Mitigasi: Harmoni bencana alam dan aksi manusia


ImageLedakan dasyat di Pelabuhan Halifax, Amerika Serikat pada 6 Desember 1917 memicu minat peneliti melihat betapa pentingnya mitigasi bencana, bahaya dan resiko yang terkait terhadap efek sosial yang diakibatkan oleh ledakan itu. SS Montblanc yang sarat amunisi meledak meratakkan kurang lebih seluas 2 km persegi dari titik ledakkan., mengakibatkan sekitar 2000 orang meninggal, ribuan orang lainnya mengalami luka-luka, terjadi kekacauan sosial dan mengakibatkan krisis ekonomi di daerah tersebut. Tidak siap adalah dua kata yang mengilhami seorang mahasiswa tingkat doctor sociologi bernama Samuel Prince menulis disertasinya yang berjudul The collective behavior of the community in response to the disaster (1920). Awal dari kesadaran manusia bahwa pemahaman mitigasi merupakan awal dari persiapan kita menghadapi bencana dan bahaya dari dimensi manusia (human dimension). Kata Mitigasi, sering kita dengar dan sangat familiar ditelinga kita akhir-akhir ini. Mitigasi diambil dari kata Mitigation (noun) yaitu: The action of reducing the severity, seriousness, or painfulness of something (http://oxforddictionaries.com). Sedangkan oleh Federal Emergency Management of Angencies (FEMA), mendefinisikan Mitigation is the effort to reduce loss of life and property by lessening the impact of disasters. Mitigation is taking action now—before the next disaster—to reduce human and financial consequences later (analyzing risk, reducing risk, insuring against risk). Oleh Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BPBN) lewat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007, Mitigasi diartikan serangkaian upaya untuk mengurangi resiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi bencana alam. Kenapa tulisan ini mengangkat kata Mitigasi, merupakan langkah kedua dari suatu kegiatan managemen kebencanaan yang ditetapkan oleh BPBN?, karena dalam sistem yang di jalankan masih banyak perlu perbaikan mulai dari input yang dicirikan oleh sebab sampai pada output sebagai akibat. Tidak heran, kesiapsiagaan adalah merupakan salah satu dari sistem yang harus menjadi trigger dalam managemen bencana. Kejadian alam seperti cuaca ekstrem tidak mudah lagi di prediksi seperti dua dekade belakangan, Topan Katrina yang terjadi tepatnya tanggal 28 Agustus 2005 di kota New Orleans dan Topan Sandy pada tanggal 29 Oktober 2012 meninggalkan kerusakan infrastruktur parah dan kehilangan nyawa manusia. Demikianpula, dengan kejadian Tsunami di Jepang yang terjadi pada tanggal 13 Maret 2011 dengan kekuatan gempa 8.9 SR serupa dengan yang terjadi di Aceh pada tanggal 26 Desember 2004 memberikan suatu gambaran bahwa kebencanaan belum bisa di prediksi dengan teknologi canggih walaupun secara ilmiah bisa dibuktikan kejadian tersebut. Negara seperti Amerika Serikat dan Jepang saja mengalami kesulitan menghadang serangan alam ini walaupun secara teknologi mereka telah siap, sumberdaya manusia yang lebih disiplin untuk diatur akan tetapi masih saja ada korban jiwa dan kerusakan infrastruktur yang besar. Kedua Negara adidaya ini sangat siap dari sisi infrastruktur dan sosiologis, kesiapan mental dari masyarakat terdidik meberikan kemudahan bagi pemerintah setempat dalam mengelola dan menata jalur-jalur evakuasi, bunker-bunker pelindung yang dijadikan sebagai payung pertahanan dan yang termutakhir sebagai contoh adalah pelindung digital yang super canggih bernama Iron Dome yang di buat oleh Raphael Industries (sekarang dipakai oleh Israel), kasat mata tidak terlihat akan tetapi efektif memberikan perlindungan akibat serangan rudal dari pihal lawan. Jelas, bahwa teknologi adalah salah satu alternativ yang dipakai di dalam melakukan suatu mitigasi terhadap ketidakharmonisan alam mencari keseimbangan. Keserakahan manusia menyalahkan alam akibat kerusakan yang terjadi normative apabila kesungguhan luhur dalam membangung kemitraan dengan alam itu sendiri. Tulisan menarik dibuat oleh Julio Kurowa (2005) dalam bukunya berjudul Disaster reduction: Living in harmony with nature, ringkasnya menggambarkan bagaimana kecanggihan teknologi berkorelasi terhadap keselamatan akibat kerusakan akan tetapi lebih bermakna apabila kepekaan harmoni alam turut berkontribusi dalam manusia menyikapi bencana yang terjadi. Hikmah ini diambil dari pengalaman Negara Peru yang berada di Amerika Selatan, mereka menghadapi gempa bumi yang sering melanda negara mereka. Suatu komunitas harus membatik kesadaran mereka dalam membangun kepercayaan terhadap norma-norma keseimbangan, tidak mudah untuk membangun kesadaran suatu komunitas yang paham dan terlatih hidup selaras dengan ketidakteraturan alam, akan tetapi perlu disadari bahwa suatu fraktal kepakan sayap kupu-kupu di Asia bisa berdampak kemarau berkepanjangan dan kelaparan di Afrika, sejatinya hukum fraktal adalah suatu konsep mitigasi yang memberikan signal, bahwa garis yang dibentuk oleh sifat alam tidaklah linear akan tetapi alam akan membetuk suatu garis irregular (tak beraturan) ataupun sinusoidal (gelombang beraturan), kutipan pertanyataan di atas adalah merupakan teori revolusioner seorang matematikawan bernama Benoit Mandelbrot (1975) berjudul: A Theory of Fractal Sets. Sejalan dengan itu, Big Bang Theory oleh Georges Lemaitre (1927), seorang biarawan asal Belgia pula memberikan pencerahan theologies makna ledakan dasyat bimasakti terhadap homogenitas dan isotropi ruang sangat bergantung pada luas alam semesta yang adalah merupakan sekumpulan energi panas, dengan asumsi bahwa saatnya nanti akan terjadi suatu ladakan – hubungannya adalah ledakan ini berkorelasi terhadap irregularitas kondisi alam.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s