Teologi Bencana:Keresahan Ilmu Pengetahuan menjawab Kegalauan Alam


Joy Christian Kumaat[1]

 Berapa besar kesalahan dan dosaku?
Beritahukanlah kepadaku pelanggaran dan dosaku  itu!!!…

Ayub 13:23

Sudah bisa diduga, dalam bencana besar seperti tsunami, gempa, gunung meletus, banjir bandang,topan dan lain sebagainya akan memberikan dampak kerusakan yang luar biasa dan menjadi perusak dan pembunuh massal di kolong langit ini. Seperti halnya pelepasan energy pemboyong tsunami yang menewaskan tak kurang dari 100.000 orang Aceh, ratusan orang di Nias dan Kepulauan Mentawai, akan banyak sekali orang yang tidak puas dengan sekadar penjelasan ilmiah dan yang terakhir apa yang sudah terjadi di Jepang, Negara yang sudah mapan dan angkuh teknologinya tak urung di goyang “super” gempa dengan skala 8.9 SR, sehingga terjadi Tsunami yang mahahebat, tidak tertankan amukan massa air laut gelombang pasang yang menimbulkan mega energy mahadasyat, semua karena kuasa Tuhan tidak ada satupun pelindung ampuh yang dapat menahannya (sungguh muskhil). Keterangan para ahli gempa dan tsunami soal lempengan-lempengan bumi yang bergeser setiap tahun, lantas bergetar, menelan dan lalu memuntahkan air yang sedemikian dahsyat tidak dianggap memadai untuk memuaskan dahaga keingintahuan mereka. Makanya, selalu ada banyak orang yang terobsesi untuk tahu lebih dalam tentang penyebab terjauh dari semua itu dengan melontarkan pelbagai ultimate questions. Kalau sudah berpikir soal penyebab terjauh, perbincangan tentulah sudah masuk ke ranah filsafat atau teologi. Lantas muncullah pertanyaan: sejauh apa peran Tuhan di dalam “menghajar” sedemikian banyak korban itu? Pada titik inilah spekulasi-spekulasi teologis berlangsung dengan begitu liarnya. Intinya, telah muncul rumusan teologi tentang bencana alam (tidak murni buatan manusia seperti tragedi Poso dan Maluku) yang pada akhirnya tetap terjebak di dalam dua perangkap teologis yang mengharukan: entah mengambinghitamkan korban bencana sendiri ataupun menyalahkan Tuhan yang dianggap sebagai pihak yang tak pandang ampun dan tak kenal belas kasihan menghajar hamba-hamba-Nya. Kedua kecenderungan itu rupanya juga bagian dari pandangan teologi masyarakat kita yang cenderung fatalistik. Ketika rumusan teologis yang dikemukakan mengasumsi bahwa bencana Aceh adalah refleksi dari kemurkaan Tuhan, di situ secara eksplisit sudah terkandung nada-nada yang menyudutkan dan menyalahkan rakyat Aceh yang kini menjadi korban (blaming the victims). Sebaliknya, ketika bencana ini dianggap sebagai “ujian” Tuhan untuk umat manusia yang Dia cintai, sebagaimana yang dikatakan sejumlah kutipan kitab suci (perhatikan betapa beratnya ujian itu!), secara implisit kita juga sedang terlibat dalam proses menyalahkan Tuhan (blaming God). Kedua kecenderungan tadi tentu bukanlah rumusan teologis yang bisa dianggap elegan dan ideal tentang bencana alam. Untuk itulah, kita diajak membuat rumusan teologis yang tidak gegabah dan potensial menambah luka dan duka rakyat Aceh sekaligus berpandangan elegan dan fair terhadap Tuhan sendiri. Itulah rumusan teologis yang sekarang sedang kita cari dan kita kehendaki.

Secara psikologis, manusia tidak pernah betah menjalankan hidup dengan menyisakan sejumlah misteri karena misteri adalah kegelapan. Dan, kegelapan pada hakikatnya adalah situasi yang cenderung dibenci. Untuk itu, kegelapan itu coba diterobos dan diterangi, baik dengan penjelasan ilmu pengetahuan maupun penjelasan agama atau teologi. Tetapi, sudah nyata bahwa penjelasan ilmu pengetahuan dan penjelasan agama memang berbeda. Kita bisa memahami sebuah misteri secara lebih pasti dan dapat memverifikasinya secara ilmiah dengan perangkat dan metode yang disediakan ilmu pengetahuan. Sebaliknya, penjelasan agama tak jarang justru menjelma menjadi deretan spekulasi yang tiada henti. Dan, naifnya, kita tidak pernah kunjung bisa memverifikasi sisi kebenarannya kecuali meyakini saja. Kita sesungguhnya tidak pernah bisa menanyakan kebenaran “versi Tuhan” akan bencana Aceh, apalagi mendialogkannya secara langsung. Karenanya, para sosiolog cenderung mengatakan bahwa “kebenaran agama” tidak pernah bisa dibuktikan dan bersifat prapengalaman. Walaupun sedang berspekulasi secara liar, dia selalu saja diimani sebagai kebenaran yang hakiki, sekalipun belum dibuktikan. Di sinilah problematisnya spekulasi- spekulasi tentang Tuhan dalam tsunami kemarin.

