Pengaruh Faktor Lingkungan Laut pada Tingkah Laku dan Kelimpahan ikan

Leave a comment

1.  Suhu air laut

Reddy (1993) menyatakan bahwa ikan adalah hewan berdarah dingin, yang suhu tubuhnya selalu menyesuaikan dengan suhu sekitarnya. Selanjutnya dikatakan pula bahwa ikan mempunyai kemampuan untuk mengenali dan memilih range suhu tertentu yang memberikan kesempatan untuk melakukan aktivitas secara maksimum dan pada akhirnya mempengaruhi kelimpahan dan distribusinya. Menurut Laevastu dan Hela (1970), pengaruh suhu terhadap ikan adalah dalam proses metabolisme, seperti pertumbuhan dan pengambilan makanan, aktivitas tubuh, seperti kecepatan renang, serta dalam rangsangan syaraf. Pengaruh suhu air pada tingkah laku ikan paling jelas terlihat selama pemijahan. Suhu air laut dapat mempercepat atau memperlambat mulainya pemijahan pada beberapa jenis ikan. Suhu air dan arus selama dan setelah pemijahan adalah faktor-faktor yang paling penting yang menentukan “kekuatan keturunan” dan daya tahan larva pada spesies-spesies ikan yang paling penting secara komersil. Suhu ekstrim pada daerah pemijahan (spawning ground) selama musim pemijahan dapat memaksa ikan untuk memijah di daerah lain daripada di daerah tersebut. Perubahan suhu jangka panjang dapat mempengaruhi perpindahan tempat pemijahan (spawning ground) dan fishing ground secara periodik (Reddy, 1993).

Secara alami suhu air permukaan merupakan lapisan hangat karena mendapat radiasi matahari pada siang hari. Karena pengaruh angin, maka di lapisan teratas sampai kedalaman kira-kira 50-70 m terjadi pengadukan, hingga di lapisan tersebut terdapat suhu hangat (sekitar 28°C) yang homogen. Oleh sebab itu lapisan teratas ini sering pula disebut lapisan homogen. Karena adanya pengaruh arus dan pasang surut, lapisan ini bisa menjadi lebih tebal lagi. Di perairan dangkal lapisan homogen ini sampai ke dasar.

 

2.  Pengaruh arus

Ikan bereaksi secara langsung terhadap perubahan lingkungan yang dipengaruhi oleh arus dengan mengarahkan dirinya secara langsung pada arus. Arus tampak jelas dalam organ mechanoreceptor yang terletak garis mendatar pada tubuh ikan. Mechanoreceptor adalah reseptor yang ada pada organisme yang mampu memberikan informasi perubahan mekanis dalam lingkungan seperti gerakan, tegangan atau tekanan. Biasanya gerakan ikan selalu mengarah menuju arus. (Reddy, 1993).

Fishing ground yang paling baik biasanya terletak pada daerah batas antara dua arus atau di daerah upwelling dan divergensi. Batas arus (konvergensi dan divergensi) dan kondisi oseanografi dinamis yang lain (seperti eddies), berfungsi tidak hanya sebagai perbatasan distribusi lingkungan bagi ikan, tetapi juga menyebabkan pengumpulan ikan pada kondisi ini. Pengumpulan ikan-ikan yang penting secara komersil biasanya berada pada tengah-tengah arus eddies. Akumulasi plankton, telur ikan juga berada di tengah-tengah antisiklon eddies. Pengumpulan ini bisa berkaitan dengan pengumpulan ikan dewasa dalam arus eddi (melalui rantai makanan). (Reddy, 1993).

 

3.  Pengaruh cahaya

Ikan bersifat fototaktik (responsif terhadap cahaya) baik secara positif maupun negatif. Banyak ikan yang tertarik pada cahaya buatan pada malam hari, satu fakta yang digunakan dalam penangkapan ikan. Pengaruh cahaya buatan pada ikan juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan lain dan pada beberapa spesies bervariasi terhadap waktu dalam sehari. Secara umum, sebagian besar ikan pelagis naik ke permukaan sebelum matahari terbenam. Setelah matahari terbenam, ikan-ikan ini menyebar pada kolom air, dan tenggelam ke lapisan lebih dalam setelah matahari terbit. Ikan demersal biasanya menghabiskan waktu siang hari di dasar selanjutnya naik dan menyebar pada kolom air pada malam hari.

Cahaya mempengaruhi ikan pada waktu memijah dan pada larva. Jumlah cahaya yang tersedia dapat mempengaruhi waktu kematangan ikan. Jumlah cahaya juga mempengaruhi daya hidup larva ikan secara tidak langsung, hal ini diduga berkaitan dengan jumlah produksi organik yang sangat dipengaruhi oleh ketersediaan cahaya. Cahaya juga mempengaruhi tingkah laku larva. Penangkapan beberapa larva ikan pelagis ditemukan lebih banyak pada malam hari dibandingkan pada siang hari. (Reddy, 1993).

