Perspektif dan Masa Depan Perkembangan Reef Ball (Tilik Kaji dan Pembelajaran di PT. Newmont Nusa Tenggara, Sumbawa)


sumbawa
sumbawa
Pendahuluan
Terumbu karang merupakan jenis ekosistem yang sangat penting di perairan pantai daerah tropis karena ekosistem ini mempunyai produktivitas primer yang sangat tinggi. Besarnya produktivitas primer di daerah terumbu karang dapat mencapai 10 kg C/m2/tahun, sedangkan di perairan lepas pantai hanya berkisar antara 50 – 100 g C/m2/tahun (Supriharyono, 2000). Secara umum produktivitas primer kotor di perairan karang berkisar antara 2000 – 5000 gr C/m2/tahun. Tingginya produktivitas primer di daerah tersebut, menyebabkan produktivitas perikanannya menjadi tinggi pula, sehingga perairan karang merupakan daerah penangkapan ikan yang produktif. Steven dan Marshal (1974) yang diacu dalam Salm et al. (2000), melaporkan bahwa standing crop populasi ikan di daerah karang, dapat mencapai 5 – 15 kali ukuran crops dari fishing ground yang produktif di Altantik Utara. Oleh karena itu, perairan karang biasanya menjadi sasaran utama aktivitas perikanan dari sebagian besar masyarakat pesisir, yang hidupnya hanya bergantung pada sumberdaya terumbu karang tersebut.
Indonesia memiliki hamparan terumbu karang terluas ke dua di dunia setelah Australia, yaitu mencakup areal sekitar 50.000 km2 (Supriharyono, 2000). Beberapa laporan sebelumnya menyebutkan sekitar 75.000 km2 (Cesar, 1998; Johannes dan Riepen, 1995), ada juga yang menyebutkan luas tersebut sekitar 42.000 km2 berdasarkan estimasi nilai total terkecil (Anonymous, 2000a). Keanekaragaman terumbu karang Indonesia merupakan yang terkaya di dunia (Edinger et al., 1998; Chou, 2000); sehingga menempatkannya sebagai pusat keanekaragaman terumbu karang global (De Vantier et al., 1998; Cesar, 1998; Supriharyono, 2000; Suharsono, 2001).
Terumbu karang mempunyai peranan yang sangat penting bagi kehidupan manusia, di antaranya adalah sebagai sumber bahan pangan, obat-obatan dan bahan baku industri, serta tempat rekreasi dan pendidikan. Disamping itu, dari segi ekologi, terumbu karang berperan sebagai pelindung pantai dari hempasan ombak dan abrasi pantai; serta sebagai tempat pemijahan, pembesaran dan mencari makan dari sebagian besar ikan ekonomis penting. Sayangnya, aktivitas pembangunan yang dilakukan di wilayah pesisir dewasa ini, telah memberikan beragam dampak negatif yang cukup nyata terhadap keberadaan dan kualitas sumberdaya terumbu karang di Indonesia. Beberapa laporan yang senada menyebutkan bahwa sumberdaya terumbu karang telah mengalami degradasi yang sangat serius (Cesar, 1998; Anonymous, 2000b; Chou 2000). Kondisi terumbu karang Indonesia yang dapat dikategorikan baik sampai dengan sangat baik saat ini, diperkirakan hanya tinggal sekitar 29% (Suharsono et al., 1997; Cesar, 1996, 1998; Djohani, 1998; Chou, 2000). Bahkan laporan JICA Study Team (2002) menyebutkan bahwa kondisi terumbu karang pada beberapa tempat di Sulawesi Utara yang diklasifikasikan baik sampai dengan sangat baik hanya tinggal 2%. Terdapat indikasi kuat bahwa kerusakan terumbu karang Indonesia sedang terus berlanjut karena tekanan berbagai aktivitas manusia.
