bernilai ekonomis. Mengingat fungsi lahan ini, penentuan sebagai kawasan lindung akan menjaga ekologi lahan ini. Bentuk lahan perbukitan sisa terbentuk pada perbukitan yang mengalami proses denudasi lanjut.
Contoh yang lain, pengaruh efek pemanasan global yang mau tidak mau secara langsung menghantam keberlangsungan ekosistem perairan di pulau-pulau kecil seperti adanya coral bleaching akibat pengaruh pemanasan global El Nino. Dampak naiknya suhu air 1 - 1,250 Celsius dengan selang kepercayaan di atas 90 persen. Kenaikan ini akan memusnahkan semua spesies karang yang kita miliki karena hewan ini memiliki toleransi yang sangat sempit terhadap suhu maupun perubahan kedalaman. Akibatnya terjadi wabah coral bleaching (pemutihan karang) di seantero wilayah penyebarannya. Di Palau, salah satu tetangga kita, akibat kenaikan suhu, coral bleaching terjadi sampai kedalaman 90 meter. Populasi beberapa spesies karang berkurang sebanyak 99 persen dengan kerugian ekonomi (economic loss) diperkirakan sebanyak 91 miliar dollar AS. Indonesia bahkan akan mengalami kerugian berlipat ganda jika luas penyebaran karang kita dibandingkan dengan Palau (Retraubun, 2007). Selain itu pula, adanya ancaman abrasi dimana hilangnya nilai-nilai ekologis lahan pantai, di kutip dari laporan Retraubun (2007) bahwa kerusakan ekologis di pulau kecil cukup mengkhawatirkan. Dari hasil survei penamaan pulau di 22 provinsi sejak tahun 2005, ditemukan 24 pulau yang telah hilang secara fisik. Mereka tersebar di delapan ( 8) provinsi, 10 kabupaten, dan 12 kecamatan. Di Aceh, misalnya, tiga (3) pulau hilang karena tsunami, yaitu: Pulau Gosong Sanjai, Pulau Karang Linon Kecil, dan Pulau Karang Linon Besar. Di Kepulauan Riau dan Kepulauan Seribu (DKI Jakarta), semua pulau hilang karena penambangan pasir. Pulau-pulau di atas umumnya merupakan pulau yang datar (low-lying islands) yang memiliki ketinggian rata-rata 1 meter di atas permukaan laut dan selalu berasosiasi dengan ekosistem - ekosistem tropis. Interaksinya menghasilkan fungsi produksi dan jasa lingkungan lautnya. Output-nya, komoditas perikanan yang kita konsumsi serta tumbuhnya resor-resor di pulau. Maka, kehilangan pulau akan berdampak luas.

Pelingkupan Permasalahan, Kepekaan dan Kerentanan Pulau-pulau Kecil (Bengen dan Retraubun, 2006)

  • Secara ekologis pulau-pulau kecil amat rentan terhadap pemanasan global (global warming), angin topan dan gelombang tsunami
  • Pulau kecil memiliki banyak spesies-spesies endemik dan keanekaragaman hayati tipikal yang bernilai tinggi. Sehingga bila terjadi perubahan lingkungan maka akan sangat mengancam keberadaan spesies-spesies tadi
  • Pulau-pulau kecil memiliki daerah tangkapan air yang sangat terbatas sehingga ketersediaan air tawar merupakan faktor pembatas pembangunan
  • Pemanfaatan potensi sumberdaya laut dan alam yang belum optimal karena letak dan kondisi geografis yang jauh dan terisolir
  • Akibat letak yang jauh dan terisolir maka kebanyakan pulau –pulau kecil tersebut tidak berpenghuni atau lebih banyak di manfaatkan oleh penduduk pulau sekitar sebagai lahan pertanian dan perkebunan
  • Jaringan transportasi dan aksesibilitas merupakn salah satu permasalahan yang sangat besar dalam pengembangan pulau-pulau kecil
  • Lemahnya pengawasan dan pengamanan di pulau-pulau kecil, diantaranya adalah adanya kegiatan ilegal (pembuangan limbah, penyeludupan, penangkapan ikan karang, pencurian jenis biota laut penting, penambangan pasir laut) akibat letak pulau yang terpencil
  • Diperlukan investasi yang besar bagi pengembangan, pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya pulau kecil sehingga tidak menjadi prioritas pembangunan
  • Terbatasnya dana bagi pengelolaan dan pengembangan pulau-pulau kecil
  • Belum adanya klasifikasi menyangkut keadaan biofisik, sosial ekonomi terhadap pulau-pulau kecil yang dapat digunakan sebagai acuan dalam pengelolaan atas lokasi sumberdaya alam agar lebih efektif

Morfogenesis Gugusan Pulau Kecil (Archipelagic Islands) di Kabupaten SITARO

Provinsi Sulawesi Utara, memiliki 258 pulau kecil yang sudah secara resmi di daftarkan di badan dunia PBB dan telah diverifikasi secara detil. Sedangkan, kabupaten SITARO memiliki tiga (3) gugusan pulau yaitu : Gugusan Pulau Siau dan pulau-pulau sekitarnya yaitu: P. Siau Besar, P. Gunatin, P. Pahepa, P. Kapuliha, P. Masare, P.Mahoro, P. Laweang, gugusan pulau Sanggeluhan (terdiri dari: P. Bawondeke dan P. Sanggeluhang), P. Makalehi; Gugusan Pulau Tagulandang dan pulau-pulau sekitarnya terdiri dari: P. Taggulandang, P. Passige dan P. Ruang dan yang terakhir adalah Gugusan Pulau Biaro dan pulau-pulau sekitarnya P. Biaro, P. Kalukughi, P. Tandukuhang, P. Tumbonang Besar P. Seba Besar dan P. Salangka . Sebanyak 33 buah pulau dimana 10 pulau yang berpenghuni dan 22 pulau yang tidak berpunghuni dan Pulau Makalehi adalah pulau terluar di daerah ini lewat penetapan Peraturan Presiden No. 78 tentang pengelolaan pulau-pulau kecil terluar.
Keberadaan morfologi gugusan kepulauan SITARO adalah merupakan proses geologis yang panjang disertai dengan rentetan evolusi dari sistem perubahan lempeng samudera yang berada di laut Sulawesi. Keberadaan lempengan ini menyebabkan gugusan pulau Sitaro memberikan sifat endemik (bio-fisik) dari komposisi fisik pulau-pulau kecil tersebut. Seperti yang terlihat pada gambar 1 bahwa jejaring gugusan pulau-pulau Siau, Tagulandang dan Biaro adalah merupakan pulau-pulau vulkanik di awali dengan pulau Biaro yang adalah rangkaian terluar dari sisi selatan gugusan pulau Sitaro, kemudian pulau Tagulandang dengan adanya Gunung Ruang serta keberadaan pulau Siau sendiri yang memiliki Gunung Karangetang.
Sejalan dengan pemanasan global (global warming) yang telah memicu terjadinya kenaikan paras laut global (eustatik sea level rise), dimana menurut Asian Development Bank (2001), Indonesia diprediksikan akan mengalami pemansan suhu sebesar 0.4 – 3.00 C dan kenaikan muka laut sebesar 15 – 90 cm pada tahun 2010 (Gambar 2). Issu ini merebak dengan makin meningkatnya tekanan dari laut itu sendiri, maka diperlukan pengelolaan efektif pulau-pulau kecil yang arif dan selaras dengan potensi sumberdaya alam yang ada.
Beberapa cara untuk mengetahui naiknya paras laut adalah dengan suatu pengembangan model berbasis spasial yang dapat memprediksikan dampak kenaikan paras laut di pesisir pulau-pulau kecil di masa yang akan datang. Model yang dikembangkan adalah model prediksi pemunduran garis pantai (shoreline reatret model) sebagai dampak dari kenaikan muka laut berbasis SIG dalam beberapa skenario. Adapun persyaratan di dalam pengembangan model perubahan garis pantai oleh Hennecke et al (2004) mendasarkan kepada beberapa kriteria:
• Meskipun model ini telah memperhitungkan komponen sedimentasi termasuk juga dampak sedimentasi karena arus menyusur pantai, diterapkan pada pantai semi tertutup, model ini belum mempertimbangkan model ketidakpastian (uncertainty), menambahkan komponen edimentasi secara terpisah (tidak dalam satu persamaan) sehingga tidak dapat memperlihatkan dampak positif atau negatif dari naiknya muka air laut atau sedimentasi pada perubahan garis pantai.
• Menggunakan kenaikan muka air laut versi IPCC (2001) dan tidak memperhitungkan kenaikan muka air laut lokal dan regional, dan
• Kajian fisik masih bersifat statis.