4.  Salinitas

Salinitas didefinisikan sebagai jumlah berat garam yang terlarut dalam 1 liter air, biasanya dinyatakan dalam satuan 0/00 (per mil, gram perliter). Di perairan samudera, salinitas berkisar antara 340/00 – 350/00. Tidak semua organisme laut dapat hidup di air dengan konsentrasi garam yang berbeda. Secara mendasar, ada 2 kelompok organisme laut, yaitu organisme euryhaline, yang toleran terhadap perubahan salinitas, dan organisme stenohaline, yang memerlukan konsentrasi garam yang konstan dan tidak berubah. Kelompok pertama misalnya adalah ikan yang bermigrasi seperti salmon, eel, lain-lain yang beradaptasi sekaligus terhadap air laut dan air tawar. Sedangkan kelompok kedua, seperti udang laut yang tidak dapat bertahan hidup pada perubahan salinitas yang ekstrim. (Reddy, 1993).

Sebaran salinitas di laut dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pola sirkulasi air, penguapan, curah hujan, dan aliran air sungai. Di perairan lepas pantai yang dalam, angin dapat pula melakukan pengadukan lapisan atas hingga membentuk lapisan homogen sampai kedalaman 50-70 meter atau lebih tergantung dari intensitas pengadukan. Di lapisan dengan salinitas homogen suhu juga biasanya homogen, baru di bawahnya terdapat lapisan pegat dengan degradasi densitas yang besar yang menghambat pencampuran antara lapisan atas dengan lapisan bawah (Nontji, 1993).

Volume air dan konsentrasi dalam fluida internal tubuh ikan dipengaruhi oleh konsentrasi garam pada lingkungan lautnya. Untuk beradaptasi pada keadaan ini ikan melakukan proses osmoregulasi, organ yang berperan dalam proses ini adalah insang dan ginjal. Osmoregulasi memerlukan energi yang jumlahnya tergantung pada perbedaan konsentrasi garam yang ada antara lingkungan eksternal dan fluida dalam tubuh ikan. Toleransi dan preferensi salinitas dari organisme laut bervariasi tergantung tahap kehidupannya, yaitu telur, larva, juvenil, dan dewasa. Salinitas merupakan faktor penting yang mempengaruhi keberhasilan reproduksi pada beberapa ikan dan distribusi berbagai stadia hidup. (Reddy, 1993)

5.  Oksigen Terlarut / DO (Dissolved Oxigen)

Oksigen sangat penting dalam proses respirasi, komponen ini tersedia dalam atmosfer dalam jumlah besar dan dalam jumlah kecil dihasilkan oleh tumbuhan melalui fotosintesis. Respirasi di perairan memerlukan oksigen dari dalam air dan menghilangkan limbah karbon dioksida. Insang adalah tempat di mana pertukaran gas terjadi pada sebagian besar jenis ikan, meskipun ada juga beberapa jenis ikan yang bernafas melalui kulit. Biasanya laju konsumsi oksigen dapat digunakan untuk mengukur intensitas metabolismenya. Laju ini dipengaruhi oleh ukuran ikan dan karakteristik air seperti suhu dan kandungan CO2. (Reddy, 1993).

Kandungan oksigen dalam air laut bervariasi terhadap suhu dan kedalaman. Pada sebagian besar lapisan permukaan laut, kandungan oksigen dalam air bervariasi dalam batas yang relatif sempit. Tetapi, di bawah lapisan termoklin, dekat dasar dan di beberapa daerah tropis kandungan oksigen bisa sangat rendah dan sangat mempengaruhi ikan maupun komunitas bentik yang lain. Migrasi ikan ke arah pantai pada beberapa jenis ikan dikontrol oleh kandungan oksigen dalam air. Perairan pantai kaya akan oksigen tetapi miskin makanan. Perairan yang lebih dalam di lepas pantai mengandung banyak makanan tetapi hanya sedikit oksigen sehingga ikan tidak dapat tetap berada dalam lapisan ini dalam waktu yang lama.

6.   Nutrien

Di antara beberapa nutrien yang ada di air laut, yang paling penting untuk kebutuhan biologis ikan adalah fosfat, nitrat, dan silikat karena komponen ini merupakan nutrien penting yang diperlukan untuk pertumbuhan plankton di laut. Nutrien diperlukan oleh tumbuhan untuk pembentukan molekul protein. Pada umumnya hewan mendapatkan protein secara langsung atau tidak langsung dari tumbuhan. Permukaan laut mendapat pasokan nutrien-nutrien tersebut terutama dari air pedalaman yang dibawa oleh air sungai, dan dari dasar perairan yang dalam. Air dari perairan yang sangat dalam menuju ke permukaan laut selama terjadi arus naik (upwelling) yang disebabkan oleh arus sepanjang pantai, atau sebagai hasil dari perubahan suhu yang menghasilkan konveksi arus (sirkulasi vertikal air), atau yang lainnya sebagai konsekuensi dari pertemuan arus horizontal, suhu hangat dan dingin. Hal ini menyediakan zona photik di lautan yang kaya nutrien, dengan demikian menimbulkan pertumbuhan phytoplankton yang melimpah, diikuti zooplankton dan ikan yang melimpah pula di daerah tersebut. (Reddy, 1993).

Pada beberapa daerah tropis, pengaruh perbedaan musim terhadap konsentrasi phospat pada peraian pantai lebih sedikit daripada pada daerah beriklim sedang. Selama periode monsoon, phospat akan melimpah sepanjang pantai. Jumlah silikat di perairan pantai secara umum tinggi jika dibandingkan sebelumnya sebagai akibat run off dari daratan.