Kerusakan terumbu karang dapat disebabkan oleh berbagai faktor fisika, kimia dan biologis; namun secara umum, kerusakan terumbu karang dapat dibedakan menjadi kerusakan karena kejadian alam dan kerusakan karena aktivitas manusia atau antropogenik (Salm et al., 2000). Cesar (1996, 1998) mengemukakan bahwa terdapat lima aktivitas manusia yang merupakan ancaman utama terhadap kerusakan terumbu karang di Indonesia, yaitu: penggunaan racun (cyanide fishing), penggunaan bom (blast fishing), penambangan karang (coral mining), sedimentasi dan polusi, serta kelebihan eksploitasi (over fishing).
Dampak kerusakan ekosistem terumbu karang terhadap produksi perikanan telah banyak dilaporkan; di antaranya, Suharsono et al. (1998) melaporkan bahwa terdapat korelasi positif antara kelimpahan ikan karang, dengan tutupan karang hidup di Kepulauan Seribu. Hasil tangkapan alat destruktif ilegal seperti muro-ami di daerah tersebut terus menurun drastis, dan bahkan blast fishing sekalipun nampaknya tidak menguntungkan lagi secara ekonomis (Erdmann, 1998). Kerusakan terumbu karang telah mengakibatkan penurunan jumlah spesies ikan yang berasosiasi dengannya, disertai dengan penurunan daya tarik pariwisata dan hilangnya suatu ekosistem yang sangat berharga (Clark, 1992).
Terumbu buatan atau artificial reefs merupakan salah satu dari sekian banyak alternatif yang dapat digunakan untuk mengurangi tekanan penangkapan ikan dan perusakan terumbu karang alami, yaitu melalui penciptaan daerah penangkapan ikan baru yang produktif. Dengan demikian, terumbu karang alami yang telah mengalami degradasi diharapkan secara berangsur-angsur akan dapat pulih kembali. Terumbu buatan telah digunakan dalam berbagai tujuan (Rilov dan Benayahu, 2002), tetapi sebagian besar untuk meningkatkan potensi fishing ground (Bohnsack et al., 1991; Bombace et al., 1994), sementara manfaat lainnya adalah sebagai alat mitigasi kerusakan lingkungan (Seaman dan Sprague. 1991).
Terumbu buatan adalah suatu struktur bangunan buatan manusia atau alami yang ditempatkan di dasar perairan menyerupai terumbu karang alami, berfungsi sebagai habitat tempat berlindung, mencari makan dan berkembang biak dari berbagai biota laut termasuk ikan; yang kemudian diharapkan dapat menjadi daerah penangkapan ikan yang produktif. Berbagai laporan menyebutkan bahwa terumbu buatan dapat meningkatkan produksi perikanan dan pendapatan nelayan (Montemayor, 1991; Sinanuwong, 1991; Hung, 1991; Polovina, 1991a). Biomasa di terumbu buatan umumnya tujuh kali lebih besar dari pada biomasa di habitat alami (Stone et al., 1979). Pickering dan Whitemarsh (1997) melaporkan bahwa terdapat sejumlah fakta empiris tentang pengaruh biologis pada terumbu buatan, dan beberapa di antaranya mendukung hipotesis bahwa terumbu buatan dalam kondisi spesifik mampu meningkatkan produksi.
Jepang merupakan negara yang paling maju dalam hal terumbu buatan; dan Nakamae (1991), menyimpulkan bahwa terumbu buatan memberikan pengaruh terhadap hasil tangkapan ikan yang relatif sama dengan daerah penangkapan ikan di terumbu karang alami. Selanjutnya disebutkan bahwa dari segi biologi, terumbu buatan telah menjadi daerah pemijahan ikan dan pembesaran juvenile, serta menunjang peningkatan kelimpahan makanan (sea farming dan marine ranching). Dari segi sosial ekonomi, telah dilaporkan tentang penghematan bahan bakar dan peningkatan kualitas kesegaran ikan karena daerah penangkapan ikan yang lebih dekat dari pangkalan, serta peningkatan kesadaran di antara nelayan tentang pengelolaan daerah penangkapan ikan.
