Nasib Peneliti dan Era Globalisasi


Oleh:
Heni Rosmawati,
Humas, Bekerja di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

Banyak tulisan mengulas tentang betapa peneliti Indonesia sebagai aset intelektual selama ini keberadaannya kurang mendapat perhatian negara. Hal ini bisa dilihat dari minimnya gaji yang diterima seorang peneliti, bahkan untuk seorang peneliti yang telah mencapai puncak karier sebagai profesor riset. Dengan masa pengabdian selama 25 tahun, seorang peneliti dengan golongan tertinggi IV-E hanya dihargai Rp 4 juta per bulan. Dengan kondisi seperti ini, tidak aneh jika para peneliti merasakan ketimpangan yang hebat, tidak hanya jika dibandingkan dengan gaji peneliti di luar negeri, tapi juga dengan gaji kelompok profesi yang lain, seperti anggota DPR, pegawai negeri di institusi seperti Kementerian Keuangan, Sekretariat Negara, MA, KPK, bahkan guru. Ketimpangan yang dirasakan tidak melulu berujung pada perbedaan nominal rupiah, namun terlebih lagi pada rasa terabaikannya profesi peneliti dengan segudang aset intelektual yang ada di dalamnya. Bagaimanapun peran para peneliti bagi bangsa ini harus pula dikedepankan dan disandingkan setara dengan para pengabdi negara yang jujur, adil, dan tegas, baik itu guru, hakim, penyidik, maupun pegawai pajak dan perencana keuangan negara.
Motivasi
Perlu disadari bahwa motivasi utama yang mendorong peneliti dalam berkarya dan memiliki produktivitas tinggi adalah kesempatan untuk dapat melakukan suatu penelitian yang berkualitas. Motivasi tersebut didorong oleh keingintahuan untuk memahami suatu masalah sehingga dapat memberikan solusi. Motivasi tersebut timbul dengan asumsi bahwa kebutuhan dasar seorang peneliti telah dipenuhi (teori kebutuhan Maslow). Bentuk insentif yang berupa gaji yang tinggi, karier, dan promosi sebenarnya bukan dianggap hal yang penting. Karena itu, insentif harus diarahkan kepada upaya menciptakan lingkungan penelitian yang kondusif (termasuk peralatan dan/atau laboratorium), cukupnya waktu, dan pemenuhan sumber daya lainnya untuk dapat melakukan penelitian yang merupakan minatnya.

Sumber daya lainnya tersebut, misalnya, berupa dana untuk ikut dalam konferensi internasional. Hal seperti ini sudah sangat disadari di negara-negara yang maju industrinya dengan penguasaan iptek, yaitu dengan tersedianya anggaran iptek yang besar. Namun hal ini tak disediakan dengan cuma-cuma begitu saja. Dengan adanya alokasi anggaran yang tinggi, institusi penelitian di negara-negara maju selalu berada dalam tekanan untuk dapat menunjukkan kinerja nyata sesuai dengan tujuan, dan dapat memberikan hasil yang terukur (value for money). Lembaga riset pemerintah Australia (CSIRO), dalam mendapatkan dana riset dari pemerintah Australia, harus menetapkan target yang terukur dalam melakukan penelitian-penelitian yang strategis. Tidak hanya itu, dari tahun ke tahun pemerintah Australia juga mengurangi anggaran penelitian serta mendorong lembaga penelitian untuk menjadi mandiri. Dalam tekanan seperti ini para manajer di CSIRO harus dapat memastikan para penelitinya memiliki produktivitas yang tinggi dan sangat termotivasi. Tentunya hal itu bukan merupakan pekerjaan yang mudah karena mereka harus mengatasi hambatan yang umumnya dimiliki para peneliti, seperti sifat individualistik, ego dan kebanggaan yang tinggi, serta tuntutan pengakuan terhadap intelektualitas mereka. Memang jalan untuk menjadi seorang peneliti yang andal merupakan jalan panjang berliku yang memerlukan bakat, kerja keras, dan ketekunan yang mungkin para peneliti kita, seperti seorang Taufik Abdullah, Thee Kian Wee, dan almarhum Samaun Samadikun, telah membuktikannya.