Sehingga oleh Sutrisno (2006) membatasi peluang untuk memodifikasi model perbahan garis pantai di pulau-pulau kecil sesuai dengan kebutuhan lokal didasari oleh beberapa skenario di bawah ini:
• Menggambungkan komponen sedimentasi ke dalam satu persamaan (perhitungan laju akumulasi sedimen, volume endapan per tahun sedimen dan transport aliran litoral).
• Modifikasi model ini di kombinasikan dengan pengurangan komponen sedimen, sehingga dampak positif dan negatif dari kombinasi naiknya muka air laut dan sedimentasi terhadap wilayah pesisirnya dapat terlihat jelas.
• Model dikembangkan secara dinamis (dynamic system) dan memperhitungkan komponen ketidakpastian dari unsur-unsur paras laut (MSL) dan sedimentasi  10 tahun pengamatan pasang surut.
• Naiknya muka laut di hitung dengan menggunakan data pasang surut stasiun lokal.
Dengan demikian, secara keseluruhan dampak dari kenaikan muka air laut hubungannya denga kondisi morfologi pantai pulau-pulau kecil dapat di ketahui dan diprediksi dengan membuat skenario-skenario terbaik dengan meminimalisasikan sknario terburuk yang akan terjadi. Pada kenyataannya pembukaan lahan mangrove untuk pertambakan, penambangan karang serta gejala overfishing dan lain sebagainya, memiliki keterkaitan dengan meningkatnya paras air laut yang mengakibatkan kerugian secara ekonomis yang tidak terhingga.
Penutup.
Menata ruang pulau-pulau kecil membutuhkan peran dari masyarakat lokal dan dukungan dari berbagai pihak seperti pemerintah pusat dan daerah serta kalangan akademisi. Issu yang berangkat dari menaiknya massa permukaan laut yang akan mengakibatkan hilangnya gugusan pulau-pulau kecil ini perlu di kaji secara ilmiah. Diperhadapkan dengan situasi demikian tulisan ini mencoba menggambarkan adanya keterkaitan antara sifat morfogenesis pulau – pulau kecil hubungannya dengan naiknya paras laut global (eustatic sea level rise). Oleh karena itu, masih perlu adanya penelitian yang lebih komprehensif dan mendalam untuk mempelajari sifat-sifat massa air laut seperti island wakes, eddies, vortex current dan aliran lokal seperti littoral transport dan tidal current secara real time. Demikianpula dengan keberadaan pulau-pulau kecil perlu di kaji ”genetic building” dan ”physical character” sehingga dapat menjawab masalah-masalah kepesisiran.

DAFTAR PUSTAKA
Asriningrum, W. 2004. STUDI IDENTIFIKASI KARAKTERISTIK PULAU KECIL MENGGUNAKAN DATA LANDSAT DENGAN PENDEKATAN GEOMORFOLOGI DAN PENUTUP LAHAN: Studi Kasus Kepulauan Pari dan Kepulauan Belakangsedih. Makalah pribadi.
Bengen, D.G dan Retraubun, A.W.S. 2006. Menguak Realitas dan Urgensi Pengelolaan Berbasis Eko-Sosio Sistem Pulau-Pulau Kecil. Pusat Pembelajaran dan Pengembangan Pesisir dan Laut (P4L). ISBN 979-98867-2-4.
Harvey, N.,M. Rice and L. Stephenson, 2004.Global Change Coastal ZoneManagement Synthesis Report. Asia-Pacific Network for Global Change Research, APN Secretariat, Chuo-ku, Kobe, 37 pp.
Retraubun, A.S.W. 2002. Pulau-pulau Kecil di Indonesia. Data dan Masalah Pengelolaannya. Makalah Lokakarya dalam rangka Penetapan Luas TerumbuKarang, Panjang Pantai, dan Jumlah Pulau di Indonesia Berdasarkan Data Penginderaan Jauh. oleh COREMAP. LIPI.
Retraubun, A.S.W. 2007. Pulau Kecil ditegah Pemanasan Global. Harian Kompas tanggal 2 Juni 2007
Sutrisno, D. 2005. DAMPAK KENAIKAN MUKA LAUT PADA PENGELOLAAN DELTA: Studi Kasus Penggunaan Lahan Tambak di Pulau Muara ulu Delta Mahakam (Disertasi, 2005)

Biodata Penulis.
Joyce Christian Kumaat, S.Pi,M.Sc. Dosen di Jurusan Geografi Universitas Negeri Manado dan sekarang tercatat sebagai mahasiswa program Doktor di School of Graduate Studies, Bogor Agricultural University dengan Mayor Sistem dan Pemodelan Sumberdaya Perikanan Tangkap (SPT). Tamat pendidikan Sekolah Menengah Atas Tahun 1990 di SMA Kr Tomohon. Gelar Sarjana Perikanan (S.Pi) dari Program Studi Ilmu Kelautan Tahun 1995 dengan konsentrasi penelitian morfologi pantai di Fakultas Perikanan, Universitas Sam Ratulangi. Gelar Master of Science dari Dipartimento Scienze del mare Tahun 2005 dengan fokus penelitian pemetaan geomorfologi terumbu karang di Facolta di Scienze, Universita Politecnica delle Marche Ancona, Italia (Kerjasana dengan Universitas Sam Ratulangi dan Universita degli studi di Genova). Sebagai konsultan perencana di bidang sumberdaya air khususnya perencanaan pengamanan pantai, sejak tahun 1996 – sekarang untuk kajian hidro-oseanografi dan pemodelan spasial Sistem Informasi Geografis (SIG) di wilayah pesisir. Keanggotaan Organisasi Profesi: Anggota HATHI (Himpunan Ahli Teknik Hidraulik Indonesia) Cabang Sulawesi Utara, ASPISIA (Asosiasi Penyelam Ilmiah Seluruh Indonesia), FORPELA, CMAS/POSSI, SSI dan PADI.