Ada artikel yang cukup bagus di The Age Australia. Isinya kira-kira mempertanyakan: apakah Tuhan yang harus disalahkan? Dua hari yang lalu, kolumnis raksasa Amerika bernama William Safire juga menulis sebuah artikel di New York Times dengan judul “Where was God?”

Di kalangan Kristen abad ke-18, memang ada pendirian semacam itu juga. Filosif Leibnitz misalnya mengatakan, Tuhan selalu mempunyai alasan yang cukup untuk suatu bencana. Tuhan itu selalu sempurna, dan ciptaannya itu tidak pernah sempurna. Jadi, kalau ada yang tidak sempurna, pasti akan ada alasan yang cukup untuk “menyempurnakannya”. Dan, pasti pada akhirnya di situ ada hikmahnya. Bahasa Jermannya mungkin bukan hikmah. Saya tidak tahu. Leibniz ini orang Jerman, tapi menulis dalam bahasa Prancis. Alasan semacam ini kemudian digugat oleh filsuf lain, Voltaire, sewaktu dia mendengar bencana yang terjadi di Lisabon, karena bencana itu amat mengerikan. Aceh memang mengerikan, tapi tragedi Lisabon sangat mengerikan, karena hampir 1/3 penduduk ketika itu habis dimakan bencana. Waktu itu, jarak antara Paris dan Lisabon kira-kira satu minggu perjalanan berkuda. Dan kejadian itu baru ketahuan sepuluh hari kemudian. Voltaire ketika itu marah. Dan kemarahan Voltaire ditunjukkan oleh salah satu sajak yang mengatakan, “Coba tunjukkan, apa adilnya tata ini kalau ada orang yang tidak bersalah justru mati, dan orang yang tidak berdosa dihukum seperti orang yang berdosa.” Namun memang harus dimengerti, sukar untuk tidak mencari alasan ketika bencana dahsyat terjadi. Terlalu berat bagi korban untuk mengatakan bahwa ini sama sekali tidak ada alasan, ini hanya kesewenang-wenangan nasib. Itu terlalu berat. Makanya, dicarilah alasan. Apakah betul Tuhan punya alasan dalam peristiwa-peristiwa menyakitkan seperti itu, saya kira itulah persoalannya nanti. Tapi bahwa ada dorongan orang untuk demikian (mencarai alasan Tuhan) adalah fakta, karena absurditas nasib cenderung untuk mencari jawab.

Albert Camus juga pernah menulis suatu esai besar berjudul Mitos Sisipus yang mengatakan bahwa manusia itu seperti sisipus. Sisipus itu dikutuk dewa-dewa untuk mengangkat batu dari bawah ke puncak gunung. Sampai di atas, dia jatuh lagi. Dia turun untuk mengangkut lagi, dan begitu seumur hidupnya. Tapi dalam esai itu disebut juga bahwa lama-kelamaan ada pertautan antara sisipus dan batu. Lama-kelamaan, dia merasakan bahwa dia harus menguasai hukuman ini dan menjadi di atas hukuman ini. Dia mempertahankan penderitaan itu dengan gagah berani sampai melakukan protes pada dewa-dewa. Jadi di situ ada dua sikap yang diambil, yang satu negatif dengan cara bunuh diri, yang lainnya adalah afirmatif, yaitu hidup berharga meskipun kita di dalam hukuman.  Kalau dalam filsafat Eropa, sikap kedua ini adalah gema dari pandangan Nietzsche mengenai amor fati, atau cintailah nasibmu. Ada kegagahan di situ. Cuma problemnya adalah, memang bukan satu-satunya alternatif ketika orang memerlukan harapan. Alternatif lain adalah menjadi budak, melihat kesengsaraan orang mati, orang sakit, orang yang sudah tua, dan akhirnya mengatakan bahwa hidup adalah samsara dan dia mencoba membebaskan diri dari keinginan, karena keinginan pada hakikatnya adalah awal dari penderitaan. Nirwana adalah satu taraf ketika tidak ada lagi keinginan. Kalau kita pergi ke Borobudur, puncak yang paling tinggi di stupa itu, tidak ada ukiran apapun. Yang paling bawah malah penuh dengan ukiran. Ini menunjukkan bahwa kurnia pancaindera hilang ketika kita mencapai nirwana. Keinginan, hasrat dan sebagainya, tidak ada lagi pada saat manusia mencapai kesempurnaan.

Kemampuan ilmiah hanya bisa menjawab sejauh mana metode ilmiah yang terpakai (dipakai) secara hakiki di terapkan untuk memprediksi dan menjawab kegalauan alam.  Walaupun telah berkembang dengan cepat teknologi yang sophisticated dan sains telah di banjiri oleh teori-teori yang spektakuler akan tetapi alam tanpa kompromi secara dinamis memberikan dampak error di dalam penerapannya.  Para modeler seperti Jay Forrester sendiri menulis Don’t predict the future, create it!…, perlu dimaknai secara global bahwa kenyataannya demikian.

Medio Maret,

Tulisan yang mencoba memecahkan mimpi ilmiah di kesenyapan kota hujan.

Tersenyumlah dunia

Ya Tuhan, janganlah murka amat sangat dan janganlah mengingat-ingat dosa untuk seterusnya!

Sesungguhnya, pandanglah kiranya, sekalian adalah umatMU.

Yesaya 64:9


[1] Ph.D Student School of Graduate Bogor Agricultural University-System and Modeling of Fisheries Capture

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s