7.   Upwelling

Upwelling adalah penaikan massa air laut dari suatu lapisan dalam ke lapisan permukaan. Gerakan naik ini membawa serta air yang suhunya lebih dingin, salinitas tinggi, dan zat-zat hara yang kaya ke permukaan (Nontji, 1993). Menurut Barnes (1988), proses upwelling ini dapat terjadi dalam tiga bentuk. Pertama, pada waktu arus dalam (deep current) bertemu dengan rintangan seperti mid-ocean ridge (suatu sistem ridge bagian tengah lautan) di mana arus tersebut dibelokkan ke atas dan selanjutnya air mengalir deras ke permukaan. Kedua, ketika dua massa air bergerak berdampingan, misalnya saat massa air yang di utara di bawah pengaruh gaya coriolis dan massa air di selatan ekuator bergerak ke selatan di bawah pengaruh gaya coriolis juga, keadaan tersebut akan menimbulkan “ruang kosong” pada lapisan di bawahnya. Kedalaman di mana massa air itu naik tergantung pada jumlah massa air permukaan yang bergerak ke sisi ruang kosong tersebut dengan kecepatan arusnya. Hal ini terjadi karena adanya divergensi pada perairan laut tersebut. Ketiga, upwelling dapat pula disebabkan oleh arus yang menjauhi pantai akibat tiupan angin darat yang terus-menerus selama beberapa waktu. Arus ini membawa massa air permukaan pantai ke laut lepas yang mengakibatkan ruang kosong di daerah pantai yang kemudian diisi dengan massa air di bawahnya.

Meningkatnya produksi perikanan di suatu perairan dapat disebabkan karena terjadinya proses air naik (upwelling). Karena gerakan air naik ini membawa serta air yang suhunya lebih dingin, salinitas yang tinggi dan tak kalah pentingnya zat-zat hara yang kaya seperti fosfat dan nitrat naik ke permukaan (Nontji, 1993). Selain itu proses air naik tersebut disertai dengan produksi plankton yang tinggi. Di perairan Selat Makasar bagian selatan diketahui terjadi upwelling. Proses terjadinya upwelling tersebut disebabkan karena pertemuan arus dari Selat Makasar dan Laut Flores bergabung kuat menjadi satu dan mengalir kuat ke barat menuju Laut Jawa. Dengan kondisi demikian dimungkinkan massa air di permukaan di dekat pantai Ujung Pandang secara cepat terseret oleh aliran tersebut dan untuk menggantikannya massa air dari lapisan bawah naik ke atas. Menurut (Nontji, 1993), proses air naik di Selat Makasar bagian selatan ini terjadi sekitar Juni sampai September dan berkaitan erat dengan sistem arus.

Air laut di lapisan permukaan umumnya mempunyai suhu tinggi, salinitas, dan kandungan zat hara yang rendah. Sebaliknya pada lapisan yang lebih dalam air laut mempunyai suhu yang rendah, salinitas, dan kandungan zat hara yang lebih tinggi. Pada waktu terjadinya upwelling, akan terangkat massa air dari lapisan bawah dengan suhu

rendah, salinitas, dan kandungan zat hara yang tinggi (Sverdurp, 1942 vide Setiawan, 1991; Reddy 1993). Keadaan ini mengakibatkan air laut di lapisan permukaan memiliki suhu rendah, salinitas, dan kandungan zat hara yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan massa air laut sebelum terjadinya proses upwelling ataupun massa air sekitarnya. Sebaran suhu, salinitas, dan zat hara secara vertikal maupun horisontal sangat membantu dalam menduga kemungkinan terjadinya upwelling di suatu perairan. Pola-pola sebaran oseanografi tersebut digunakan untuk mengetahui jarak vertikal yang ditempuh oleh massa air yang terangkat.

Sebaran suhu permukaan laut merupakan salah satu parameter yang dapat dipergunakan untuk mengetahui terjadinya proses upwelling di suatu perairan (Birowo dan Arief, 1983). Dalam proses upwelling ini terjadi penurunan suhu permukaan laut dan tingginya kandungan zat hara dibandingkan daerah sekitarnya. Tingginya kadar zat hara tersebut merangsang perkembangan fitoplankton di permukaan. Karena perkembangan fitoplankton sangat erat kaitannya dengan tingkat kesuburan perairan, maka proses air naik selalu dihubungkan dengan meningkatnya produktivitas primer di suatu perairan dan selalu diikuti dengan meningkatnya populasi ikan di perairan tersebut (Pariwono et al, 1988).

Upwelling di perairan Indonesia dijumpai di Laut Banda, Laut Arafura, selatan Jawa hingga selatan Sumbawa, Selat Makasar, Selat Bali, dan diduga terjadi di Laut Maluku, Laut Halmahera, Barat Sumatra, serta di Laut Flores dan Teluk Bone (Nontji, 1993). Upwelling berskala besar terjadi di selatan Jawa, sedangkan berskala kecil terjadi di Selat Bali dan Selat Makasar (Birowo dan Arief, 1983). Menurut (Nontji 1993), upwelling di perairan Indonesia bersifat musiman terjadi pada Musim Timur (Mei-September), hal ini menunjukan adanya hubungan yang erat antara upwelling dan musim.