Fossil BAHTERAH Nabi NUH di temukan?

11 01 2008

POSISI fosil formasi kapal pada ketinggian 15.500 kaki
di puncak Gunung Ararat hasil pendeteksian geo radar.
Di bawah ruangan formasi itu ada ruangan, yang diduga
adalah kamar-kamar.*UNMUSEUM NEWS
Foto “benda asing” yang terlihat di puncak Gunung
Ararat, hasil pemotretan udara pada tahun 1959 oleh
NATO.*UNMUSEUM NEWS
KEINGINAN untuk menemukan Perahu Nabi Nuh AS,
sebenarnya sudah dilakukan orang selama berabad-abad.
Menurut catatan, sebelum Nabi Muhamad SAW lahir pun,
sudah ada orang yang ingin menemukan kapal yang penuh
misteri itu sesuai dengan petunjuk “Injil” kitab suci
orang Kristen. Konon Epiphanius, seorang bishop dari
Salames, pernah mencari perahu itu dan melihat
peninggalan Nabi Noah (Nuh AS) ,masih terdampar di
Gunung Guardian yang tertutup salju sangat tebal,
Kemudian pada abad XII juga disebutkan, upaya
pencarian kapal ini pernah dilakukan pula oleh
Benyamin Tudela, seorang pendeta bangsa Yunani. Ia
mengatakan, bahwa pendahulunya Omar bin al Khatab,
seorang petinggi dari Turki, telah mengambil bagian
dari kapal itu untuk dijadikan bahan bangunan mesjid.
Perdebatan demi perdebatan, mulai muncul di kalangan
para ahli sejarah dan agama, tentang di mana tempat
sebenarnya kapal Nabi Nuh itu terdampar, karena
terdapat perbedaan tempat, di antara kitab suci Bibel
dan Quran.
Di dalam kitab Bibel disebutkan, bahwa kapal Noah
terdampar setelah sekian lama terombang ambing ombak
dan gelombang pasang di Gunung Ararat. Namun dalam
Alquran disebutkan bahwa kapal itu terdampar di Bukit
(gunung) Judi (daerah Armenia).
Alquran Surat Hud ayat 44 berbunyi: … Dan
difirmankan: Hai Bumi telanlah airmu, dan hai langit
(hujan) berhentilah, dan air pun disurutkan, perintah
pun diselesaikan, dan bahtera itu pun berlabuh di
bukit Judi. Dan dikatakan “binasalah orang-orang
zalim.
Dari hasil penelitian para ahli, ternyata Gunung
Ararat sekarang, telah berganti nama beberapa kali.
Pernah bernama Gunung Guardian, dan juga bernama
Armenia atau Gunung Judi. Akhirnya setelah melalui
penelitian panjang, dengan berdasarkan bukti-bukti
sejarah kuno para ahli sejarah dan agama sepakat,
bahwa gunung tempat terdamparnya kapal Nabi Nuh itu
bernama Gunung Ararat (Injil) atau Gunung Judi
(Quran), yang sebenarnya kendati nama yang berbeda
tempatnya itu-itu juga.
Setelah sekian lama tidak terdengar lagi, upaya
pencarian kapal Nabi Nuh muncul kembali pada abad XIX.
James Brice, seorang ahli archeology dari Oxford
University, pada tahun 1876 dengan biaya dari
Yayasannya mengarungi lautan salju di Gunung Ararat
Perbatasan Turky mencari kapal misterius itu kembali.
Dalam perjalanan ke puncak Ararat, James Brice dari
Inggris, menyatakan menemukan empat buah batu panjang
berbentuk tongkat. Ia menduga “batu tongkat itu”
merupakan bagian dari tiang layar kapal yang dalam
pejalanan waktu puluhan ribu tahun sudah memfosil.
Menjelang akhir abad XIX, yaitu tepatnya tahun 1892,
Yoseph Nouri dari Prancis mengulangi perjalanan yang
dilakukan James Brice dari rute yang bebeda. Ia
mengklaim, bahwa dirinya telah sampai ke tujuan dan
berhasil menemukan perahu Nabi Nuh. Keberhasilannya
itu karena kebetulan. Waktu itu sedang musim kemarau
sangat panjang, sehingga tidak ada salju yang menutupi
permukaan gunung Bahkan ia menegaskan, sempat
berjalan-jalan di tempat yang diduga dek kapal yang
panjangnya 300 cubic, persis seperti yang diungkapkan
dalam kitab Bibel.
Semua ungkapan dan pernyataan dari “para pemburu Kapal
Nabi Nuh”, hingga penghujung abad XIX hanyalah
dilukiskan dalam kata-kata dan tulisan saja tanpa bisa
divisualisasikan. Karena memang pada waktu itu, tidak
ada teknologi fotografi yang mampu mendukung
pernyataan mereka, sehingga semua orang yang
mendengarnya, merasa penasaran. Apakah omongannya itu
benar, atau hanya “bulshit” (bohong) saja.
Waktu terus berjalan. Gandrung mencari perahu Nabi
Nuh, seperti hilang ditelan waktu. Hingga pada tahun
1959, Ilham Durupinan, seorang pilot Turky Airforce
anggota pasukan NATO mengadakan pemotretan udara di
Gunung Ararat perbatasan Irak, melihat dari rekaman
hasil pemotretannya itu “benda asing” dekat puncak
salah satu gunung tertinggi di Turky itu, pada
ketinggian 15.500 kaki.
Karena merasa penasaran, para petinggi NATO di basis
Turky memerintahkan Dr. Arthur Brande, ahli fotografi
dari Ohio University untuk memeriksa rekaman gambar
pemotretan itu.
Setelah meneliti secara seksama, akhirnya disimpulkan
bahwa “benda asing” di puncak Ararat itu adalah
“perahu”. Ya formasi perahu, yang diduga merupakan
peninggalan Nabi Nuh, yang selama ini banyak dicari
para ahli.
Kabar penemuan perahu Nabi Nuh ini, sempat ditayangkan
oleh Majalah Life, Australian Fix Magazine dan
American Life Magazine pada penerbitan tgl 5 September
tahun 1960.
Pada tahun 1990, Ron Wyat bersama Dr. David Fasold,
ahli geologi AS, membawa perlengkapan cangggih, di
antaranya metal detector dan geo radar menjejak
kembali koordinat tempat yang disinyalir ada formasi
perahu Nuh.
Selama empat tahun berturut-turut, ia melakukan
penelitian secara detil dan seksama, baik di formasi
perahu maupun daerah sekelilingnya, untuk mencari
bukti-bukti peradaban setelah dunia itu musnah.
Dalam perjalanan kali ini, ia menemukan sebelas batu
pipih berlubang, yang rata-rata berat antara empat
hingga 10 ton. Batu-batu ini diindikasikan Wyat
adalah, sebagai pemberat kapal agar tidak oleng oleh
tiupan angin kencang.
Sementara itu dari hasil pengamatan peralatan
canggihnya, David Fasold, memperoleh indikasi bahwa
batuan formasi perahu yang ditemukannya itu adalah
kayu yang sudah berubah menjadi fosil. Pada beberapa
lokasi,juga terdapat konsentrasi logam, yang diduga
merupakan pengikat balok.
Hasil deteksi dari geo-radarnya, mengindikasikan bahwa
di bawah fosil formasi perahu itu ada ruangan yang
diduga adalah kamar-kamar. Namun formasi itu,hanya
muncul sepertiganya. Diduga pada waktu itu,
kemungkinan memang terdampar pada lumpur, sehingga
sebagian dari badan kapal, hingga saat ini masih
terbenam, yang sekarang setelah ribuan tahun semuanya
telah berubah menjadi karang.
Gene Collins, dari Departemen Ilmu Geologi AS, yang
tidak percaya begitu saja kepada laporan David Fasold,
pada penghujung tahun 2000 bersama satu tim yang
terdiri dari 12 orang berbagai disiplin ilmu juga
berangkat ke lokasi yang diduga merupakan tempat
terdamparnya perahu raksasa Nabi Nuh.
Berangkat bersama tim itu, juga ahli Geologi Kelautan
Dr. Robert Balard, yang telah sukses dalam menemukan
bangkai Titanic,Istana Cleopatra, dan Benua yang
hilang Atlantis.
Menurut Collins, formasi fosil perahu itu diduga kuat
adalah benar perahu Nabi Nuh AS. Karena dengan
berbagai dalih apa pun, tidak mungkin ada benda asing
yang diduga perahu yang sudah memfosil berada pada
ketinggian 15.500 kaki tanpa sesuatu sebab. Fosil
perahu yang ditemukan itu, merupakan nenek moyang
perahu bangsa Sumeria.
Dari uji karbon di sekitar lokasi perahu, ternyata
mengandung 4,95 % karbon dan pada beberapa lokasi
terdapat kandungan besi yang cukup banyak dari segi
tingginya kandungan karbon, hal ini berarti karbon itu
berasal dari kayu yang sudah membatu. Padahal di
lokasi lain, kandungan karbonnya hanya 1,88% saja yang
biasa diperoleh dari kandungan tanah biasa.
Harold Cofins, ahli geologi Tim yang juga bertindak
sebagai jurubicara Tim mengungkapkan, bahwa perahu itu
terbuat dari kayu species “Sigilata” yang telah
diawetkan dengan sejenis ter. Species kayu ini sejenis
kayu raksasa, yang kini sudah punah dari muka bumi.
Menurut para ahli biologi kehutanan, kayu jenis ini
memiliki keluarga sekitar 200 species, yang beberapa
di antaranya masih hidup di Amerika Utara, Pategonia
dan Australia.
Tentang masalah banjirnya sendiri, Dr. Balard
mengungkapkan bahwa dari bukti-bukti yang ada di
ketinggian itu banjir be sar pernah melanda bumi pada
10.000 tahun yl, dan air sempat mencapai ketinggian
lebih dari 15.000 kaki.
Untuk mencapai posisi seperti saat ini — hingga
munculnya benua-benua dan pulau-pulau — katanya
memakan waktu hingga 7.500 tahun. (Risyana Hendrawan,
sumber : The UnMuseum News).***
=====





