Mitigasi: Harmoni bencana alam dan aksi manusia


ImageLedakan dasyat di Pelabuhan Halifax, Amerika Serikat pada 6 Desember 1917 memicu minat peneliti melihat betapa pentingnya mitigasi bencana, bahaya dan resiko yang terkait terhadap efek sosial yang diakibatkan oleh ledakan itu. SS Montblanc yang sarat amunisi meledak meratakkan kurang lebih seluas 2 km persegi dari titik ledakkan., mengakibatkan sekitar 2000 orang meninggal, ribuan orang lainnya mengalami luka-luka, terjadi kekacauan sosial dan mengakibatkan krisis ekonomi di daerah tersebut. Tidak siap adalah dua kata yang mengilhami seorang mahasiswa tingkat doctor sociologi bernama Samuel Prince menulis disertasinya yang berjudul The collective behavior of the community in response to the disaster (1920). Awal dari kesadaran manusia bahwa pemahaman mitigasi merupakan awal dari persiapan kita menghadapi bencana dan bahaya dari dimensi manusia (human dimension). Kata Mitigasi, sering kita dengar dan sangat familiar ditelinga kita akhir-akhir ini. Mitigasi diambil dari kata Mitigation (noun) yaitu: The action of reducing the severity, seriousness, or painfulness of something (http://oxforddictionaries.com). Sedangkan oleh Federal Emergency Management of Angencies (FEMA), mendefinisikan Mitigation is the effort to reduce loss of life and property by lessening the impact of disasters. Mitigation is taking action now—before the next disaster—to reduce human and financial consequences later (analyzing risk, reducing risk, insuring against risk). Oleh Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BPBN) lewat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007, Mitigasi diartikan serangkaian upaya untuk mengurangi resiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi bencana alam. Kenapa tulisan ini mengangkat kata Mitigasi, merupakan langkah kedua dari suatu kegiatan managemen kebencanaan yang ditetapkan oleh BPBN?, karena dalam sistem yang di jalankan masih banyak perlu perbaikan mulai dari input yang dicirikan oleh sebab sampai pada output sebagai akibat. Tidak heran, kesiapsiagaan adalah merupakan salah satu dari sistem yang harus menjadi trigger dalam managemen bencana. Kejadian alam seperti cuaca ekstrem tidak mudah lagi di prediksi seperti dua dekade belakangan, Topan Katrina yang terjadi tepatnya tanggal 28 Agustus 2005 di kota New Orleans dan Topan Sandy pada tanggal 29 Oktober 2012 meninggalkan kerusakan infrastruktur parah dan kehilangan nyawa manusia. Demikianpula, dengan kejadian Tsunami di Jepang yang terjadi pada tanggal 13 Maret 2011 dengan kekuatan gempa 8.9 SR serupa dengan yang terjadi di Aceh pada tanggal 26 Desember 2004 memberikan suatu gambaran bahwa kebencanaan belum bisa di prediksi dengan teknologi canggih walaupun secara ilmiah bisa dibuktikan kejadian tersebut. Negara seperti Amerika