Inspirational

Kisah Inspiratif Seorang Dosen


Sang Dosen sangat inspiratif

“The mediocre teacher tells.

The good teacher explains.

The superior teacher demonstrates.

The great teacher inspires.”

William Arthur Ward
Kisah di bawah ini adalah kisah dari milis warga Indonesia alumni Jerman. Sangat Inspiratif , bernilai untuk dibaca dan direnungkan, dan dijadikan pembelajaran hidup.

Saya adalah ibu dari tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliah saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi. Sang Dosen sangat inspiratif, dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya. Tugas terakhir yang diberikan ke para siswanya diberi nama “Smiling.” Seluruh siswa diminta untuk pergi ke luar dan memberikan senyumnya kepada tiga orang asing yang ditemuinya dan mendokumentasikan reaksi mereka. Setelah itu setiap siswa diminta untuk mempresentasikan didepan kelas. Saya adalah seorang yang periang, mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang. Jadi, saya pikir,tugas ini sangatlah mudah.

Setelah menerima tugas tsb, saya bergegas menemui suami saya dan anak bungsu saya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk pergi kerestoran McDonald’s yang berada di sekitar kampus. Pagi itu udaranya sangat dingin dan kering. Sewaktu suami saya akan masuk dalam antrian, saya menyela dan meminta agar dia saja yang menemani si Bungsu sambil mencari tempat duduk yang masih kosong. Ketika saya sedang dalam antrian, menunggu untuk dilayani, mendadak setiap orang di sekitar kami bergerak menyingkir, dan bahkan orang yang semula antri dibelakang saya ikut menyingkir keluar dari antrian. Suatu perasaan panik menguasai diri saya, ketika berbalik dan melihat mengapa mereka semua pada menyingkir ? Saat berbalik itulah saya membaui suatu “bau badan kotor” yang cukup menyengat, ternyata tepat di belakang saya berdiri dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil! Saya bingung, dan tidak mampu bergerak sama sekali. Ketika saya menunduk, tanpa sengaja mata saya menatap laki-laki yang lebih pendek, yang berdiri lebih dekat dengan saya, dan ia sedang “tersenyum” kearah saya. Lelaki ini bermata biru, sorot matanya tajam, tapi juga memancarkan kasih sayang. Ia menatap kearah saya, seolah ia meminta agar saya dapat menerima ‘kehadirannya’ ditempat itu. Ia menyapa “Good day!” sambil tetap tersenyum dan sembari menghitung beberapa koin yang disiapkan untuk membayar makanan yang akan dipesan. Secara spontan saya membalas senyumnya, dan seketika teringat oleh saya ‘tugas’ yang diberikan oleh dosen saya. Lelaki kedua sedang memainkan tangannya dengan gerakan aneh berdiri di belakang temannya. Saya segera menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental, dan lelaki dengan mata biru itu adalah “penolong”nya. Saya merasa sangat prihatin setelah mengetahui bahwa ternyata dalam antrian itu kini hanya tinggal saya bersama mereka,dan kami bertiga tiba2 saja sudah sampai didepan counter.

Ketika wanita muda di counter menanyakan kepada saya apa yang ingin saya pesan, saya persilahkan kedua lelaki ini untuk memesan duluan. Lelaki bermata biru segera memesan “Kopi saja, satu cangkir Nona.” Ternyata dari koin yang terkumpul hanya itulah yang mampu dibeli oleh mereka (sudah menjadi aturan direstoran disini, jika ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan tubuh, maka orang harus membeli sesuatu). Dan tampaknya kedua orang ini hanya ingin menghangatkan badan.

Tiba2 saja saya diserang oleh rasa iba yang membuat saya sempat terpaku beberapa saat, sambil mata saya mengikuti langkah mereka mencari tempat duduk yang jauh terpisah dari tamu2 lainnya, yang hampir semuanya sedang mengamati mereka. Pada saat yang bersamaan, saya baru menyadari bahwa saat itu semua mata di restoran itu juga sedang tertuju ke diri saya, dan pasti juga melihat semua ‘tindakan’ saya.