Yesus mungkin berjalan di atas es?

11 01 2008

Wed Apr 5, 2006 11:02 AM ET

Oleh Jim Loney

MIAMI (Reuters) – Perjanjian Baru mengatakan bahwa Yesus berjalan di atas air, namun seorang profesor di universitas Florida percaya bahwa kemungkinan ada penjelasan yang kurang spektakuler tentang hal itu  – yaitu Dia [Yesus] berjalan di atas potongan – potongan es yang terapung.

Profesor Doron Nof juga berteori pada awal tahun 1990an bahwa terdapat dasar ilmiah di balik peristiwa Musa membelah Laut Merah.

Nof, professor oseanografi di Universitas Negara Bagian Florida, mengatakan pada hari Selasa bahwa studinya menemukan kombinasi yang tidak biasa antara air dan kondisi atmosfir di tempat yang kini dikenal sebagai Israel Utara yang memungkinkan pembentukan es di Laut Galilea.

Nof memanfaatkan catatan suhu permukaan Laut Mediterania dan model statistik untuk memeriksa dan dinamika Laut Galilea, yang sekarang dikenal sebagai Danau Kinneret oleh Orang Israel masa kini.

Studi tersebut menemukan bahwa ada periode dimana suhu lebih rendah pada masa antara 1,500 dan 2,600 lalu yang didalamnya kemugkinan dekade masa hidup Yesus.

Penurunan suhu di bawah titik beku bisa menyebabkan terbentuknya es yang ketebalannya cukup untuk medukung manusia pada permukaan danau air tawar dekat pantai barat, kata Nof. Kemungkinannya sangat tipis bagi orang yang berada di jauh untuk melihat potongan – potongan es yang terapung yang dikelilingi air.

Nof mengatakan bahwa dia menawarkan studinya – yang diterbitkan pada edisi April dari Journal of Paleolimnology – sebagai “kemungkinan penjelasan” bagi kenyataan Yesus berjalan di atas air.

“Jika anda bertanya apakah saya percaya ada orang yang berjalan di atas air, [maka jawabannya adalah] tidak, saya tidak percaya,” Nof berkata. “Mungkin ada orang yang berjalan di atas es, saya tidak tahu. Saya percaya bahwa ada sesuatu yang alamiah (natural) yang dapat menjelaskannya.”

“Kita membiarkan orang lain untuk memutuskan apakah penelitian kami menjelaskan ceritera Alkitab.”

Pada saat dia menawarkan teorinya 14 tahun lalu bahwa kondisi angin dan laut dapat menjelaskan terbelahnya Laut Merah, Nof mengatakan bahwa dia menerima email yang mengutuknya, walaupun dia menyatakan bahwa gagasannya bisa mendukung gambaran Alkitab tentang kejadian tersebut.