Serikat dan Jepang saja mengalami kesulitan menghadang serangan alam ini walaupun secara teknologi mereka telah siap, sumberdaya manusia yang lebih disiplin untuk diatur akan tetapi masih saja ada korban jiwa dan kerusakan infrastruktur yang besar. Kedua Negara adidaya ini sangat siap dari sisi infrastruktur dan sosiologis, kesiapan mental dari masyarakat terdidik meberikan kemudahan bagi pemerintah setempat dalam mengelola dan menata jalur-jalur evakuasi, bunker-bunker pelindung yang dijadikan sebagai payung pertahanan dan yang termutakhir sebagai contoh adalah pelindung digital yang super canggih bernama Iron Dome yang di buat oleh Raphael Industries (sekarang dipakai oleh Israel), kasat mata tidak terlihat akan tetapi efektif memberikan perlindungan akibat serangan rudal dari pihal lawan. Jelas, bahwa teknologi adalah salah satu alternativ yang dipakai di dalam melakukan suatu mitigasi terhadap ketidakharmonisan alam mencari keseimbangan. Keserakahan manusia menyalahkan alam akibat kerusakan yang terjadi normative apabila kesungguhan luhur dalam membangung kemitraan dengan alam itu sendiri. Tulisan menarik dibuat oleh Julio Kurowa (2005) dalam bukunya berjudul Disaster reduction: Living in harmony with nature, ringkasnya menggambarkan bagaimana kecanggihan teknologi berkorelasi terhadap keselamatan akibat kerusakan akan tetapi lebih bermakna apabila kepekaan harmoni alam turut berkontribusi dalam manusia menyikapi bencana yang terjadi. Hikmah ini diambil dari pengalaman Negara Peru yang berada di Amerika Selatan, mereka menghadapi gempa bumi yang sering melanda negara mereka. Suatu komunitas harus membatik kesadaran mereka dalam membangun kepercayaan terhadap norma-norma keseimbangan, tidak mudah untuk membangun kesadaran suatu komunitas yang paham dan terlatih hidup selaras dengan ketidakteraturan alam, akan tetapi perlu disadari bahwa suatu fraktal kepakan sayap kupu-kupu di Asia bisa berdampak kemarau berkepanjangan dan kelaparan di Afrika, sejatinya hukum fraktal adalah suatu konsep mitigasi yang memberikan signal, bahwa garis yang dibentuk oleh sifat alam tidaklah linear akan tetapi alam akan membetuk suatu garis irregular (tak beraturan) ataupun sinusoidal (gelombang beraturan), kutipan pertanyataan di atas adalah merupakan teori revolusioner seorang matematikawan bernama Benoit Mandelbrot (1975) berjudul: A Theory of Fractal Sets. Sejalan dengan itu, Big Bang Theory oleh Georges Lemaitre (1927), seorang biarawan asal Belgia pula memberikan pencerahan theologies makna ledakan dasyat bimasakti terhadap homogenitas dan isotropi ruang sangat bergantung pada luas alam semesta yang adalah merupakan sekumpulan energi panas, dengan asumsi bahwa saatnya nanti akan terjadi suatu ladakan – hubungannya adalah ledakan ini berkorelasi terhadap irregularitas kondisi alam.