Brain drain
Dalam bukunya China’s Emerging Technological Edge, Assessing the Role of High-End Talent, Denis Fred Simon mengisahkan bagaimana Cina berjuang untuk memanggil pulang hampir sejuta aset intelektualnya. Mereka sebagian besar adalah peneliti dan akademisi yang hidup dan bekerja di luar negeri. Perjuangan yang memakan waktu lama ini dimulai sejak era revolusi budaya periode Deng Xiaoping. Hal ini bukan merupakan pekerjaan yang mudah dan sangat memerlukan komitmen pemimpin bangsa. Komitmen yang berkesinambungan dimulai dari Deng Xiaoping dan para penerusnya yang terus melihat para peneliti dan akademisi brilian ini sebagai aset strategis bangsa. Komitmen tersebut diwujudkan oleh Deng Xiaoping sendiri dengan secara berkala pergi ke luar negeri mencari aset intelektual Cina ini.
Bahkan Perdana Menteri Cina Zhu Rongji pernah dalam suatu pidatonya di MIT (salah satu universitas ternama di Amerika) berani menjanjikan gaji dan insentif seperti yang mereka dapatkan ketika bekerja di Amerika. Bagi negara India, masalah brain drain ini merupakan fenomena tersendiri yang kemudian bertransformasi menjadi jaringan diaspora India yang berbalik menjadi suatu brain gain. Konsepnya adalah dengan menghubungkan aset dan bakat intelektual mereka di luar negeri dalam suatu jaringan internasional, sehingga “transfer of technology and knowledge” menjadi mudah dan dapat terjadi.

Sebenarnya hal seperti ini juga pernah dilakukan Pak Habibie ketika menjabat Menteri Riset dan Teknologi. Di eranya, Pak Habibie pada 1985 memelopori pengiriman sekitar 5.000 pemuda terpilih lulusan SMA untuk belajar di universitas terbaik dunia, seperti TU Delft di Belanda, TU Aachen di Jerman, Imperial College di Inggris, Toulouse di Prancis, Tokyo Institute of Technology di Jepang, serta Stanford dan MIT di Amerika. Untuk menyemangati para pelajar yang terkadang kepayahan oleh beratnya beban kuliah di luar negeri, Pak Habibie kerap mengunjungi para mahasiswa ini secara bergantian dalam tiap musim panas. Kedatangannya selalu memberikan motiva si untuk menyerap ilmu dengan maksimal dan kelak segera kembali dan bekerja di Indonesia. Namun, sekembali ke Tanah Air, ternyata banyak di antara mereka merasa tidak dapat berkarya dengan maksimal, yang berujung pada terbengkalainya aset intelektual bangsa.
Hal ini ditengarai akibat kaburnya grand strategy iptek yang dipunyai negara ini. Banyak di antara mereka yang kemudian kehilangan arah, bak berlayar tanpa mercusuar.
Peran peneliti Sudah lama disadari adanya keuntungan yang diperoleh negara-negara yang mempekerjakan bakat-bakat intelektual dari negara-negara seperti India dan Cina. Tudingan ini terutama ditujukan kepada para pengambil kebijakan di negara maju yang mempermudah peraturan untuk mempekerjakan para imigran dengan skill-set yang tinggi untuk bekerja di negara mereka. Alasannya, keberadaan mereka tidak menurunkan pendapatan rata-rata per kapita, malah meningkatkannya. Sudah sejak abad ke20, negara Amerika menikmati pertumbuhan ekonomi yang tinggi karena masuknya para peneliti kaliber internasional ke Amerika, akibat kondisi yang bergejolak di negara asal mereka.
Pada masa Perang Dunia Kedua, Albert Einstein dan Enrico Fermi hijrah dari Jerman dan Italia, dan membantu Amerika memenangi Perang Dunia Kedua. Kemudian, pada saat terjadi peristiwa Tiananmen di Cina, banyak sekali bakat intelektual Cina yang memutuskan untuk menetap dan bekerja di Amerika.
Sedangkan para ilmuwan dari India, yang mempunyai tradisi keilmuan tinggi dan berakar kuat, banyak yang memutuskan pergi ke Amerika untuk bekerja demi masa depan yang lebih baik. Memang fenomena brain drain sudah semakin tak terhindarkan dengan dunia yang semakin mendatar (baca connected) ini, seperti yang diungkapkan oleh Thomas L. Friedman dalam bukunya, The World is Flat.
Belajar dari pengalaman bangsa lain dalam menempatkan iptek dan aset intelektualnya, bangsa Indonesia harus mampu menyikapinya secara arif dan bijaksana. Bagaimanapun, perjuangan ke depan sebagai bangsa adalah berkompetisi dalam sistem perekonomian global yang berbasis pengetahuan. Kita hanya dapat berkompetisi jika mempunyai kemampuan inovasi yang tinggi dalam melakukan penelitian yang berkualitas. Sedangkan penelitian yang berkualitas hanya dapat dilakukan oleh bakat-bakat intelektual yang mempunyai pendidikan dan skill-set yang tinggi. Apa yang disuarakan oleh para peneliti akan minimnya gaji mereka seyogianya mendapat perhatian untuk selanjutnya disikapi pengambil kebijakan di negeri ini. Dengan demikian, negara ini masih punya PR untuk membuat para aset intelektual merasa nyaman dan termotivasi untuk berkarya menghasilkan inovasi yang berkualitas. Saatnya pemerintah dan masyarakat berpihak dan berkiblat pada ilmu pengetahuan dan teknologi. (Koran Tempo, 3 November 2010/ humasristek)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s