8 .  Plankton dan Bentos

Plankton adalah organisme kecil yang keberadaannya mengambang bebas di kolom perairan, beberapa diantaranya tidak mempunyai alat pergerakan, pergerakannya mengikuti arus gelombang. Plankton dibedakan menjadi phytoplankton (tumbuhan) dan zooplankton (hewan). Phytoplankton terdiri dari tumbuhan mikroskopik, diatom, flagellata dan alga biru-hijau sedangkan zooplankton terdiri dari bermacam-macam spesies yang dikelompokkan dalam beberapa genera. Phytoplankton sangat penting untuk kehidupan di laut karena kemampuannya mensistesis makanannya sendiri dari bahan inorganik. Pola makan-dimakan di lautan menunjukkan sebuah jaring-jaring makanan. Zooplankton, karnivora kecil, merupakan jaring pertama dalam rantai makanan; biasanya mereka memakan

phytoplankton, zooplankton dimakan ikan, dan selanjutnya ikan dimakan oleh predatornya. Plankton mempunyai peranan yang penting dalam kehidupan ikan karena mereka berperan pada kelangsungan hidup larva ikan dan rekruitmen. Biasanya daerah yang kaya phytoplankton juga kaya zooplankton dan keberadaan ikan yang melimpah (Reddy, 1993). Organisme laut yang menetap di dasar laut (benthos) ada yang bergerak dan ada yang menetap. Organisme bentik merupakan komponen yang penting dalam jaring makanan di laut. Ikan demersal secara langsung memakan fauna benthik. Tahapan larva ikan pelagis banyak ditemukan di daerah demersal. Jadi keberadaan benthos juga berpengaruh dalam memasok ikan pelagis. Intensitas biomas benthik berhubungan dengan kepadatan ikan dan udang di suatu wilayah. Rata-rata jumlah dan berat organisme benthik mempunyai korelasi dengan produksi ikan demersal dan faktor oseanografi. (Reddy, 1993). 2.3.9 Front Front adalah daerah pertemuan dua massa air yang mempunyai karakteristik berbeda, misal pertemuan antara massa air dari Laut Jawa yang agak panas dengan massa air Samudera Hindia yang lebih dingin (Bidang Matra Laut-LAPAN, 1997). Daerah front ditandai dengan gradien suhu permukaan laut yang sangat jelas antara kedua sisi front (Setiawan, 1991). Robinson (1991) menyatakan bahwa front penting dalam hal produktivitas perairan laut karena cenderung membawa bersama-sama air yang dingin dan kaya akan nutrien dibandingkan dengan perairan yang lebih hangat tetapi miskin zat hara. Kombinasi dari suhu dan peningkatan kandungan hara yang timbul dari percampuran ini akan meningkatkan produktivitas plankton. Hal ini akan ditunjukkan dengan meningkatnya stok ikan di daerah tersebut. Selain itu front atau pertemuan dua massa air merupakan penghalang bagi migrasi ikan, karena pergerakan air yang cepat dan ombak yang besar.

Pendekatan Konvensional dan Pendekatan Ekosistem untuk Pengelolaan Perikanan

Leave a comment

Di antara beberapa ciri perikanan multijenis adalah adanya interkasi perikanan yag meliputi interaksi biologi, teknis dan ekonomi.  Interaksi itu sering menyulitkan dalam pengelolaan perikanan karena banyaknya pertimbangan.  Beberapa model konvensional seperti surplus production dan metoda yield per recruit dapat digunakan untuk mengelola perikanan ini.

Berkembangnya kajian berbasis ekosistem memberikan harapan penggunaan model ini untuk perikanan multijenis.  Di antara beberapa keputusan manajemen yang diperlukan untuk mengelola perikanan ini, kepeutusan management dalam arti yang sangat sempit, yakni introduksi regulasi seperti kuota hasil tangkapan, ukuran minimum, dan tindakan yang dirancang untuk lebih melindungi kepentingan khusus dari kelompok tertentu, misalnya pelarangan trawl dalam suatu jarak tertentu dari pantai untuk melindungi nelayan tradisional/artisanal diperlukan untuk melindungi sumberdaya dan keberlanjutan usaha pemanfaatannya.

Untuk mengembangkan pendekatan yang bersifat modern dengan memperhatikan perubahan yang terjadi secara dinais pada stok ikan seperti ukuran, umur, rekrutmen, serta perubahan ekologis masih memerlukan berbagai studi yang lebih mendasar khususnya aspek biologi dan aspek ekologi.  Berbagai alat bantu (software) untuk analisis stok telah banyak dikembangkan, namun keseluruhan alat bantu tersebut memerlukan masukan data yang reliable (data demand).  Data yang memadai sangat penting karena secara prinsip alat bantu tersebut mengikuti prinsip umum pemodelan bahwa jika masukan yang diberikan berupa sampah maka keluarannyapun berupa sampah (garbage in garbage out).  Walaupun tentu saja, orang-orang yang bekerja dengan system pemodelan tidak akan memasukan sampah ke dalam model yang dibangunnya.