Dan seiring dengan mulai tersebarnya teorinya tentang Yesus berjalan di atas air, dia menerima lebih banyak email semacam itu dalam kotak masuk emalinya.

“Merka bertanya apakah saya nanti akan mencoba menjelaskan kebangkitan [Kristus],” ujarnya.





Roda Kereta Firaun ditemukan dilaut merah

11 01 2008

Masih ingat dengan kisah mukjizat Nabi Musa yang membelah laut merah dengan tongkatnya? Jika salah satu diantara anda menganggap kisah tersebut hanya merupakan dongeng belaka, sekarang mari kita simak tulisan dibawah ini.Seorang Arkeolog bernama Ron Wyatt (lihat di http://www.wyattmus eum.com/ron- wyatt.htm ) pada ahir tahun 1988 silam mengklaim bahwa dirinya telah menemukan beberapa bangkai roda kereta tempur kuno didasar laut merah. Menurutnya, mungkin ini merupakan bangkai kereta tempur Firaun yang tenggelam dilautan tsb saat digunakan untuk mengejar Musa bersama para pengikutnya. Menurut pengakuannya, selain menemukan beberapa bangkai roda kereta tempur berkuda, Wyatt bersama para krunya juga menemukan beberapa tulang manusia dan tulang kuda ditempat yang sama. Temuan ini tentunya semakin memperkuat dugaan bahwa sisa-sisa tulang belulang itu merupakan bagian dari kerangka para bala tentara Fir’aun yang tenggelam di laut Merah. Apalagi dari hasil pengujian yang dilakukan di Stockhlom University terhadap beberapa sisa tulang belulang yang berhasil ditemukan,memang benar adanya bahwa struktur dan kandungan beberapa tulang telah berusia sekitar 3500 tahun silam,dimana menurut sejarah, kejadian pengejaran itu juga terjadi dalam kurun waktu yang sama. Selain itu,ada suatu benda menarik yang juga berhasil ditemukan,yaitu poros roda dari salah satu kereta kuda yang kini keseluruhannya telah tertutup oleh batu karang,sehingga untuk saat ini bentuk aslinya sangat sulit untuk dilihat secara jelas. Mungkin Allah sengaja melindungi benda ini untuk menunjukkan kepada kita semua bahwa mukjizat yang diturunkan kepada Nabi-nabiNya merupakan suatu hal yang nyata dan bukan merupakan cerita karangan belaka. Diantara beberapa bangkai kereta tadi,ditemukan pula sebuah roda dengan 4 buah jeruji yang terbuat dari emas.Sepertinya, inilah sisa dari roda kereta kuda yang ditunggangi oleh Firaun sang raja. Sekarang mari kita perhatikan gambar diatas, Pada bagian peta yang dilingkari (lingkaran merah),menurut para ahli kira-kira disitulah lokasi dimana Nabi Musa bersama para kaumnya menyebrangi laut Merah. Lokasi penyeberangan diperkirakan berada di Teluk Aqaba di Nuweiba. Kedalaman maksimum perairan di sekitar lokasi penyeberangan adalah 800 meter di sisi ke arah Mesir dan 900 meter di sisi ke arah Arab. Sementara itu di sisi utara dan selatan lintasan penyeberangan (garis merah) kedalamannya mencapai 1500 meter. Kemiringan laut dari Nuweiba ke arah Teluk Aqaba sekitar 1/14 atau 4 derajat, sementara itu dari Teluk Nuweiba ke arah daratan Arab sekitar 1/10 atau 6 derajat. Diperkirakan jarak antara Nuweiba ke Arab sekitar 1800 meter.Lebar lintasan Laut Merah yang terbelah diperkirakan 900 meter. Dapatkah kita membayangkan berapa gaya yang diperlukan untuk dapat membelah air laut hingga memiliki lebar lintasan 900 meter dengan jarak 1800 meter pada kedalaman perairan yang rata2 mencapai ratusan meter untuk waktu yang cukup lama, mengingat pengikut Nabi Musa yang menurut sejarah berjumlah ribuan? (menurut tulisan lain diperkirakan jaraknya mencapai 7 km, dengan jumlah pengikut Nabi Musa sekitar 600.000 orang dan waktu yang ditempuh untuk menyeberang sekitar 4 jam). Menurut sebuah perhitungan, diperkirakan diperlukan tekanan (gaya per satuan luas) sebesar 2.800.000 Newton/m2 atau setara dengan tekanan yang kita terima jika menyelam di laut hingga kedalaman 280 meter. Jika kita kaitkan dengan kecepatan angin,menurut beberapa perhitungan, setidaknya diperlukan hembusan angin dengan kecepatan konstan 30 meter/detik (108 km/jam) sepanjang malam untuk dapat membelah dan mempertahankan belahan air laut tersebut dalam jangka waktu 4 jam!!!sungguh luar biasa,Allah Maha Besar. Catatan : Mengenai penemuan Wyatt ini, bisa dilihat dalam situs : http://www.wyattmus eum.com/red- sea-crossing- 04.htm





TAMAN EDEN

11 01 2008

(THE GARDEN OF EDEN

(SERMON #10 ON THE BOOK OF GENESIS)

Oleh Dr. R. L. Hymers, Jr.
Diterjemahkan oleh Dr. Eddy Peter Purwanto

Khotbah ini dikhotbahkan di Kebaktian Pagi, 5 Agustus 2007
di Baptist Tabernacle of Los Angeles

“Selanjutnya TUHAN Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur; disitulah ditempatkan-Nya manusia yang dibentuk-Nya itu” (Kejadian 2:8).

Kelihatannya manusia diciptakan sebelum Allah “membuat” Taman Eden ini, karena penciptaan manusia dijelaskan di dalam ayat tujuh, diikuti oleh ayat kita di ayat delapan ini. Jadi, nampaknya Eden dibangun di sebelah timur dari tempat di mana Adam diciptakan. Nampaknya ini juga mengacu kepada tempat yang ada di sebelah timur dari tempat di mana Musa berada ketika ia menulis Kitab Kejadian melalui inspirasi dari Allah. Keluaran 24:4 menjelaskan kepada kita, “Lalu Musa menuliskan segala firman TUHAN itu.” Musa berada di Semenanjung Sinai, sehingga kita boleh mengatakan bahwa itu ada di sebelah timur padang gurun itu. Atau itu bisa jadi di sebelah timur Kanaan, dan ditulis dari sudut pandang Ibrani. Dalam beberapa dari tiga peristiwa ini, nampaknya ini berlokasi di dekat Gunung Ararat, di area yang umumnya kita kenal sekarang sebagai Turki dan Armenia. Dr. McGee berkata,

Saya yakin itu adalah suatu tempat di lembah Tigris-Efrat; sesungguhnya bisa jadi itu adalah seluruh lembah itu. Mula-mula daerah itu merupakan daerah yang sangat subur, dan untuk beberapa hal masih demikian. Itu adalah bagian dari “fertile crescent” [daerah yang subur]. Pada suatu waktu, orang-orang yang tinggal di daerah itu bahkan tidak perlu menanam benih di sana; mereka hanya tinggal menuai, karena semuanya bertumbuh dengan sendirinya (J. Vernon McGee, Th.D., Thru the Bible, Thomas Nelson Publishers, 1981, volume I, hal. 20; note on Genesis 2:8).

