Teknologi Geospasial untuk Penanggulangan Bencana


Teknologi geospasial segera menjadi andalan untuk mengantisipasi bencana pasca peristiwa badai Katrina beberapa tahun lalu. Indonesia pun dapat mengambil manfaat serupa untuk meningkatkan kualitas proses tanggap darurat bencana.  Setelah topan berkategori 5 memorak-porandakan Amerika pada Agustus 2005, pemerintah negara bagian Alabama, salah satu daerah yang terdampak, memulai proyek yang menggunakan visualisasi 3D. Tujuannya adalah untuk meningkatkan penggunaan data infrastruktur maupun citra aset di seluruh wilayah itu melalui sebuah perangkat visualisasi yang terjangkau, terukur, dapat diperbarui serta berbasis aplikasi internet. Hasilnya adalah program Virtual Alabama, sebuah program yang menggabungkan berbagai data yang ditampilkan dengan antarmuka berupa bola dunia 3D berbasis Google Earth Enterprise. Data-data yang terdapat dalam program tersebut sangat berguna bagi pengguna teknis maupun non teknis. Salah satunya, program itu menyediakan common operating picture and situational awareness yang diperlukan regu penyelamat sebelum, selama, dan setelah terjadi bencana.

Langkah pemerintah Alabama itu bisa jadi berdasarkan fakta 80 persen data lembaga pemerintahan atau perusahaan besar mengandung informasi lokasi, sebagaimana diungkapkan Pankaj Khushani, Geo Head for Google Asia, dalam seminar Inovasi Geospasial untuk Pengendalian dan Pengambilan Keputusan yang Efektif di Balai Kartini, Selasa (21/6). “Data seperti itu akan lebih mudah dipahami ketika disajikan dalam bentuk geospasial,” tambah Rivaldi Rivai, Managing Director EB Connection Indonesia.

Di Indonesia, teknologi Geospasial Information System (GIS) sudah dimanfaatkan sejak lama. Namun penerapan visualisasi dalam bentuk antarmuka bola dunia 3D baru dilakukan Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) sejak akhir 2010. Seperti dikemukakan Deputi III UKP4, Agung Hardjono, teknologi ini dapat digunakan untuk mengawasi pelaksanaan pembangunan.
Lebih lanjut, Agung mengemukakan, teknologi GIS yang ada saat ini jika dipadukan dengan Google Earth Enterprise yang bisa dimodifikasi sesuai kebutuhan penggunanya, akan membawa manfaat besar. Seperti dalam masa tanggap darurat bencana maupun ketika merencanakan pembangunan kembali infrastruktur yang rusak.
Contoh kasusnya diungkapkan seorang staf Kementerian Perhubungan. Instansi yang sudah memanfaatkan GIS ini memadukan data berupa terminal angkutan umum di sekitar lereng Merapi yang mereka miliki dengan Google Earth saat terjadi erupsi akhir 2010 lalu. Hasilnya, mereka dapat segera menutup dua terminal yang berada dalam radius bahaya erupsi.
Tantangan penerapan teknologi ini terletak pada masalah koordinasi dan birokrasi pemerintahan yang masih membelit hingga saat ini. Apabila masalah itu bisa teratasi, keluhan penanganan bencana yang lamban akan bisa diminimalisir. Pasalnya, semua data yang dimiliki setiap instansi terkait, setelah diverifikasi dapat segera diunggah sehingga bisa diakses pihak yang membutuhkan. Keputusan yang tepat pun bisa segera diambil. “Platformnya sudah tersedia, tinggal bagaimana pemanfaatannya,” ujar Rivaldi.

Google Earth Enterprise sendiri merupakan varian dari Google Earth yang ditujukan bagi pengguna enterprise dan instansi pemerintahan. Berbeda dengan versi gratisnya, konten (data) versi ini bisa disesuaikan dengan kebutuhan penggunanya. Server dan storage aplikasi ini pun berada di tangan pengguna.
Sumber : nationalgeographic.co.id

Diposkan oleh Diklat GeoSpasial waktu 2/14/2013 12:05:00 PM

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s