Saya baru tersadar setelah petugas di counter itu menyapa saya untuk ketiga kalinya menanyakan apa yang ingin saya pesan. Saya tersenyum dan minta diberikan dua paket makan pagi (diluar pesanan saya) dalam nampan terpisah. Setelah membayar semua pesanan, saya minta bantuan petugas lain yang ada di counter itu untuk mengantarkan nampan pesanan saya ke meja/tempat duduk suami dan anak saya. Sementara saya membawa nampan lainnya berjalan melingkari sudut kearah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu untuk beristirahat. Saya letakkan nampan berisi makanan itu di atas mejanya, dan meletakkan tangan saya di atas punggung telapak tangan dingin lelaki bemata biru itu, sambil saya berucap “makanan ini telah saya pesan untuk kalian berdua.”

Kembali mata biru itu menatap dalam ke arah saya, kini mata itu mulai basah ber-kaca2 dan dia hanya mampu berkata “Terima kasih banyak, nyonya.” Saya mencoba tetap menguasai diri saya, sambil menepuk bahunya saya berkata “Sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini untuk kalian, Tuhan juga berada di sekitar sini dan telah membisikkan sesuatu ketelinga saya untuk menyampaikan makanan ini kepada kalian.” Mendengar ucapan saya, si Mata Biru tidak kuasa menahan haru dan memeluk lelaki kedua sambil terisak-isak. Saat itu ingin sekali saya merengkuh kedua lelaki itu.

Saya sudah tidak dapat menahan tangis ketika saya berjalan meninggalkan mereka dan bergabung dengan suami dan anak saya, yang tidak jauh dari tempat duduk mereka. Ketika saya duduk suami saya mencoba meredakan tangis saya sambil tersenyum dan berkata “Sekarang saya tahu, kenapa Tuhan mengirimkan dirimu menjadi istriku, yang pasti, untuk memberikan ‘keteduhan’ bagi diriku dan anak-2ku! ” Kami saling berpegangan tangan beberapa saat dan saat itu kami benar2 bersyukur dan menyadari,bahwa hanya karena ‘bisikanNYA’ lah kami telah mampu memanfaatkan ‘kesempatan’ untuk dapat berbuat sesuatu bagi orang lain yang sedang sangat membutuhkan.

Ketika kami sedang menyantap makanan, dimulai dari tamu yang akan meninggalkan restoran dan disusul oleh beberapa tamu lainnya, mereka satu persatu menghampiri meja kami, untuk sekedar ingin ‘berjabat tangan’ dengan kami. Salah satu diantaranya, seorang bapak, memegangi tangan saya, dan berucap “Tanganmu ini telah memberikan pelajaran yang mahal bagi kami semua yang berada disini, jika suatu saat saya diberi kesempatan olehNYA, saya akan lakukan seperti yang telah kamu contohkan tadi kepada kami.” Saya hanya bisa berucap “terimakasih” sambil tersenyum. Sebelum beranjak meninggalkan restoran saya sempatkan untuk melihat kearah kedua lelaki itu, dan seolah ada ‘magnit’ yang menghubungkan bathin kami, mereka langsung menoleh kearah kami sambil tersenyum, lalu melambai-2kan tangannya kearah kami. Dalam perjalanan pulang saya merenungkan kembali apa yang telah saya lakukan terhadap kedua orang tunawisma tadi, itu benar2 ‘tindakan’ yang tidak pernah terpikir oleh saya dan sekaligus merupakan ‘hidayah’ bagi saya, maupun bagi orang2 yang ada disekitar saya saat itu. Pengalaman hari itu menunjukkan kepada saya betapa ‘kasih sayang’ Tuhan itu sangat HANGAT dan INDAH sekali!

Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah dengan ‘cerita’ ini ditangan saya. Saya menyerahkan ‘paper’ saya kepada dosen saya. Dan keesokan harinya, sebelum memulai kuliahnya saya dipanggil dosen saya ke depan kelas, ia melihat kepada saya dan berkata, “Bolehkah saya membagikan ceritamu ini kepada yang lain?” dengan senang hati saya mengiyakan. Ketika akan memulai kuliahnya dia meminta perhatian dari kelas untuk membacakan paper saya. Ia mulai membaca, para siswapun mendengarkan dengan seksama cerita sang dosen, dan ruangan kuliah menjadi sunyi. Dengan cara dan gaya yang dimiliki sang dosen dalam membawakan ceritanya, membuat para siswa yang hadir di ruang kuliah itu seolah ikut melihat bagaimana sesungguhnya kejadian itu berlangsung, sehingga para siswi yang duduk di deretan belakang didekat saya diantaranya datang memeluk saya untuk mengungkapkan perasaan harunya. Diakhir pembacaan paper tersebut, sang dosen sengaja menutup ceritanya dengan mengutip salah satu kalimat yang saya tulis diakhir paper saya . “Tersenyumlah dengan ‘HATImu’, dan kau akan mengetahui betapa ‘dahsyat’ dampak yang ditimbulkan oleh senyummu itu.”

Dengan caraNYA sendiri, Tuhan telah ‘menggunakan’ diri saya untuk menyentuh orang-orang yang ada di McDonald’s, suamiku, anakku, guruku, dan setiap siswa yang menghadiri kuliah di malam terakhir saya sebagai mahasiswi. Saya lulus dengan 1 pelajaran terbesar yang tidak pernah saya dapatkan di bangku kuliah manapun, yaitu: “PENERIMAAN TANPA SYARAT.”

Jika anda berpikir bahwa cerita ini telah menyentuh hati anda, teruskan cerita ini kepada orang2 terdekat anda. Disini ada ‘malaikat’ yang akan menyertai anda, agar setidaknya orang yang membaca cerita ini akan tergerak hatinya untuk bisa berbuat sesuatu (sekecil apapun) bagi sesama yang sedang membutuhkan uluran tangannya!

Orang bijak mengatakan: Banyak orang yang datang dan pergi dari kehidupanmu, tetapi hanya ‘sahabat yang bijak’ yang akan meninggalkan JEJAK di dalam hatimu. Untuk berinteraksi dengan dirimu, gunakan nalarmu. Tetapi untuk berinteraksi dengan orang lain, gunakan HATImu! Orang yang kehilangan uang, akan kehilangan banyak, orang yang kehilangan teman, akan kehilangan lebih banyak! Tapi orang yang kehilangan keyakinan, akan kehilangan semuanya! Tuhan menjamin akan memberikan kepada setiap hewan makanan bagi mereka, tetapi DIA tidak melemparkan makanan itu ke dalam sarang mereka, hewan itu tetap harus BERIKHTIAR untuk bisa mendapatkannya. Orang-orang muda yang ‘cantik’ adalah hasil kerja alam, tetapi orang-orang tua yang ‘cantik’ adalah hasil karya seni. Belajarlah dari PENGALAMAN MEREKA, karena engkau tidak dapat hidup cukup lama untuk bisa mendapatkan semua itu dari pengalaman dirimu sendiri.

Tulisan ini di buat Oleh Husmaini Tando

(Dosen di Universitas Andalas, Padang Sumatera Barat)

Advertisements
Standard
GIS dan Remote Sensing

Jokowi dan Peta


Terinspirasi dari tulisan yang di rilis oleh http://megapolitan.kompas.com/read/2013/03/20/14055557/Jokowi.Gunakan.Data.Geospasial.Agar.Pembangunan.Optimal tentu banyak orang yang kaget sepertinya ini hal yang baru dan mengada-ada seorang gubernur sibuk melihat peta sebagai referensi untuk membangun kota…sedikit merenung kala peta akhirnya menjadi satu pusat perhatian dari pejabat yang suka blusukan ini.
Selama ini belum pernah terpublish di media atau kalo kita googling seorang petinggi mau berbicara peta sebagai satu dasar pertimbangan di dalam perencanaan, padahal kalau kita coba mengorek isi dari RTRW akan banyak terpampang peta yang di gambar secara artistik oleh geografer maupun kartografer yng memang di Indonesia masih jarang.
Istilah No Map, No Plan dan No Investment menjadi titik acuan dari seorang Jokowi, maunya para pejabat publik di tepmpat saya juga begitu, tapi apa mau dikata kadang peta hanya menghians dinding kantor atau dianggap seonggok kertas yang nantinya di pakai sebagai pengalas lantai yang basah…so sad, tapi kita harus terus mensosialisasikan bahwa peta adalah salah satu sarana di dalam perencanaan, sebagai awal dari pembaharuan pikiran para birokrat kita….mudah2an.

