ANTAGONIS BENCANA (ALAM)!


Pengakuan itu datang dalam dokumen studi Our Common Future: manusia memiliki kontribusi bagi kerusakan global. Kerusakan lingkungan, kemiskinan, dan ancaman polusi disebabkan oleh gagasan datangnya suatu era pertumbuhan ekonomi yang tak mendasarkan pada pembangunan berkelanjutan (http://www.un-documents.net/ocf-02.htm). Telunjuk kita lantas menuding hidung kapitalisme yang dibiakkan melalui globalisasi. Kapitalisme dibangun di atas nalar instrumental yang menganggap relasi antara manusia dengan alam dalam satu jalur: manusia ordinat, alam subordinat.  Dalam nalar ini, alam dipandang sebagai sumber daya yang harus dicerap sebesar-besarnya untuk kepentingan manusia. Alam adalah modal, dan dalam prinsip ekonomi, modal harus dipergunakan untuk menangguk laba sebesar-besarnya. Kapitalisme yang diciptakan menjadi raksasa terhadap lingkungan, merujuk teori Rostow yang dimuat dalam Economic Journal (1956) bahwa pembangunan ekonomi atau proses transformasi suatu masyarakat tradisional menjadi masyarakat modern merupakan proses yang multi-dimensional. Pembangunan ekonomi bukan hanya berarti perubahan struktur ekonomi suatu Negara yang ditunjukkan oleh menurunnya peranan sector pertanian dan peningkatan peranan sektor industri saja.

Namun, siapa pula yang bisa menetapkan batas sejauh mana manusia berhak merambah alam, mengeduk bumi? Tak ada, sehingga seorang Gandhi pun harus berkata, “bumi bisa mencukupi kebutuhan setiap orang, tapi tak bisa mencukupi orang-orang yang rakus.”  Dari Gandhi, kita tahu, manusia tak akan pernah merasa cukup. Kapitalisme bisa bertahan dan dipuja banyak orang karena menyentuh sisi kerakusan kita. “Yang terpenting adalah bahwa keserakahan adalah kebaikan. Keserakahan adalah benar,” kata Gordon Gekko, seorang tokoh antagonis dalam film Wall Street, sebuah film yang bicara soal kapitalisme yang disutradarai Oliver Stone.  Maka inilah sistem, yang menurut Fukuyama dalam magnum opusnya The End of History and The Last Man, sudah final dan tak tergantikan. Sebuah sistem paripurna yang mampu menanggulangi krisis yang muncul dalam dirinya sendiri. Ketika kita bicara kapitalisme, kita tak bicara tentang ideologi yang mengklaim diri sempurna, tapi tentang hasrat kuasa. Dan kita sadar, naluri kuasa yang rakus lebih langgeng daripada doktrinasi ideologi yang ketat, kaku, dan hanya menjanjikan utopi.

Tapi sesuatu yang dianggap final tak selamanya benar. Kapitalisme global mungkin punya kesanggupan diri untuk mengatasi krisis yang muncul dalam sistem dirinya. Tapi, kapitalisme global telah membuat dunia berlari bak apa yang disebut Giddens sebagai juggernaut: sebuah mesin besar yang melindas apa saja yang dilintasinya. Dan, seperti layaknya pembalap jalanan yang ketika menabrak apa saja, korban selalu tertinggal jauh di belakang.  Kapitalisme global tak akan bisa mengembalikan apa aja yang telah dilindasnya menjadi utuh. Juggernaut itu tak akan bisa memperbaiki ekses destruktif yang dimunculkan oleh langkah-langkah raksasanya terhadap bumi, tehadap alam yang terlanjur rusak: global warming (pemanasan global).

Sebuah panel mengenai perubahan iklim yang diikuti sekitar dua ribu ilmuwan dari sejumlah negara mengeluarkan peringatan itu, pada Desember 2000. Mereka menyatakan, dunia tak bakal nyaman. Siklon, banjir, dan bencana badai terjadi empat kali lebih besar daripada tahun 1960. Suhu global melompat sekitar lima derajat celcius hingga abad berikutnya, dan permukaan es kutub utara semakin tipis saja. Sumber energi tak dapat dipulihkan setelah dieksploitasi habis selama setengah abad, dan separuh hutan di dunia telah musnah.

Apa benar demikian? Setelah Jakarta tenggelam oleh banjir (saya rasa tidak demikian), merupakan suatu proses nalar untuk belajar lagi bagaimana makin keras peringatan oleh alam. Orang menganggap bahwa di Indonesia itu gagal dalam penanganan berbagai permasalahan kebencanaan (disaster), tapi coba kita tengok di saat yang bersamaan bagaimana Australia Utara saja lumpuh oleh adanya banjir bandang, pendinginan (freezee) yang terjadi di Eropa dan membekunya kota Chicago (USA) semua ahli mengatakan ini adalah proses naturalisasi alam menuju Global Warming!.  Kemuskhilan kapitalisme tidak reliabel terhadap komposisi ekologis lahan, benar apa yang dikatakan Gandhi, orang-orang yang rakuslah yang menyebabkan bumi tua ini tercerai berai oleh pembukaan lahan untuk konsumerisme dan egoisme diri.  Banyak mata terbelalak, serta merta air mengalir memenuhi banyak lahan, seperti memenuhi gelas dan secara bergerombol mereka mencoba mengisap lagi memanfaatkan teknologi canggih, apa daya banyak kawasan elit sendiri yang dengan slogannya kawasan bebas banjirpun rata oleh gempuran air bah yang menghantam kawasan-kawasan orang berduit.  Bencana tidak melihat status dan harga diri, tidak demikian apa yang di kampanyekan oleh kaum kapitalisme, mereka inilah yang memberikan signal bahwa keserakahan adalah kebaikan. Alam pun berontak dan menangis setidaknya itu yang terjadi. Demikian!…

Awal Pebruari 2013 (Be My Valentine)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s