Namun kita tidak seharusnya konsen dengan lokasi pastinya, karena Musa mencatat nama-nama dan tempat-tempat yang pernah ada sebelum zaman Air Bah. Seluruh topografi bumi ini telah berubah oleh karena Air Bah. Seperti yang Rasul Petrus tuliskan,

“dan bahwa oleh air itu, bumi yang dahulu telah binasa, dimusnahkan oleh air bah” (II Petrus 3:6).

Luther memberikan deskripsi yang baik sekali tentang Eden, yang saya kutip cukup panjang:

Nampak bagi saya bahwa itu adalah tempat yang disebut Eden oleh Adam, atau paling tidak semasa hidupnya, karena kesuburan dan keindahan yang luar biasa dari tempat itu. Nama tempat itu masih dikenal oleh keturunan-keturunannya bahkan walaupun tempat itu [telah] hilang. Ketika dunia dibinasakan oleh Air Bah, kemudian taman yang begitu indah ini juga dibinasakan dan telah hilang…. Sejak taman itu ditetapkan untuk Adam dan semua keturunannya, itu tidak dapat dianggap bahwa luas taman itu hanya beberapa mil saja. Itu adalah tempat yang paling khusus di bumi ini. Saya percaya bahwa taman itu ada sampai pada masa Air Bah, namun sebelum banjir besar taman itu dijaga oleh Allah melalui malaikat, seperti yang Musa ceritakan kepada kita. Sebagaimana Musa memperkenalkan manusia dibedakan dari binatang-binatang, walaupun ada ciptaan-ciptaan yang tak terpikirkan juga ada di bumi ini, sehingga di sini ia dengan hati-hati membedakan tempat di mana manusia tinggal, tempat yang Allah bangun dan dandani dengan keindahan yang jauh lebih indah dari tempat manapun di bumi ini… Allah menempatkan manusia di Taman Firdaus itu setelah Ia membentuknya. Namun Hawa diciptakan di Taman itu… Walaupun seluruh bumi diciptakan sedemikian sehingga menumbuhkan pohon-pohon yang menghasilkan buah-buahan, namun Allah mendandani Taman Eden dengan perhatian khusus… Musa menjelaskan bahwa Allah sebagai horticulturist [atau ahli di bidang perkebunan] yang dengan rajin menanami taman itu menurut pilihan-Nya, memilih beberapa pohon yang Ia sukai dan merawatnya dengan cara yang khusus (Martin Luther, Th.D., Luther’s Commentary on Genesis, Zondervan Publishing House, 1958 reprint, volume I, hal. 45-46).

Sekarang untuk memahami keindahan yang luar biasa dari Taman Eden ini kita perlu memikirkan beberapa hal. Pertama, keadaan seluruh dunia pada masa lalu secara sempurna berbeda dengan pada masa sekarang. Silahkan membuka Kejadian 1:6. Pada hari kedua Penciptaan,

“Berfirmanlah Allah: ‘Jadilah cakrawala di tengah segala air untuk memisahkan air dari air.’ Maka Allah menjadikan cakrawala dan Ia memisahkan air yang ada di bawah cakrawala itu dari air yang ada di atasnya. Dan jadilah demikian” (Kejadian 1:6-7).

Saya mengambil posisi Dr. Henry M. Morris, bahwa ada pembagian air di bumi dari air yang ada di atas langit. Dr.Morris berkata bahwa air yang ada di atas bumi [di atas cakrawala] “telah berubah menjadi uap air supaya dapat dipisahkan dari material-material yang lebih berat dan terangkat di atas atmosfer, di mana itu dapat berfungsi seperti selimut [hangat] untuk masa depan kehidupan di bumi ini” (Henry M. Morris, Ph.D., The Defender’s Study Bible, World Publishing, hal. 4, note on Genesis 1:6). Hamparan uap air itu seperti tirai atau pembungkus di dalam atmosfir yang menyediakan efek rumah kaca atas seluruh dunia. Jadi, seluruh dunia terlindungi dari radiasi berbahaya, seperti yang Dr. Morris katakan, bahwa “itu akan menyediakan suatu lingkungan yang ideal bagi kehidupan binatang dan tumbuhan dan untuk memperpanjang umur dan mendukung kehidupan manusia” (ibid.).

Tirai uap air yang mengelilingi bumi itu bukanlah awan atau mendung, namun suatu kumpulan uap air yang tebal di atas langit, yang membungkus seluruh bumi ini. Itu akan menjelaskan mengapa tidak ada hujan di bumi sebelum zaman Air Bah pada zaman Nuh. Bukalah Kejadian 2:5-6, mulai bagian akhir dari ayat lima,

“sebab TUHAN Allah belum menurunkan hujan ke bumi, dan belum ada orang untuk mengusahakan tanah itu; tetapi ada kabut naik ke atas dari bumi dan membasahi seluruh permukaan bumi itu” (Kejadian 2:5-6).

Hujan pada hari ini bergantung pada pergerakan sirkulasi udara di atmosfir bumi ini. Namun hanya ada sedikit sirkulasi udara pada zaman sebelum Air Bah. Jadi, ada sedikit perubahan cuaca di berbagai belahan dunia ini. “Kabut” yang naik ke atas itu berhubungan dengan “… siklus penguapan dan pemadatan sehari-hari [yang disebabkan oleh] siklus temperatur siang/malam” (ibid). Kabut ini naik ke atas “dari bumi dan membasahi seluruh permukaan bumi itu” (Kejadian 2:6). Tidak ada es yang menutupi Kutub Utara dan Selatan, dan ada kekeringan yang terjadi seperti pada zaman ini. Seluruh dunia bagaikan di dalam rumah kaca, firdaus yang begitu menyenangkan, rimbun dengan hamparan tumbuh-tumbuhan menghijau dari kutub ke kutub. Saya percaya bahwa hamparan tumbuh-tumbuhan ini tiba-tiba dibekukan dan begitu juga dengan binatang-binatang, dan bunga-bunga yang indah, yang ditemukan di Siberia utara, yang mana saya percaya, secara tiba-tiba musnah dan membeku pada zaman Air Bah, ketika air yang ada di atas cakrawala diturunkan ke atas bumi pada abad-abad sesudahnya, yaitu pada zaman Nuh (Kejadian 7:11-24).

Air “yang ada di atas cakrawala” turun sebagai curahan hujan yang amat lebat ke atas bumi ini pada zaman Air Bah. Setelah zaman Air Bah kemudian kita dapat melihat awan untuk yang pertama kalinya, dan siklus penguapan hydrologik dan hujan dimulai. Bukalah Kejadian 9:12-15.

