Pangandaran dan Tsunami


Pangandaran dan Tsunami

Oleh Dr. EKO YULIANTO

DALAM ilmu geologi ada istilah paleotsunami. Paleo artinya tua atau purba. Paleotsunami berarti tsunami purba atau tsunami yang terjadi pada zaman dahulu. Penelitian paleotsunami adalah penelitian untuk mengetahui tsunami yang pernah terjadi di masa-masa lalu berdasarkan bukti-bukti geologi. Bukti-bukti yang dimaksud umumnya berupa endapan-endapan pasir tsunami.

Endapan pasir tsunami memiliki ciri-ciri yang khas sehingga dapat dibedakan dari endapan pasir lainnya. Endapan ini sering kali ditemukan menutupi lapisan tanah purba. Secara umum endapan pasir tsunami memperlihatkan kenampakan struktur ukuran butiran menghalus ke bagian atas secara berangsur. Dalam satu endapan tsunami, struktur ini dapat terlihat lebih dari satu buah.

Struktur ini merupakan petunjuk bagi banyaknya gelombang yang melanda ketika tsunami terjadi. Endapan tsunami Aceh 2004 misalnya memperlihatkan paling banyak 6 buah struktur tersebut. Hal ini berarti bahwa paling sedikit ada enam buah gelombang datang pada saat tsunami melanda Aceh, Desember 2004. Di dalam pasir tersebut sering kali didapatkan cangkang-cangkang binatang renik yang berasal dari kedalaman laut. Bongkah-bongkah tanah juga acap kali terdapat di dalam pasir tsunami itu sebagai hasil gerusan gelombang tsunami.

Hasil penelitian paleotsunami dapat digunakan untuk mengetahui waktu perulangan terjadinya tsunami. Pengetahuan waktu perulangan tersebut penting untuk memprediksi waktu terjadinya tsunami di masa datang. Di sepanjang pantai selatan Pulau Jawa pengetahuan waktu perulangan tersebut juga penting untuk mengetahui perulangan gempa bumi di masa lalu. Hal ini karena penelitian sejarah gempa di masa lalu tidak mungkin dilakukan dengan pengamatan terumbu karang (seperti yang telah dilakukan oleh Prof. Kerry Sieh dari California Institute of Technology dan Dr. Danny Hilman Natawidjaja dari Puslit Geoteknologi-LIPI dalam rangka mengetahui sejarah gempa bumi di pantai barat Pulau Sumatra) karena terumbu karang tidak berkembang dengan baik di pantai selatan Jawa.

Hasil penelitian paleotsunami juga dapat digunakan sebagai acuan dalam penyusunan tata ruang wilayah pantai yang memperhatikan potensi bencana tsunami. Hal ini dilakukan dengan memahami sebaran endapan tsunami purba.

Endapan tsunami purba di Pangandaran

Seperti pantai barat Pulau Sumatra, secara umum pantai selatan Pulau Jawa juga rawan terhadap bencana tsunami. Hal ini karena kedua wilayah itu sama-sama berada di zona rawan gempa bumi sebagai hasil tumbukan (subduksi) antara lempeng samudra Indo-Australia dengan lempeng benua Eurasia. Interaksi kedua lempeng itu berlangsung terus dari dahulu hingga sekarang dan di masa-masa datang. Dengan demikian, gempa bumi pun masih dapat terjadi kembali setiap saat, begitu juga dengan tsunami.

Dalam catatan sejarah gempa bumi yang disertai tsunami pernah melanda pantai selatan Jawa beberapa kali di masa lalu, yaitu tahun 1840, 1859, dan 1921 (sumber: Newcomb & McCann, 1987). Tsunami tahun 1840 dan 1859 melanda pantai dari sekitar Yogyakarta hingga sekitar Trenggalek. Daerah yang terlanda tsunami 1921 hampir sama dengan daerah landaan tsunami Pangandaran 17 Juli 2006 meliputi daerah sekitar Tasikmalaya hingga Yogyakarta. Tsunami lainnya terjadi tahun 1994 yang melanda daerah Banyuwangi dan sekitarnya. Adakah tsunami-tsunami lain selain yang terekam dalam catatan sejarah itu?

Penelitian endapan tsunami purba di daerah Pangandaran berhasil mendapatkan paling tidak dua buah lapisan endapan tsunami purba. Endapan pertama yang berada pada kedalaman 10 hingga 20 cm dari permukaan tanah diduga merupakan endapan tsunami 1921. Tebal endapan ini mencapai hingga 4 cm. Sebagai perbandingan, tebal endapan pasir tsunami Juli 2006 di daerah Pangandaran mencapai hingga 11 cm. Selain ketebalannya, secara sepintas endapan tsunami ini mirip sekali dengan endapan tsunami Juli 2006 yaitu hanya terdiri dari satu lapis pasir berwarna kehitaman.

Pasir ini menyerupai pasir pantai yang ada di daerah Pangandaran. Ukuran butiran pasirnya seragam dari bawah ke atas dan mengandung kuarsa, biji besi, dan pecahan-pecahan cangkang berukuran pasir. Lapisan ini tidak dapat ditemui di setiap tempat mungkin karena sebagian telah hilang digerus erosi setelah diendapkan.

Lapisan endapan tsunami kedua berada pada kedalaman 2 meter di bawah permukaan. Ketebalan lapisan ini mencapai 15 cm, berwarna hitam agak kecokelatan. Di dalam pasir mengandung bongkahan-bongkahan tanah. Bongkahan-bongkahan ini kemungkinan merupakan hasil gerusan oleh gelombang tsunami yang kemudian diendapkan bersama pasir yang dibawanya. Lapisan ini meskipun cukup tebal, namun terlihat tidak menerus.

Yang menarik dari lapisan endapan tsunami yang kedua ini adalah bahwa lapisan ini diapit oleh lapisan endapan lempung hijau di bagian bawah dan lapisan lempung cokelat di bagian atasnya. Batas lapisan endapan tsunami dengan kedua lapisan lempung itu sangat tegas. Lempung hijau di bagian bawah kemungkinan diendapkan di lingkungan laguna, sementara lempung cokelat di atasnya yang mengandung sedikit pasir kemungkinan diendapkan di daratan.

Perubahan lingkungan dari laguna sebelum tsunami menjadi daratan setelah pasir tsunami diendapkan menunjukkan bahwa gempa bumi yang terjadi pada saat itu di samping menimbulkan gelombang tsunami, juga dibarengi dengan pengangkatan daratan. Hal ini menunjukkan bahwa gempa bumi yang terjadi pada saat itu kemungkinan merupakan gempa kuat. Kondisi seperti ini juga terjadi di beberapa tempat terutama di bagian selatan Pulau Simeulue pada saat gempa dan tsunami Aceh terjadi, Desember 2004 lalu. Hal yang sama juga terjadi di beberapa tempat di Pulau Nias pada saat gempa dan tsunami, Maret 2005.

Kapan waktu terjadinya tsunami kedua itu belum diketahui. Analisis penanggalan dengan metode karbon-14 akan dapat menjawab pertanyaan itu. Yang jelas, seperti juga Kota Padang, Pangandaran memang telah menjadi langganan tsunami sejak dahulu. Untuk itu pemerintah dan masyarakat perlu menyiapkan Pangandaran dengan lebih baik untuk menghadapi tsunami berikutnya yang tidak dapat diduga kapan datangnya. Hal ini perlu dilakukan mengingat pantai Pangandaran di samping memiliki populasi yang cukup padat juga merupakan tempat yang banyak dikunjungi wisatawan.***

Penulis, staf peneliti di Puslit Geoteknologi – LIPI dan anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung.

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s