Terumbu buatan di Indonesia semakin banyak mendapat perhatian, tetapi aksi pengelolaan masih dilaksanakan secara insidentil dalam skala kecil dan terbatas pada instansi-instansi tertentu secara parsial. Pengembangannya belum direncanakan dan dianggarkan secara nasional, seperti Malaysia, Thailand, Philippine dan India. Pemerintah Indonesia belum melangkah ke dalam aktivitas pengembangan artificial reefs seperti negara-negara tetangga, tetapi lebih ke arah rehabilitasi terumbu karang yang telah rusak dengan cara transplantasi, yang dianggap sebagai suatu pendekatan yang relatif murah untuk perbaikan habitat dan peningkatan sumberdaya perikanan. Wasilun dan Murniyati (1997) melaporkan bahwa transplantasi karang hingga saat ini belum dikembangkan, karena walaupun telah dilakukan penelitian-penelitian, tetapi aplikasi secara ekonomis belum banyak diterapkan.
Pengembangan terumbu buatan di Indonesia masih jauh ketinggalan, baik dari negara-negara dalam kawasan Asean maupun dari negara-negara berkembang lainnya di daerah tropis. Jika dibandingkan dengan negara maju seperti Jepang misalnya, proyek artificial reefs adalah setara dengan proyek-proyek pekerjaan umum nasional (public works), yang perencanaan jangka panjang dan pembiayaannya diputuskan dalam sidang kabinet, yang kemudian dievaluasi dan direvisi pada setiap jangka waktu 6 tahun (Nakamae, 1991). Jadi proyek tersebut telah ditetapkan di bawah perencanaan ekonomi nasional secara komprehensif.

Perspektif
Terumbu buatan, dilihat dari fungsinya yang multiguna, adalah salah satu solusi yang perlu dipertimbangkan secara komprehensif, untuk menanggulangi degradasi lingkungan, memperbaiki sumberdaya perikanan dan habitatnya, serta diharapkan dapat menghidupi ribuan desa pantai, terutama di sekitar karang sepanjang wilayah pesisir Kepulauan Indonesia. Seaman dan Jensen (2000) mencatat bahwa minimal terdapat 13 jenis tujuan penggunaan terumbu buatan, yaitu untuk:
(1) Meningkatkan produksi perikanan rakyat
(2) Meningkatkan produksi perikanan komersial
(3) Lokasi budidaya laut dan marine ranching
(4) Meningkatkan recreational fishing (memancing dan spear)
(5) Lokasi rekreasi skin diving
(6) Lokasi pariwisata bawah laut (submarine tourism)
(7) Mengendalikan mortalitas penangkapan ikan
(8) Mengendalikan life history organisme laut
(9) Melindungi habitat ikan
(10) Daerah konservasi keanekaragaman hayati laut
(11) Mengurangi degradasi dan kehilangan habitat
(12) Meningkatkan kualitas air dan kualitas habitat
(13) Penelitian dan pendidikan

Apa yang akan dikerjakan kedepan?
Pentingnya pengelolaan dan penataan kebijakan pesisir dan laut salah satu cara yang di anggap efektif di dalam merestorasi lingkungan pesisir adalah dengan menempatkan artificial reef sebagai penyeimbang ekosistem pesisir kearah yang lebih bertanggung jawab. Secara bermakna arti dari restorasi adalah melakukan perbaikan, hal ini diindikasikan untuk lahan berterumbu yang berada di sepanjang pesisir Sumbawa Barat. Dari laporan AMDAL tahun 2006 yang dilaksanakan oleh Departement Lingkungan PT NNT yang bekerjasama dengan PKSPL-IPB melaporkan telah dilaksanakan survey pada 13 sites (transek karang dan ikan karang) untuk monitoring keberadaan indikator-indikator penting sebagai penyusun ekosistem terumbu karang. Dari ke 13 lokasi transek yang dilaksanakan belom ada melaporkan mengenai kebaradaan artificial reef atau reef ball sebagai bahan monitoring setalah dilakukan deployment (penebaran).
Untuk itu, sebagai bahan masukan di dalam mempertimbangkan pemanfaatan reef ball sebagai suatu sub-ekosistem yang baru tentunya perlu adanya kajian yang komprehensif dan berkelanjutan tentang arti penting reef ball yang sudah ada.