 

Beberapa keterbatasan dari berbagai pendekatan terhadap managemen perikanan yang kini digunakan bersifat rumit/kompleks, mempunyai karakteristik sebagai berikut:

  1. Kekurangmampuan badan pengelola dalam menghadapi variabilitas kondisi lingkungan, aspek-aspek biologi dan ekonomi dari berbagai system perikanan.
  2. Kegagalan di dalam menentukan strategi jangka panjang atas sasaran/target managemen, termasuk tujuan-tujuan biologis, sosial dan ekonomi bagi perikanan.
  3. Ketidaktepatan skala waktu dan reaksi alamiah dari ketentuan/tindakan peraturan yang sudah ditetapkan.  Disatu pihak, kekurangkonsistenan dalam managemen selama kurun waktu tertentu, dan dilain pihak kekuranglenturan (kurang fleksibel) dalam bereaksi secara cepat terhadap berbagai peluang seperti perubahan pasar.
  4. Dominasi nasihat/advis/petunjuk yang bersifat biologi dengan pertimbangan yang kurang memadai terutama terhadap dampak stokastik dari petunjuk seperti itu, kurangnya peranan yang nyata atas pertimbangan social ekonomi dalam pengambilan keputusan managemen.
  5. Kekurangterlibatan dari mereka yang berkepentingan (termasuk orang-orang perikanan dan publik) dalam pembuatan keputusan managemen.
  6. Penurunan kemampuan dari badan-badan yang harus melaksanakan peraturan untuk membiayai pengeluaran dari system managemen yang tengah berlangsung.

Morfologi Gugusan Pulau Kecil (Archipelagic Islands) di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang dan Biaro

Leave a comment

Morfologi Gugusan Pulau Kecil (Archipelagic Islands)
di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang dan Biaro
oleh:
Joyce Christian Kumaat

Abstract
Small islands region have services and natural resources potency area of high and can be made as authorized capitals execution of development of Indonesia in the future. These regions provide a productive natural resource like is: coral reef, sea grass, mangrove forest, fishery and area of conservation. From various facts, above of course management of small’s islands need in paying attention to seeing level of sensitivities and susceptances from the islands. As for definition from small islands like the one in cited by Bengen and Retraubun (2006) which in pouring UNCLOS (1982, Chapter VIII Section 121 Sentence 1) is: ” Island is continent mass which formed naturally, encircled by water and always emerge above high water level”. Hereinafter, based on SK Menteri Perikanan dan Kelautan No. 41 Tahun 2000 define again based on geographical condition and water territory of Indonesia , that the concerned small islands is “island having wide area less than or equal to 10.000 km2 , with amount of residents less than or equal to 200.000 people” (DKP, 2001 in Bengen and Retraubun, 2006). North Sulawesi Province has 258 islands which have officially in registering in United Nations (UN) and verification had in detail. While, sub-province Sitaro have three (3) island bunch that is: Island bunch Siau and vicinities islands that is: P. Siau Besar, P. Gunatin P. Pahepa P. Kapuliha P. Masare, P.Mahoro, P. Laweang, P. Sanggeluhan (consisted: P. Bawondeke and P. Sanggeluhang), P. Makalehi; Island bunch Tagulandang and vicinities islands consisted: P. Taggulandang P. Passige and P. Ruang and last is Island bunch Biaro and vicinities islands P. Biaro P. Kalukughi P. Tandukuhang P. Tumbonang Besar P. Seba Besar and P. Salangka. Counted 33 of island where 10 islands which dweller and 22 not island not dweller and Makalehi Island is External Island in this area pass stipulating of President Regulation (Peraturan Presiden) No. 78 concerning management of external small’s islands.
Keywords: island, eustatic, sea-level, pulau

Nasib Peneliti dan Era Globalisasi

Leave a comment

Oleh:
Heni Rosmawati,
Humas, Bekerja di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

Banyak tulisan mengulas tentang betapa peneliti Indonesia sebagai aset intelektual selama ini keberadaannya kurang mendapat perhatian negara. Hal ini bisa dilihat dari minimnya gaji yang diterima seorang peneliti, bahkan untuk seorang peneliti yang telah mencapai puncak karier sebagai profesor riset. Dengan masa pengabdian selama 25 tahun, seorang peneliti dengan golongan tertinggi IV-E hanya dihargai Rp 4 juta per bulan. Dengan kondisi seperti ini, tidak aneh jika para peneliti merasakan ketimpangan yang hebat, tidak hanya jika dibandingkan dengan gaji peneliti di luar negeri, tapi juga dengan gaji kelompok profesi yang lain, seperti anggota DPR, pegawai negeri di institusi seperti Kementerian Keuangan, Sekretariat Negara, MA, KPK, bahkan guru. Ketimpangan yang dirasakan tidak melulu berujung pada perbedaan nominal rupiah, namun terlebih lagi pada rasa terabaikannya profesi peneliti dengan segudang aset intelektual yang ada di dalamnya. Bagaimanapun peran para peneliti bagi bangsa ini harus pula dikedepankan dan disandingkan setara dengan para pengabdi negara yang jujur, adil, dan tegas, baik itu guru, hakim, penyidik, maupun pegawai pajak dan perencana keuangan negara.
Motivasi
Perlu disadari bahwa motivasi utama yang mendorong peneliti dalam berkarya dan memiliki produktivitas tinggi adalah kesempatan untuk dapat melakukan suatu penelitian yang berkualitas. Motivasi tersebut didorong oleh keingintahuan untuk memahami suatu masalah sehingga dapat memberikan solusi. Motivasi tersebut timbul dengan asumsi bahwa kebutuhan dasar seorang peneliti telah dipenuhi (teori kebutuhan Maslow). Bentuk insentif yang berupa gaji yang tinggi, karier, dan promosi sebenarnya bukan dianggap hal yang penting. Karena itu, insentif harus diarahkan kepada upaya menciptakan lingkungan penelitian yang kondusif (termasuk peralatan dan/atau laboratorium), cukupnya waktu, dan pemenuhan sumber daya lainnya untuk dapat melakukan penelitian yang merupakan minatnya.