“Dan Allah berfirman: Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, yang bersama-sama dengan kamu, turun-temurun, untuk selama-lamanya: Busur-Ku Kutaruh di awan, supaya itu menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi. Apabila kemudian Kudatangkan awan di atas bumi dan busur itu tampak di awan, maka Aku akan mengingat perjanjian-Ku yang telah ada antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, segala yang bernyawa, sehingga segenap air tidak lagi menjadi air bah untuk memusnahkan segala yang hidup” (Kejadian 9:12-15).

”Pelangi,” yang Allah letakkan di langit setelah zaman Air Bah adalah tanda bahwa Allah tidak akan pernah lagi menghukum dunia dengan air bah besar atas seluruh dunia. Pelangi itu ada di langit setelah zaman Air bah adalah juga tanda bahwa tidak pernah ada hujan sebelum zaman Air Bah, karena dunia yang sebelumnya dilindungi oleh tirai atau langit-langit air.

Namun kembali ke bumi pada mulanya, ketika bumi itu diciptakan menjadi baru kembali. Seluruh dunia ini, dikelilingi oleh tirai uap yang begitu menyenangkan, suatu firdaus semi-tropis, dengan tidak ada badai, tidak ada hujan turun seperti yang kita kenal saat ini, hanya ada kabut yang naik ke atas dari bumi yang akan membasahi seluruh permukaan bumi ini.

Kemudian Allah membentuk manusia, seperti dijelaskan kepada kita dalam Kejadian 2:7, dari “debu tanah.” Sekarang silahkan membuka Kejadian 2:8-9. Mari kita berdiri dan membaca kedua ayat ini dengan lantang.

“Selanjutnya TUHAN Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur; disitulah ditempatkan-Nya manusia yang dibentuk-Nya itu. Lalu TUHAN Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat”
(Kejadian 2:8-9).

Anda dipersilahkan duduk kembali.

Seperti yang telah saya katakan di permulaan khotbah ini, lokasi pastinya dari Taman Eden tidak diketahui hari ini karena seluruh topografi dunia ini telah berubah pada saat Air Bah. Ini cukup untuk mengatakan bahwa Taman itu dikenal sebagai “fertile crescent” atau daerah yang subur. Seperti Luther dengan benar berkata, Taman itu haruslah suatu daerah yang luas, “Sejak taman itu ditetapkan untuk Adam dan semua keturunannya” (Luther, ibid.). Itu adalah, seperti yang dikatakan oleh Luther, “tempat yang paling khusus di bumi ini” (Luther, ibid.).

Itu adalah Taman yang teramat indah dan subur. Dr. John R. Rice berkata,

      Ini menarik bahwa Allah “membuat taman itu.” Allah secara khusus telah mempersiapkan tumbuh-tumbuhan yang akan menyenangkan manusia. Setiap tumbuhan itu akan diperlukan dan bermanfaat, setiap tumbuhan itu akan dinikmati – teksturnya, rasa, warna, keharumannya – setiap detailnya telah dipikirkan oleh Allah yang mahakasih dan ditempatkan di sana untuk dinikmati manusia di Taman Eden… Oh, betapa suatu kapasitas yang tak terbatas untuk keindahan dan perhatian yang dimiliki oleh sang Pencipta kita yang membuat dan memelihara segala sesuatu.
Ada pohon-pohon di Eden. Ada pohon kehidupan. Manusia dapat memakannya dengan bebas. Saya menduga itu memiliki qualitas yang sangat baik bahwa itu adalah suatu vitamin atau ensim untuk setiap kebutuhan tubuh ini (John R. Rice, D.D., Genesis: In the Beginning, Sword of the Lord Publications, 1975, hal. 104-105).

Dr. Rice berkata bahwa kita akan melihat Eden diperbaharui kembali suatu hari nanti, dengan “’sungai air kehidupan, yang jernih bagaikan kristal, dan mengalir ke luar dari takhta Allah dan takhta Anak Domba itu. Di tengah-tengah jalan kota itu, yaitu di seberang-menyeberang sungai itu, ada pohon-pohon kehidupan yang berbuah dua belas kali, tiap-tiap bulan sekali; dan daun pohon-pohon itu dipakai untuk menyembuhkan bangsa-bangsa,’ Wahyu 22:1-2” (Rice, ibid., hal. 105).

Bukan hanya ada Pohon Kehidupan yang menyediakan banyak gisi yang sepertinya ketika manusia memakan buahnya ia akan “hidup untuk selama-lamanya” (Kejadian 3:22), namun di Taman Eden itu juga ada Pohon Pengetahuan tentang yang Baik dan yang Jahat. Kita tidak tahu banyak tentang Pohon Pengetahuan tentang yang Baik dan yang Jahat itu. Yang kita tahu adalah bahwa pohon ini ditempatkan di sana untuk menguji kesetiaan manusia kepada Allah. Tindakan ketidak-ketaatan dengan memakan buah ini adalah dosa. Dr. Rice berkata, “Manusia berdosa ketika ia memilih [untuk makan] buah yang akan membuatnya menjadi bijaksana dalam hal-hal tentang dunia ini, hal-hal tentang dosa dan pengetahuan tentang hal-hal yang seharusnya tidak ia ketahui atau pedulikan. Beberapa orang telah berpikir bahwa dosa Adam dan Hawa di Taman Eden adalah dosa seks. Itu bodoh. Allah telah menjelaskan bahwa Ia menikahkan mereka. Mereka diperintahkan untuk beranak-cucu dan memenuhi bumi. Hubungan mereka sebagai suami-istri adalah suci dan berkenan di hadapan Allah. Namun ketika makan buah terlarang itu, mereka tidak mentaati Allah” (ibid., hal. 106-107).

Dan juga, di Taman Eden, Allah juga menciptakan wanita pertama. Bukalah Kejadian 2:18.

“TUHAN Allah berfirman: Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia” (Kejadian 2:18).

Kemudian kita membaca dalam ayat 21-25,

“Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. Lalu berkatalah manusia itu: ‘Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.’ Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu” (Kejadian 2:21-25).

Saya tidak memiliki keraguan bahwa persis seperti itulah wanita pertama diciptakan, karena Yesus juga berkata demikian. Tuhan kita Yesus Kristus berkata,

“Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging?” (Matius 19:4-5).

Yesus mengutip ayat ini dari Kejadian 2:24, mengutipnya kata per kata ketika Ia sedang mengajarkan tentang pernikahan dalam Matius pasal sembilan belas. Oleh sebab itu, dari berbagai perikop atau bagian Alkitab, kita melihat bahwa tidak ada dosa apapun dalam hubungan seksual antara Adam dan Hawa. Persatuan mereka berasal dari Allah. Allah sendiri yang menetapkan pernikahan yang pertama. Dan Allah telah berfirman kepada Adam, “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi” (Kejadian 1:28). Tidak ada dosa apapun di dalam pernikahan mereka dan hubungan seksual mereka. Perjanjian Baru dengan jelas berkata,

“Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur” (Ibrani 13:4).