Sebagai awal di dalam pelaksanaan monitoring ini ada beberapa hal yang perlu dilakukan sebagai berikut:
• Pemetaan dan Penentuan Posisi
Maksud pelaksanaan pekerjaan ini adalah untuk mematakan setiap unit reef ball yang sudah diletakkan dan yang akan direncanakan. Selain itu, data-data yang sudah dan akan di monitoring dapat baca dan di analisis keberlanjutan dengan memanfaatkan Sistem Informasi Geografis sebagai alat bantu di dalam memonitoring perkembangan reef ball.
• Bentuk dan tipe karang alami diamati dengan metode Manta Tow. Zonasi bentuk dan tipe pertumbuhan karang dipetakan dengan menggunakan GPS (Global Positioning System) pada setiap jarak pelayaran kecepatan tetap selama 2 menit. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi bentuk dan tipe karang dalam zonasi tersebut yang dapat dijadikan obyek pengamatan asosiasi ikan. Bentuk karang seperti fringing reef, barrier reef, branching, massive, tabular, patch reef, coral rubble, atau standing dead coral, di petakan posisinya secara lebih akurat (GPS) oleh penyelam atau snorkel diver pada setiap zonasi. Data struktur komunitas spesies target dikumpulkan dengan teknik underwater visual census (UVC).
• Kajian desain dan konstruksi terumbu buatan
Tahapan ini merupakan kajian teoritis (references review) terumbu buatan dan observasi lapang, bertujuan untuk mencari informasi sebanyak mungkin tentang habitat buatan dari segi biologi, fisik-kimia lingkungan dan material, serta mengidentifikasi bentuk-bentuk terumbu alami yang diseangi spesies target termasuk predeployment survey. Hasil kajian ini menuntun pada penyusunan konsep dasar desain terumbu buatan. Pertimbangan teknis adalah menyangkut pemilihan material, komposisi material, rencana bentuk, ukuran terumbu dan kompleksitas (void space), serta pilihan dari berbagai alternatif desain sehingga struktur dapat dikonstruksi, ditransportasi dan diturunkan ke dasar laut. [ kajian ini tidak perlu dilaksanakan dikarenakan PTNNT sudah memilih reef ball sebagai artificial reef dan sudah dilakukan uji layak tidaknya reef ball sebagai alternatif restorasi lingkingan pesisir]
• Kajian stabilitas terumbu terhadap gaya hidrodinamik
Gaya-gaya fisik oseanografi yang berlebihan dapat menyebabkan erosi sedimen dasar dan memindahkan struktur terumbu atau tertimbun sedimen, dan berkurangnya kapasitas weight-bearing di dasar perairan. Pengaruh gaya arus dan gelombang terhadap stabilitas terumbu diprediksi berdasarkan data lapangan melalui rumusan Nakamura (1982) dan Grove et al. (1991), termasuk memprediksi landing impact ketika struktur dijatuhkan secara bebas ke laut.
• Pengamatan vortex current pada model terumbu
Parameter oseanografi seperti gangguan arus akibat adanya rintangan struktur terumbu (vortex current) sulit diamati di lapangan, sehingga untuk mendekatinya maka digunakan model terumbu yang diamati dalam portable water circulation tank. Tujuan utama dari percobaan ini adalah mengidentifikasi sifat-sifat arus terutama vortex current yang dapat dimanfaatkan untuk memaksimalkan potensi terumbu buatan.
• Kajian kinerja sosial ekonomi terumbu buatan
Kajian ini mencoba membandingkan nilai ekonomi terumbu karang alami (total economic value) dengan biaya pembuatan dan produksi perikanan terumbu buatan per satuan unit area atau reef surface; kemudiam memprediksi apakah suatu proyek terumbu buatan dapat memberikan manfaat dan kontribusi terhadap kesejahteraan manusia; serta menilai apakah proyek efektif dalam penggunaan dana.

One thought on “Perspektif dan Masa Depan Perkembangan Reef Ball (Tilik Kaji dan Pembelajaran di PT. Newmont Nusa Tenggara, Sumbawa)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s