Mr. dan Mrs. Leland Stanford : From Harvard University to Stanford University


Seorang wanita yang mengenakan gaun pudar menggandeng suaminya yang berpakaian sederhana dan usang, turun dari kereta api di Boston, dan berjalan dengan malu-malu menuju kantor Pimpinan Harvard University. Mereka meminta janji. Sang sekretaris Universitas langsung mendapat kesan bahwa mereka adalah orang kampung, udik, sehingga tidak mungkin ada urusan di Harvard dan bahkan mungkin tidak pantas berada di Cambridge.

“Kami ingin bertemu Pimpinan Harvard”, kata sang pria lembut.
“Beliau hari ini sibuk,” sahut sang Sekretaris cepat.
“Kami akan menunggu,” jawab sang Wanita.
Selama 4 jam sekretaris itu mengabaikan mereka, dengan harapan bahwa pasangan tersebut akhirnya akan patah semangat dan pergi. Tetapi nyatanya tidak. Sang sekretaris mulai frustrasi, dan akhirnya memutuskan untuk melaporkan kepada sang pemimpinnya.
“Mungkin jika Anda menemui mereka selama beberapa menit, mereka akan pergi,” katanya pada sang Pimpinan Harvard.
Sang pimpinan menghela nafas dengan geram dan mengangguk. Orang sepenting dia pasti tidak punya waktu untuk mereka. Dan ketika dia melihat dua orang yang mengenakan baju pudar dan pakaian usang diluar kantornya, rasa tidak senangnya sudah muncul.
Sang Pemimpin Harvard, dengan wajah galak menuju pasangan tersebut. Sang wanita berkata padanya, “Kami memiliki seorang putra yang kuliah tahun pertama di Harvard. Dia sangat menyukai Harvard dan bahagia disini. Tetapi setahun yang lalu, dia meninggal karena kecelakaan. Kami ingin mendirikan peringatan untuknya, di suatu tempat di kampus ini. bolehkan?”tanyanya, dengan mata yang menjeritkan harap.
Sang Pemimpin Harvard tidak tersentuh, wajahnya bahkan memerah.  Dia tampak terkejut. “Nyonya,” katanya dengan kasar, “Kita tidak bisa mendirikan tugu untuk setiap orang yang masuk Harvard dan meninggal. Kalau kita lakukan itu, tempat ini sudah akan seperti kuburan.”
“Oh, bukan,” Sang wanita menjelaskan dengan cepat, “Kami tidak ingin mendirikan tugu peringatan. Kami ingin memberikan sebuah gedung untuk Harvard.”
Sang Pemimpin Harvard memutar matanya. Dia menatap sekilas pada baju pudar dan pakaian usang yang mereka kenakan dan berteriak, “Sebuah gedung?! Apakah kalian tahu berapa harga sebuah gedung ?! Kami memiliki lebih dari 7,5 juta dolar hanya untuk bangunan fisik Harvard.”
Untuk beberapa saat sang wanita terdiam. Sang Pemimpin Harvard senang. Mungkin dia bisa terbebas dari mereka sekarang. Sang wanita menoleh pada suaminya dan berkata pelan, “Kalau hanya sebesar itu biaya untuk memulai sebuah niversitas, mengapa tidak kita buat sendiri saja ?” Suaminya mengangguk. Wajah sang Pemimpin Harvard menampakkan kebingungan.
Mr. dan Mrs. Leland Stanford bangkit dan berjalan pergi, melakukan perjalanan ke Palo Alto, California, di sana mereka mendirikan sebuah Universitas yang menyandang nama mereka, sebuah peringatan untuk seorang anak yang tidak lagi diperdulikan oleh Harvard. Universitas tersebut adalah STANFORD UNIVERSITY, salah satu universitas favorit kelas atas di AS.

Sumber: Googling

Sistem Informasi Geografis sebagai senjata strategis jitu dalam perencanaan bisnis retail


Rangkuman kuliah twitternya @httsan

Sistem Informasi Geografis sebagai senjata strategis jitu dalam perencanaan bisnis retail

Jumpa lagi, kultwit kali ini ttg “SIG sebagai senjata jitu perencanaan bisnis retail”

SIG pada mulanya banyak dikembangkan untuk kepentingan analisis fisik dan biofisik Kita dgn mudah menentukan lokasi yg sesuai u/ mendirikan bangunan berdasar analisis fisik.Misalnya, kemiringan lahan, kondisi geologi, penutupan lahan adalah parameter yg biasa dipakai. Dalam menentukan daerah berisiko bencana longsor, atau kesesuaian penanaman dlm pertanian itu hal biasa.

Bagaimana dengan penggunaan SIG dalam bidang “ekonomi dan perdagangan”..? Pada sekitar tahun 1996/1997an, saat mendekati pergantian rezim negeri ini, ada peristiwa menarik terjadi. Dan hal ini, setelah sekian waktu berjalan, baru terlihat adalah bagian dari keterlibatan SIG dalam ekonomi-perdagangan.

Beginilah kisahnya, tersebutlah satu perusahaan retail besar negeri ini, berinisial M, berpromo total 1M. M menjanjikan para pelanggan hadiah “total” sebesar 1 Milyar dg pengundian berkala. Bagaimana cara mengikuti? Sangat mudah, pembeli/pelanggan diberi formulir yg harus dilengkapi datanya. Data yg tidak lengkap akan berpengaruh pada pemberian hadiah… Baiklah, maka mari serius mengisi data Nama, tgl lahir, pendidikan, alamat rumah sesuai KTP atau tanda pengenal lain. Ini standar…

Ada juga isian: pekerjaan, rentang penghasilan per bulan, besar rupiah untuk belanja bulanan, demi mengurangi masalah “jika beruntung” mendapatkan hadiah, maka semua diisi dg benar Formulir dikembalikan, dg bukti selembar kertas yg ada “barcode”-nya untuk digunakan saat belanja.