Standard
GIS dan Remote Sensing

Teknologi geospasial segera menjadi andalan untuk mengantisipasi bencana pasca peristiwa badai Katrina beberapa tahun lalu. Indonesia pun dapat mengambil manfaat serupa untuk meningkatkan kualitas proses tanggap darurat bencana.  Setelah topan berkategori 5 memorak-porandakan Amerika pada Agustus 2005, pemerintah negara bagian Alabama, salah satu daerah yang terdampak, memulai proyek yang menggunakan visualisasi 3D. Tujuannya adalah untuk meningkatkan penggunaan data infrastruktur maupun citra aset di seluruh wilayah itu melalui sebuah perangkat visualisasi yang terjangkau, terukur, dapat diperbarui serta berbasis aplikasi internet. Hasilnya adalah program Virtual Alabama, sebuah program yang menggabungkan berbagai data yang ditampilkan dengan antarmuka berupa bola dunia 3D berbasis Google Earth Enterprise. Data-data yang terdapat dalam program tersebut sangat berguna bagi pengguna teknis maupun non teknis. Salah satunya, program itu menyediakan common operating picture and situational awareness yang diperlukan regu penyelamat sebelum, selama, dan setelah terjadi bencana.

Langkah pemerintah Alabama itu bisa jadi berdasarkan fakta 80 persen data lembaga pemerintahan atau perusahaan besar mengandung informasi lokasi, sebagaimana diungkapkan Pankaj Khushani, Geo Head for Google Asia, dalam seminar Inovasi Geospasial untuk Pengendalian dan Pengambilan Keputusan yang Efektif di Balai Kartini, Selasa (21/6). “Data seperti itu akan lebih mudah dipahami ketika disajikan dalam bentuk geospasial,” tambah Rivaldi Rivai, Managing Director EB Connection Indonesia.

Di Indonesia, teknologi Geospasial Information System (GIS) sudah dimanfaatkan sejak lama. Namun penerapan visualisasi dalam bentuk antarmuka bola dunia 3D baru dilakukan Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) sejak akhir 2010. Seperti dikemukakan Deputi III UKP4, Agung Hardjono, teknologi ini dapat digunakan untuk mengawasi pelaksanaan pembangunan.
Lebih lanjut, Agung mengemukakan, teknologi GIS yang ada saat ini jika dipadukan dengan Google Earth Enterprise yang bisa dimodifikasi sesuai kebutuhan penggunanya, akan membawa manfaat besar. Seperti dalam masa tanggap darurat bencana maupun ketika merencanakan pembangunan kembali infrastruktur yang rusak.
Contoh kasusnya diungkapkan seorang staf Kementerian Perhubungan. Instansi yang sudah memanfaatkan GIS ini memadukan data berupa terminal angkutan umum di sekitar lereng Merapi yang mereka miliki dengan Google Earth saat terjadi erupsi akhir 2010 lalu. Hasilnya, mereka dapat segera menutup dua terminal yang berada dalam radius bahaya erupsi.
Tantangan penerapan teknologi ini terletak pada masalah koordinasi dan birokrasi pemerintahan yang masih membelit hingga saat ini. Apabila masalah itu bisa teratasi, keluhan penanganan bencana yang lamban akan bisa diminimalisir. Pasalnya, semua data yang dimiliki setiap instansi terkait, setelah diverifikasi dapat segera diunggah sehingga bisa diakses pihak yang membutuhkan. Keputusan yang tepat pun bisa segera diambil. “Platformnya sudah tersedia, tinggal bagaimana pemanfaatannya,” ujar Rivaldi.