Itu juga terimplikasi dalam kata-kata yang kita baca dalam Kejadian 2:21-25. Ayat terakhir dari perikop ini berkata,

“Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu” (Kejadian 2:25).

Dr. Morris berkata, “Waktu itu mereka masih tanpa dosa dan oleh sebab itu juga tanpa kesadaran akan kesalahan berhubungan dengan moral. Namun bagaimanapun, kemudian, dosa mereka membawa kepada suatu kesadaran… bahwa sumber kehidupan manusia telah teracuni, baik di dalam mereka sendiri maupun buah kandungannya [keturunannya]. Kesadaran ini membuat mereka sangat tersiksa oleh kesadaran akan organ-organ reproduksi mereka, dan mereka menjadi malu” (Morris, ibid., hal. 11, note on Genesis 2:25).

Dalam khotbah berikutnya kita akan melihat bahwa Setan adalah pribadi yang menggoda mereka untuk berbuat dosa dengan memakan buah terlarang itu, dan bagaimana konsekuensi yang teramat mengerikan atas pemberontakan mereka melawan Allah, tidak hanya membawa perasaan malu dan memalukan bagi mereka, namun juga menyebabkan kematian fisik dan pengusiran mereka dari Taman Eden. Dan kutuk itu telah menjalar kepada semua ras manusia.

Namun ada jalan pulang ke Eden. Ada jalan bagi manusia untuk diperbaharui suatu hari nanti untuk kemuliaannya. Namun “jalan” itu adalah hanya melalui Tuhan Yesus Kristus. Yesus berkata,

“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku”
(Yohanes 14:6).

Mungkin itu kedengaran picik bagi telinga orang-orang pada zaman “modern.” Hari ini banyak orang berpikir bahwa ada banyak jalan menuju kepada keselamatan. Namun Yesus berkata bahwa hanya ada satu jalan – hanya melalui Dia. Mungkin nampaknya itu tidak fair bagi Anda, namun itu adalah kebenaran.

Ketika Anda pergi ke Marin County, jika Anda membawa mobil, Anda harus menyeberang lewat utara Golden Gate Bridge. Kemudian Anda akan naik ke jalan tol melalui suatu terowongan yang agak sempit, dengan melihat lukisan pelangi pada jalan masuk. Itu adalah satu-satunya jalan ke sana dengan mengendarai mobil. Anda tidak dapat melewati jalan lain untuk sampai di sana. Dan begitu juga dengan keselamatan. Anda hanya dapat sampai di sana melalui Kristus Yesus. Ia berkata, “Akulah jalan… Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yohanes 14:6). Ia adalah jalan kepada Bapa! Kristus adalah satu-satunya jalan kembali ke Eden.

Anda harus meninggalkan hati Anda yang penuh dosa dan datang kepada Kristus. Darah-Nya akan menyucikan dosa Anda. Kematian-Nya di kayu Salib akan menebus dosa Anda. Kebangkitan-Nya dari antara orang mati akan memberikan kehidupan kepada Anda. Hanya dengan datang kepada Yesus Anda dipertobatkan, lahir baru, sehingga suatu hari nanti Anda dapat masuk ke dalam Eden yang telah diperbaharui di dalam Kerajaan Allah. Kiranya Anda datang kepada Yesus segera, sehingga suatu hari nanti Anda dapat masuk ke dalam firdaus Eden yang telah diperbaharui di dalam Kerajaan-Nya yang akan datang.

Ada suatu lembah di hamparan sungai,

   Yang kita sebut keindahan kekal,

Dan kita hanya mencapainya dengan keputusan iman;

   Satu demi satu kita akan memasuki gerbang,

Di sana kita diam dalam ketidak-fanaan,

   Ketika lonceng-lonceng emas berbunyi memanggilku dan engkau.

Ketika hari-hari kita akan berakhir,

   Ketika kita tidur nyenyak dalam kematian,

Ketika sang Raja membebaskan roh kita;

   Tiada lagi kesedihan di dalamnya,

Kita akan mencapai [Eden] yang menyenangkan.

   Ketika lonceng-lonceng emas berbunyi memanggilku dan engkau.

(“When They Ring The Golden Bells” by Dion De Marbelle, 1818-1903).

Datanglah kepada Kristus dengan iman. Ia akan menyucikan dosa Anda dengan Darah yang telah Ia curahkan di kayu Salib. Kebangkitan tubuh-Nya dari antara orang mati akan memberikan kehidupan yang baru dan kekal. Oh, datanglah kepada Kristus dan Anda diselamatkan!

(AKHIR KHOTBAH)
Anda dapat membaca khotbah-khotbah Dr. Hymers setiap minggu di Internet
di www.realconversion.com. Click on “Sermon Manuscripts.”

Diterjemahkan oleh: Dr. Eddy Peter Purwanto @ www.sttip.com

Pembacaan Alkitab Sebelum Khotbah oleh Dr. Kreighton L. Chan: Kejadian 2:5-9.
Lagu Solo Sebelum Khotbah oleh Mr. Benjamin Kincaid Griffith:
“When They Ring The Golden Bells” (by Dion De Marbelle, 1818-1903).





Mysteries of Google Earth

10 01 2008





UFO’s on Google Earth….(luar biasa)

10 01 2008





secret images of google earth

10 01 2008





Google Earth Lacak Pelaku Pembunuhan

10 01 2008

Fino Yurio Kristo - detikinet
<!––>


Tampilan Google Earth (Ist.)
Melbourne - Google Earth berguna untuk mengetahui keadaan berbagai tempat di bumi dengan penginderaan dari satelit. Lewat manfaatnya ini pula, sebuah kasus pembunuhan diharapkan bisa terungkap.

Polisi Australia mengatakan, fasilitas gambar satelit dari Google Earth kemungkinan dapat membantu penyelidikan mereka dalam mengusut kasus pembunuhan seorang wanita yang terjadi di Melbourne.

Korban diketahui berdarah Asia dengan perkiraan usia antara 20 sampai 30 tahun. Ia ditemukan tak bernyawa terbungkus kantong plastik di sebuah pekarangan rumah yang sedang ditinggal penghuninya.

Secara kebetulan, satelit Google Earth sedang merekam gambar wilayah tersebut selama beberapa minggu dengan sebuah mobil van. Menurut Jeff Maher, Detektif senior yang menginvestigasi kasus ini, gambar-gambar yang  diambil oleh satelit tersebut kemungkinan bisa memberi petunjuk penting tentang kasus ini.

“Google Earth telah merekam area ini. Dengan teknologinya, kami mungkin bisa mendapatkan suatu petunjuk penting,” harap Maher, seperti dikutip detikINET dari News.com, Kamis (13/12/2007)