Saat anda belanja di M, berlokasi dimanapun, jangan lupa pindai barcode-nya utk mendapatkan poin undian. Hal ini tentunya mempermudah anda mendapatkan kesempatan menambah poin undian dimanapun belanja di M. Dari sisi pembelanja, sangat menguntungkan. Hadiah yg total (baca: TOTAL) 1 Milyar semoga didapat.

Dari sisi penyelenggara..? apa untungnya..? 1 Milyar akan terbuang untuk promosi melalui hadiah2 itu..? 1 Milyar sama sekali tdk ada artinya, dibandingkan dgn… data pelanggan yg didapat dgn “cuma-cuma”.

  • Perusahaan dengan cepat mendapatkan data “segalanya” dari pelanggan yg memberikan dg senang hati dan legal.
  • Data pelanggan apa saja? Lokasi rumah dan lokasi kantor menggambarkan jalur harian Umur, penghasilan dan jumlah belanja bulanan menggambarkan kelas pelanggan
  • Saat belanja, ketahuan dimana saja pelanggan biasa belanja, dari pindaian barcode-nya Semua “rahasia dapur” pelanggan bisa terungkap dari data utama (isian) dan kebiasaan (lokasi belanja).

Harga dari data ini tentunya tidak sebanding dgn total 1 Milyar hadiah yg diberikan…disinilah kekuatan data dan informasi?

Karena apa? dari data ini sang penyelenggara dapat dgn sangat mudah melakukan “analisis keruangan”.

Dgn memasukkan data pada SIG, maka analisis dapat dilakukan sangat mudah.

Tentang apa saja..?

  • Dapat melihat sejauh mana lokasi retail yg ada saat ini sudah optimal..?
  • Baik dari segi ragam barang
  • Maupun dari segi banyaknya pelanggan yg “mengakses” lokasi tersebut.
  • Perencanaan cepat dan mudah…!
  • Dapat juga melihat titik2 (lokasi2) potensi untuk mendirikan outlet baru, dimana sajakah?
  • Dan dgn membandingkan lokasi kompetitor, masalah ekspansi bisa dengan mudah dilakukan

Analisis keruangan ini dilakukan semua berbasis informasi yg sangat kaya, dan “benar”, dari pelanggan. Nah, adakah arti hadiah 1 Milyar dibandingkan dg keuntungan yg akan diperoleh..?

Strategi jitu dalam mendapatkan data “gratis dan benar” telah dilakukan secara “legal”.

Semua informasi pelanggan tadi adalah “amunisi” yang luar biasa berharga.

Dan “senjata” yang digunakan adalah SIG, Sistem Informasi Geografis, sebagai alat analisis handal.

Kejelian melihat sikon dan menerapkan strategi jitu dalam menambang data publik sangat diperlukan.

Selanjutnya, SIG yang membereskannya :D

Sekian kultwit kali ini, mohon maaf jika ada kekurangan. Terimakasih atas perhatian. Sampai jumpa

 

NB: Catatan dari perangkum

  •  Ingat saja setiap anda menggunakan situs tertentu atau aplikasi tertentu banyak pengguna-pengguna yang melakukan sharing data dan lokasi, hal ini memudahkan dalam pengumpulan data
  • Data-data lokasi dan keruangan yang di sharing di setiap ada kejadian, peristiwa akan sangat membantu dalam strategi dan analisis lokasi dan keruangan
  • Namun perlu diingat pengumpulan data pribadi harus dilakukan secara legal, dalam hal ini kita menggunakan data yang di sharing secara pengguna secara sadar dengan mengisi formulir-formulir yang disediakan pengelola situs/aplikasi, kadang memang ada pengumpulan secara ilegal, seperti yang dituduhkan pengguna iPhone di Korea Selatan yang menuduh Apple mengunduh data-data di smartphone mereka secara diam-diam, namun mungkin saja tuduhan ini tidak berdasar, bisa jadi semata-mata karena dilatarbelakangi perseteruan Apple dan Samsung