Google Earth Enterprise sendiri merupakan varian dari Google Earth yang ditujukan bagi pengguna enterprise dan instansi pemerintahan. Berbeda dengan versi gratisnya, konten (data) versi ini bisa disesuaikan dengan kebutuhan penggunanya. Server dan storage aplikasi ini pun berada di tangan pengguna.
Sumber : nationalgeographic.co.id

Diposkan oleh Diklat GeoSpasial waktu 2/14/2013 12:05:00 PM

Teknologi Geospasial untuk Penanggulangan Bencana

Quote
Coastal Management

THE USE OF GEOGRAPHIC INFORMATION SYSTEM (GIS) FOR DISASTER MAP


Disaster MapResearch and Analysis

To determine the potential disaster area, GIS can help identify potential areas of disaster. Suppose to North Sulawesi, are potentially earthquake occurred since traversed by ocean and continental plates. North Sulawesi is also an area in a volcanic arc or area that has many active volcanoes. Northern part of the province, which are small islands, and along the southern peninsula of Sulawesi, facing the Molucca Sea would be potentially occurred Earthquake and Tsunami. Therefore, by utilizing GIS to mitigate and prepare for the threat of disaster.

GIS-Based Disaster Map

  1. Geographic Information Systems (GIS) is a tool that can support decision-making in all phases of the disaster cycle. In other words, is the explanation of all types of data that should have a high level of accuracy of a location or can be measured in the field using a GPS (Global Positioning System) to get a more accurate geographical coordinates. Initially the focus of GIS is mainly in response to the disaster. With the paradigm shift in disaster management rules has grown rapidly. The process of having to walk into an event that flows from preparation to mitigation, and emergency planning to the prediction and repair. Each directed activity resulted in the successful handling of the disaster. The rules were developed including the way taken in integrating different disciplines and expertise undefined number of different areas.
  2. GIS can act as an interface between all of these and can support all phases of the disaster management cycle.
  3. GIS can be applied to protect the lives, property and a critical infrastructure against disasters caused by nature; perform vulnerability analysis, the study of multiple natural disasters, evacuation route and planning, working on disaster scenarios that are objective, modeling and simulation, conducting disaster damage assessment and integrity of communities affected.  Avoiding disaster can begin with the identification of the risks in an area, followed by the identification of vulnerabilities to humans, animals, and the ownership structure resulting from the disaster. Knowledge of the physical, human and other holdings at risk is very urgent.
  4. GIS based thematic mapping of an area then overlaid with population densities, vulnerable structures, backgrounds disaster, weather information etc. determines who, what and which locations are most vulnerable to disasters. Mapping the capabilities of GIS in disaster with information about the surrounding area opens trend unique geography and spatial patterns which have visual clarity, is more understandable and help support the decision making process.
  5. The use of GIS in disaster risk management range of database creation, inventory, GIS overlay the simplest to advanced, risk analysis, cost-benefit analysis, geologic processes, spatial statistics, decision matrix, sensitivity analysis, geologic processes, correlation, autocorrelation, and many tools and algorithms for spatial decision making more complex. Once again be recognized that in areas where the risk of the potential hazards, mitigation process can begin.
  6. GIS can be used in the determination of the priority areas for disaster relief following the application of appropriate building standards, to identify structures for retrofitting, to determine the safety assurance to the public and civil buildings, to identify the sources of, and training and capabilities specific to hazards encountered and to identify the flooded areas and the relocation of the victim to safety. The areas most vulnerable to disasters are a top priority in conducting mitigation. All of the measures taken aimed at avoiding disaster when implemented; the next step is to get ready to face the situation when disaster strikes.
  7. GIS has provided an ideal idea about everything expected.
  8. GIS for disaster preparedness is effective as a means for determining the location as a place of refuge outside the disaster zone, identify alternative evacuation routes based on different disaster scenarios, the best route to a hospital outside the disaster zone, specialty and hospital capacity and others.
  9. GIS can provide an estimate of the amount of food, water, medicine and others such as for storage of goods or logistics
Standard
Inspirational

ANTAGONIS BENCANA (ALAM)!