Sumber daya lainnya tersebut, misalnya, berupa dana untuk ikut dalam konferensi internasional. Hal seperti ini sudah sangat disadari di negara-negara yang maju industrinya dengan penguasaan iptek, yaitu dengan tersedianya anggaran iptek yang besar. Namun hal ini tak disediakan dengan cuma-cuma begitu saja. Dengan adanya alokasi anggaran yang tinggi, institusi penelitian di negara-negara maju selalu berada dalam tekanan untuk dapat menunjukkan kinerja nyata sesuai dengan tujuan, dan dapat memberikan hasil yang terukur (value for money). Lembaga riset pemerintah Australia (CSIRO), dalam mendapatkan dana riset dari pemerintah Australia, harus menetapkan target yang terukur dalam melakukan penelitian-penelitian yang strategis. Tidak hanya itu, dari tahun ke tahun pemerintah Australia juga mengurangi anggaran penelitian serta mendorong lembaga penelitian untuk menjadi mandiri. Dalam tekanan seperti ini para manajer di CSIRO harus dapat memastikan para penelitinya memiliki produktivitas yang tinggi dan sangat termotivasi. Tentunya hal itu bukan merupakan pekerjaan yang mudah karena mereka harus mengatasi hambatan yang umumnya dimiliki para peneliti, seperti sifat individualistik, ego dan kebanggaan yang tinggi, serta tuntutan pengakuan terhadap intelektualitas mereka. Memang jalan untuk menjadi seorang peneliti yang andal merupakan jalan panjang berliku yang memerlukan bakat, kerja keras, dan ketekunan yang mungkin para peneliti kita, seperti seorang Taufik Abdullah, Thee Kian Wee, dan almarhum Samaun Samadikun, telah membuktikannya.

Brain drain
Dalam bukunya China’s Emerging Technological Edge, Assessing the Role of High-End Talent, Denis Fred Simon mengisahkan bagaimana Cina berjuang untuk memanggil pulang hampir sejuta aset intelektualnya. Mereka sebagian besar adalah peneliti dan akademisi yang hidup dan bekerja di luar negeri. Perjuangan yang memakan waktu lama ini dimulai sejak era revolusi budaya periode Deng Xiaoping. Hal ini bukan merupakan pekerjaan yang mudah dan sangat memerlukan komitmen pemimpin bangsa. Komitmen yang berkesinambungan dimulai dari Deng Xiaoping dan para penerusnya yang terus melihat para peneliti dan akademisi brilian ini sebagai aset strategis bangsa. Komitmen tersebut diwujudkan oleh Deng Xiaoping sendiri dengan secara berkala pergi ke luar negeri mencari aset intelektual Cina ini.
Bahkan Perdana Menteri Cina Zhu Rongji pernah dalam suatu pidatonya di MIT (salah satu universitas ternama di Amerika) berani menjanjikan gaji dan insentif seperti yang mereka dapatkan ketika bekerja di Amerika. Bagi negara India, masalah brain drain ini merupakan fenomena tersendiri yang kemudian bertransformasi menjadi jaringan diaspora India yang berbalik menjadi suatu brain gain. Konsepnya adalah dengan menghubungkan aset dan bakat intelektual mereka di luar negeri dalam suatu jaringan internasional, sehingga “transfer of technology and knowledge” menjadi mudah dan dapat terjadi.