Pengakuan itu datang dalam dokumen studi Our Common Future: manusia memiliki kontribusi bagi kerusakan global. Kerusakan lingkungan, kemiskinan, dan ancaman polusi disebabkan oleh gagasan datangnya suatu era pertumbuhan ekonomi yang tak mendasarkan pada pembangunan berkelanjutan (http://www.un-documents.net/ocf-02.htm). Telunjuk kita lantas menuding hidung kapitalisme yang dibiakkan melalui globalisasi. Kapitalisme dibangun di atas nalar instrumental yang menganggap relasi antara manusia dengan alam dalam satu jalur: manusia ordinat, alam subordinat.  Dalam nalar ini, alam dipandang sebagai sumber daya yang harus dicerap sebesar-besarnya untuk kepentingan manusia. Alam adalah modal, dan dalam prinsip ekonomi, modal harus dipergunakan untuk menangguk laba sebesar-besarnya. Kapitalisme yang diciptakan menjadi raksasa terhadap lingkungan, merujuk teori Rostow yang dimuat dalam Economic Journal (1956) bahwa pembangunan ekonomi atau proses transformasi suatu masyarakat tradisional menjadi masyarakat modern merupakan proses yang multi-dimensional. Pembangunan ekonomi bukan hanya berarti perubahan struktur ekonomi suatu Negara yang ditunjukkan oleh menurunnya peranan sector pertanian dan peningkatan peranan sektor industri saja.

Namun, siapa pula yang bisa menetapkan batas sejauh mana manusia berhak merambah alam, mengeduk bumi? Tak ada, sehingga seorang Gandhi pun harus berkata, “bumi bisa mencukupi kebutuhan setiap orang, tapi tak bisa mencukupi orang-orang yang rakus.”  Dari Gandhi, kita tahu, manusia tak akan pernah merasa cukup. Kapitalisme bisa bertahan dan dipuja banyak orang karena menyentuh sisi kerakusan kita. “Yang terpenting adalah bahwa keserakahan adalah kebaikan. Keserakahan adalah benar,” kata Gordon Gekko, seorang tokoh antagonis dalam film Wall Street, sebuah film yang bicara soal kapitalisme yang disutradarai Oliver Stone.  Maka inilah sistem, yang menurut Fukuyama dalam magnum opusnya The End of History and The Last Man, sudah final dan tak tergantikan. Sebuah sistem paripurna yang mampu menanggulangi krisis yang muncul dalam dirinya sendiri. Ketika kita bicara kapitalisme, kita tak bicara tentang ideologi yang mengklaim diri sempurna, tapi tentang hasrat kuasa. Dan kita sadar, naluri kuasa yang rakus lebih langgeng daripada doktrinasi ideologi yang ketat, kaku, dan hanya menjanjikan utopi.

Tapi sesuatu yang dianggap final tak selamanya benar. Kapitalisme global mungkin punya kesanggupan diri untuk mengatasi krisis yang muncul dalam sistem dirinya. Tapi, kapitalisme global telah membuat dunia berlari bak apa yang disebut Giddens sebagai juggernaut: sebuah mesin besar yang melindas apa saja yang dilintasinya. Dan, seperti layaknya pembalap jalanan yang ketika menabrak apa saja, korban selalu tertinggal jauh di belakang.  Kapitalisme global tak akan bisa mengembalikan apa aja yang telah dilindasnya menjadi utuh. Juggernaut itu tak akan bisa memperbaiki ekses destruktif yang dimunculkan oleh langkah-langkah raksasanya terhadap bumi, tehadap alam yang terlanjur rusak: global warming (pemanasan global).

Sebuah panel mengenai perubahan iklim yang diikuti sekitar dua ribu ilmuwan dari sejumlah negara mengeluarkan peringatan itu, pada Desember 2000. Mereka menyatakan, dunia tak bakal nyaman. Siklon, banjir, dan bencana badai terjadi empat kali lebih besar daripada tahun 1960. Suhu global melompat sekitar lima derajat celcius hingga abad berikutnya, dan permukaan es kutub utara semakin tipis saja. Sumber energi tak dapat dipulihkan setelah dieksploitasi habis selama setengah abad, dan separuh hutan di dunia telah musnah.