Sebenarnya hal seperti ini juga pernah dilakukan Pak Habibie ketika menjabat Menteri Riset dan Teknologi. Di eranya, Pak Habibie pada 1985 memelopori pengiriman sekitar 5.000 pemuda terpilih lulusan SMA untuk belajar di universitas terbaik dunia, seperti TU Delft di Belanda, TU Aachen di Jerman, Imperial College di Inggris, Toulouse di Prancis, Tokyo Institute of Technology di Jepang, serta Stanford dan MIT di Amerika. Untuk menyemangati para pelajar yang terkadang kepayahan oleh beratnya beban kuliah di luar negeri, Pak Habibie kerap mengunjungi para mahasiswa ini secara bergantian dalam tiap musim panas. Kedatangannya selalu memberikan motiva si untuk menyerap ilmu dengan maksimal dan kelak segera kembali dan bekerja di Indonesia. Namun, sekembali ke Tanah Air, ternyata banyak di antara mereka merasa tidak dapat berkarya dengan maksimal, yang berujung pada terbengkalainya aset intelektual bangsa.
Hal ini ditengarai akibat kaburnya grand strategy iptek yang dipunyai negara ini. Banyak di antara mereka yang kemudian kehilangan arah, bak berlayar tanpa mercusuar.
Peran peneliti Sudah lama disadari adanya keuntungan yang diperoleh negara-negara yang mempekerjakan bakat-bakat intelektual dari negara-negara seperti India dan Cina. Tudingan ini terutama ditujukan kepada para pengambil kebijakan di negara maju yang mempermudah peraturan untuk mempekerjakan para imigran dengan skill-set yang tinggi untuk bekerja di negara mereka. Alasannya, keberadaan mereka tidak menurunkan pendapatan rata-rata per kapita, malah meningkatkannya. Sudah sejak abad ke20, negara Amerika menikmati pertumbuhan ekonomi yang tinggi karena masuknya para peneliti kaliber internasional ke Amerika, akibat kondisi yang bergejolak di negara asal mereka.
Pada masa Perang Dunia Kedua, Albert Einstein dan Enrico Fermi hijrah dari Jerman dan Italia, dan membantu Amerika memenangi Perang Dunia Kedua. Kemudian, pada saat terjadi peristiwa Tiananmen di Cina, banyak sekali bakat intelektual Cina yang memutuskan untuk menetap dan bekerja di Amerika.
Sedangkan para ilmuwan dari India, yang mempunyai tradisi keilmuan tinggi dan berakar kuat, banyak yang memutuskan pergi ke Amerika untuk bekerja demi masa depan yang lebih baik. Memang fenomena brain drain sudah semakin tak terhindarkan dengan dunia yang semakin mendatar (baca connected) ini, seperti yang diungkapkan oleh Thomas L. Friedman dalam bukunya, The World is Flat.
Belajar dari pengalaman bangsa lain dalam menempatkan iptek dan aset intelektualnya, bangsa Indonesia harus mampu menyikapinya secara arif dan bijaksana. Bagaimanapun, perjuangan ke depan sebagai bangsa adalah berkompetisi dalam sistem perekonomian global yang berbasis pengetahuan. Kita hanya dapat berkompetisi jika mempunyai kemampuan inovasi yang tinggi dalam melakukan penelitian yang berkualitas. Sedangkan penelitian yang berkualitas hanya dapat dilakukan oleh bakat-bakat intelektual yang mempunyai pendidikan dan skill-set yang tinggi. Apa yang disuarakan oleh para peneliti akan minimnya gaji mereka seyogianya mendapat perhatian untuk selanjutnya disikapi pengambil kebijakan di negeri ini. Dengan demikian, negara ini masih punya PR untuk membuat para aset intelektual merasa nyaman dan termotivasi untuk berkarya menghasilkan inovasi yang berkualitas. Saatnya pemerintah dan masyarakat berpihak dan berkiblat pada ilmu pengetahuan dan teknologi. (Koran Tempo, 3 November 2010/ humasristek)

Konservasi Sumber Daya Alam sebagai Investasi

Leave a comment

Oleh:
Teddy Lesmana,
Peneliti di Pusat Ekonomi LIPI dan USAID-FORECAST Indonesia Scholar di University of Maryland at College Park, Amerika Serikat

Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, kita menyaksikan berbagai bencana alam yang datang silih berganti tiada henti. Peristiwa terakhir yang kita saksikan adalah bencana banjir bandang yang terjadi di Wasior, Kabupaten Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat, tsunami di Mentawai, dan letusan Gunung Merapi. Di lain tempat tak jauh dari kita, bisa kita lihat Jakarta yang kini berada dalam ancaman banjir yang bisa terjadi setiap saat.
Beberapa peneliti pun bahkan telah memprediksi, jika tidak ada upaya substansial yang dilakukan secara radikal, maka dalam kurun waktu yang tak lama lagi sebagian besar wilayah Jakarta yang juga merupakan simbol dari negara ini akan segera tenggelam. Melihat fenomena ini, sudah saatnya kita tidak mencari kambing hitam ketika bencana alam atau lebih tepatnya bencana ekologis terjadi. Karena jika kita menyadari, bencana-bencana tersebut terjadi bukan saja karena fenomena alam, melainkan sedikit banyak kita juga berkontribusi dalam mempercepat terjadinya bencana tersebut.
SDA dan pembangunan ekonomi
Sebagai negara yang dikaruniani kekayaan alam yang melimpah, Indonesia memang membutuhkan hasil ekstraksi dari sumber daya daya alam tersebut dalam membangun ekonominya. Secara teoritis, hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan telah lama menjadi perdebatan yang cukup krusial.
Teori ekonomi tradisional menyebutkan adanya trade-off antara pembangunan ekonomi dan kesinambungan sumberdaya alam/lingkungan hidup. Pertanyaan-pertanyaan mengenai mengenai trade-off antara pembangunan ekonomi dan konservasi sumber daya alam (SDA) juga semakin mengemuka terutama di negara-negara berkembang di kawasan Asia, Amerika Latin, dan Afrika yang umumnya masih mengandalkan potensi sumber daya alam (SDA) seperti hutan dan pertambangan bahan-bahan mineral sebagai sumber pendapatan ekonomi (Lee et al, 2005).

Upaya menyeimbangkan kepentingan untuk pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan merupakan hal yang tak mudah dalam praktik. Feiock dan Stream (2001) menyebutkan bahwa banyak pemimpin di dunia dihadapkan pada pilihan yang rumit antara menjaga kelestarian lingkungan dan upaya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Namun demikian, Feiock dan Stream (2001) dalam studinya mengenai dampak kebijakan lingkungan terhadap investasi swasta di 50 negara bagian di AS dalam kurun 1983-1994 menyebutkan bahwa tingkat investasi swasta dan pembangunan ekonomi dapat ditingkatkan dengan regulasi lingkungan yang dapat mengurangi ketidakpastian.
Hasil kesimpulan studi mereka juga menyebutkan, konflik kepentingan antara bisnis dan kepentingan lingkungan memang tak bisa dihindari. Beberapa unsur tertentu dari regulasi lingkungan mungkin akan menciptakan disentif bagi kegiatan ekonomi, namun secara umum kebijakan lingkungan yang dibarengi dengan reformasi kelembagaan pada institusi yang berwenang dalam mengawasi kelestarian lingkungan hidup justru akan mendorong investasi dan mempercepat pembangunan ekonomi. Tentunya investasi yang dimaksud tidak hanya bersifat mengeruk SDA tanpa kendali, namun harus memberikan manfaat bagi pengembangan modal fisik dan insani sekaligus tetap memperhatikan kaidah kesinambungan SDA dalam jangka panjang.