Apa benar demikian? Setelah Jakarta tenggelam oleh banjir (saya rasa tidak demikian), merupakan suatu proses nalar untuk belajar lagi bagaimana makin keras peringatan oleh alam. Orang menganggap bahwa di Indonesia itu gagal dalam penanganan berbagai permasalahan kebencanaan (disaster), tapi coba kita tengok di saat yang bersamaan bagaimana Australia Utara saja lumpuh oleh adanya banjir bandang, pendinginan (freezee) yang terjadi di Eropa dan membekunya kota Chicago (USA) semua ahli mengatakan ini adalah proses naturalisasi alam menuju Global Warming!.  Kemuskhilan kapitalisme tidak reliabel terhadap komposisi ekologis lahan, benar apa yang dikatakan Gandhi, orang-orang yang rakuslah yang menyebabkan bumi tua ini tercerai berai oleh pembukaan lahan untuk konsumerisme dan egoisme diri.  Banyak mata terbelalak, serta merta air mengalir memenuhi banyak lahan, seperti memenuhi gelas dan secara bergerombol mereka mencoba mengisap lagi memanfaatkan teknologi canggih, apa daya banyak kawasan elit sendiri yang dengan slogannya kawasan bebas banjirpun rata oleh gempuran air bah yang menghantam kawasan-kawasan orang berduit.  Bencana tidak melihat status dan harga diri, tidak demikian apa yang di kampanyekan oleh kaum kapitalisme, mereka inilah yang memberikan signal bahwa keserakahan adalah kebaikan. Alam pun berontak dan menangis setidaknya itu yang terjadi. Demikian!…

Awal Pebruari 2013 (Be My Valentine)

Standard

Cover Buku PJ

GIS dan Remote Sensing

[NEW BOOK] Penginderaan Jauh : Teori & Aplikasi

Image
Coastal Management

[New BOOK] Sistem Informasi Geografis : Suatu Pengantar Pemodelan Geografi


Review Buku

Review Buku

Kata Pengantar

 

Perkembangan teknologi tidak terpisahkan dari peradaban manusia, dimana teknologi bisa menyederhanakan semua permasalahan yang ditemui.  Sebagai bidang ilmu tersendiri Sistem Informasi Geografis memberikan sumbangan dalam berbagai aspek pekerjaan di muka bumi.  Pendekatan spasial yang banyak di pakai oleh para peneliti dan stakeholder lainnya berpijak dari konsep-konsep sistem informasi geografis yang mempermudah pengambilan suatu keputusan.Kehandalan Sistem Informasi Geografis harus didukung oleh infrastruktur yang kuat.  Saat ini, telah tersedian banyak perangkat lunak terbuka (open software) berbasis web seperti GoogleEarth, Marble, dan Java Open Street Map (JOSM).  Sedangkan perangkat lunak stand alone bisa memakai GRASS GIS, SAGA GIS, Quantum GIS dan masih banyak lagi software yang tersedia di dunia maya yang bisa diaplikasikan untuk dunia pendidikan.  Untuk saat ini, dengan adanya teknologi yang sophisticated kita sebagai user diuntungkan oleh banyaknya sumber data yang bertebaran di Internet seperti yang dikeluarkan oleh United State of Geological Survey (USGS) untuk Citra Landsat (Land Sattelite) dan Citra SRTM (Shuttle Radar Thematic Mapper).  Sedangkan oleh Badan Informasi Geospasial (BIG) yang dahulunya bernama BAKOSURTANAL menyediakan GeoPortal berbasis ArcGIS Server yang bisa diakses setiap hari melalui perangkat lunak ArcGIS.  Masih banyak lagi penyedia data online yang bisa membantu kita di dalam riset dan pembelajaran mengenai Sistem Informasi Geografis.

Buku Sistem Informasi Geografis ini disiapkan sebagai buku pegangan yang membantu mengarahkan mahasiswa memahami konsep-konsep Sistem Informasi Geografis sebagai alat bantu dalam menjawab fenomena-fenomena dan sifat-sifat dinamis alam sebagai dasar berpikir spasial.  Belajar berpikir spasial melatih kita untuk dapat merefleksikan keeratan hubungan antar manusia dan alam dengan domain waktu sebagai pembatas dalam mengelola sumberdaya alam, sehingga dimensi ruang dari setiap selnya bisa termanfaatkan.

Manado Medio November 2012

Penulis,

J Ch Kumaat

 

Standard