Eksploitasi yang berlebihan terhadap sumber daya alam juga akan menimbulkan biaya yang jauh lebih besar ketimbang dari manfaat ekonomi yang bisa kita ambil ketika “mother nature fights back” dalam bentuk bencana alam dan dampak kerusakan lingkungan terhadap kelangsungan kehidupan manusia. Apalagi saat ini kita telah mulai merasakan dampak perubahan iklim yang semakin nyata dengan semakin tidak jelasnya batasan antara musim penghujan dan musim kemarau.

Kita bisa lihat akibat perubahan iklim dengan semakin seringnya terdengar berita gagal panen petani atau rusaknya tanaman mereka akibat iklim yang semakin tak menentu. Dampak dari perubahan iklim akibat kurang bijaksananya kita dalam mengeksploitasi SDA (misalnya pembabatan hutan yang tak terkendali) dan manajemen pengelolaan lingkungan hidup yang tidak memperhatikan kaidah kesinambungan (sustainability) tentunya akan sangat berpengaruh dalam mempercepat kehancuran alam tempat kita berpijak.
Jika alam sudah tak bersahabat dan bencana semakin sering tejadi, maka hal ini pun akan berdampak terhadap kita utamanya masyarakat yang masih hidup di bawah ambang batas kemiskinan di pedesaan dan kawasan terpencil yang masih menggantungkan hidupnya kepada pertanian. Selain itu, eksploitasi SDA yang kurang bijaksana akan menyebabkan hilangnya ecosystem service seperti udara bersih dan segar, air bersih, dan keseimbangan ekosistem yang turut menopang keberlanjutan kehidupan manusia.
Konservasi sebagai investasi
Upaya konservasi sumber daya alam selama ini nampaknya tenggelam di tengah gemuruh upaya eksploitasi besar-besaran yang tidak terkendali demi kepentingan sesaat. Pun kita bisa lihat bahwa utilisasi dari sumber daya alam yang kita miliki tidak sepenuhnya bisa dinikmati oleh rakyat dalam bentuk kemakmuran sebagaimana yang diamanahkan oleh konstitusi kita. SDA kita banyak dieksploitasi untuk kemudian diekspor ke negara lain dengan harga yang sangat murah karena kita tidak pernah menghitung biaya kerusakan alam yang diakibatkannya. Hasil dari pendapatan akan penjualan kekayaan alam kita pun tidak kemudian otomatis diinvestasikan untuk memperkuat akumulasi modal fisik dan modal manusia Indonesia. Kita bisa lihat bahwa kualitas Human Development Index kita masih rendah dibandingkan negara yang tidak memiliki kekayaan alam seperti yang dimiliki Indonesia di kawasan Asia Tenggara.
Hampir sebagian besar pendapatan yang diperoleh dari pemanfaatan kekayaan kita tidak sepenuhnya berhasil ditransformasikan ke dalam bentuk penguatan akumulasi modal baik yang bersifat fisik maupun insani. Untuk itu, seyogianya kita sudah harus mulai berpikir bagaimana memanfaatkan SDA yang kita miliki dengan bijaksana dan berkesinambungan dan melakukan upaya konservasi yang sungguh-sungguh sebagai bentuk investasi jangka panjang.

Terkait dengan harmonisasi antara kepentingan ekonomi dan kelestarian lingkungan, ada baiknya kita mencermati pesan dari Profesor Herman E Daly (2007), seorang guru besar di bidang ecological economics di University of Maryland yang patut kita camkan dan laksanakan terkait dalam hal pengelolaan SDA yakni pertama, membatasi pengunaan SDA yang menghasilkan limbah untuk tidak melewati ambang batas kemampuan biologis ekosistem dalam menyerapnya. Kedua, dalam mengeksploitasi SDA seyogianya tidak melampaui batas kemampuan ekosistem dalam meregenerasi SDA tersebut, dan, ketiga, dalam mengonsumsi SDA yang tak terbarukan, hendaknya jangan melampaui kecepatan dari pengembangan subsitusi sumber daya yang terbarukan.
Jangan sampai terjadi ketika semua potensi SDA kita habis terkuras dan pada saat yang sama hasil pengelolaan SDA tersebut tidak digunakan untuk penguatan human capital di mana ketika pengembangan SDM tidak teroptimalkan, maka kita akan mengalami keadaan sebagaimana pameo “sudah jatuh, tertimpa tangga pula”. Jika kita mampu mengelola potensi SDA kita dengan bijaksana dan berkelanjutan sekaligus manfaat adanya SDA tersebut dapat dirasakan secara optimal bagi kesejahteraan segenap rakyat, tentunya kekayaan SDA yang kita miliki tersebut akan menjadi berkah dan bukan menjadi kutukan (resource curse). (Media Indonesia, 2 November 2010/ humasristek)

Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.