Dermikianlah sekali terima kasih atas perhatiannya, sementara ini yang bisa di share mudah2an di lain kesempatan kita bisa sharing lagi hal lainnya

Perangkum: Jeffri Argon: ekonom, yang  mempraktikkan teori lokasi dan keruangan

follow @httsan dan @jeffri_tsg at twitter

Sumber:
http://jeffriargon.co.cc/pengumuman.php?id=4

Uji Validasi pada sebuah Sistem


Ini adalah hasil ekspresi selama dua bulan setelelah selesai mengikuti dua kejadian penting dalam hidup saya tepatnya pada tanggal 7 dan 27 July 2012, menjawab suatu pertanyaan dari seorang Professor dan Doktor pakar ilmu sistem, bagaimana anda melakukan suatu validasi dalam penelitian anda? Untuk uji validasi, apakah yang di uji sistem nyata atau hasil dari simulasi, dan menggunakan apa uji validasinya?

Pertama, soal makna validasi, yang kerap diartikan sebagai upaya untuk membangun kepercayaan mengenai kegunaan model dalam kaitannya dengan tujuan pemodelan. Validasi adalah proses bertahap; bukan hanya dilakukan setelah model dibangun, melainkan terus menerus dilakukan dalam setiap tahap pemodelan system dynamics.

Kedua, Validasi model menyangkut dua hal formal (kuantitatif) dan informal (kualitatif). Biasanya validasi dalam system dynamics dilakukanpada tiga aspek: 1) structural tests, 2) structure oriented behavior tests dan 3) behavior pattern tests.  Validasi formal biasanya dilakukan setelahmodel selesai, tetapi pada prosesnya, validasi model tidak bias sepenuhnya obyektif, kuantitatif dan formal.  Selain itu ada pula komponen informal,subjektif dan kualitatif dalam proses validasi model.

Direct Structural Tests bisa dilakukan secara empiris dan teoritis. Cara empiris, peneliti membandingkan validitas persamaan model,dibandingkan dengan pengetahuan yang ada dalam sistem tersebut (misalnya jangan sampai jika bak bocor, cadangan air dibak berkurang, tetapi persamaan kita ternyata menambah air di bak).  Cara teoritis peneliti membandingkan persamaan model dengan literatur.  Selain itu ada beberapa uji lain seperti tes struktur dan parameter dan konsistensi dimensi.  Software simulasi sekarang ini mensupport cek konsistensi dimensi sejak awal membangun model

Structure oriented behavior, adalah dengan menerapkan uji terhadap perilakumodel, mengganti dan mencari parameter yang sensitif di dalam model danmengecek perilaku model. Salah satu kriterianya juga adalah melihat apakahperilaku model masuk akal atau tidak di dunia nyata, ketika kita melakukantest extreme condition (mengubah nilai salah satu parameter penting dengannilai ekstrim). Jadi mengujinya bisa juga di dunia nyata, misalnya melalui «focused group discussion», atau memperlihatkan perilaku model pada stakeholders dan menanyakan pendapatnya apakah model tersebut masuk akal atau tidak terutama jika menggunakan pendekatan kualitatif. Ada juga yang melakukan survey. Selebihnya , di buku Sterman, seluruh uji dan test validasi tersebut dipaparkan dengan jelas di bab 21 (dan juga di sejumlah buku textbook system dynamics). Mungkin saya bisa memberikan saran tambahan untuk juga membaca artikel Yaman Barlas mengenai Validasi.

Geomorfologi Terumbu Karang di Kabupaten Kepulauan Sitaro (unpublished)


Secara geomorfologi, pulau-pulau kecil yang berada di Kabupaten Kepulauan Sitaro adalah merupakan pulau Vulkanik.  Dari hasil studi yang dilakukan, menunjukkan terumbu karang yang ada memiliki kekhasan ciri geometrik terumbu pulau kecil yang berkelompok (morphostructural group) .  Kabupaten Kepulauan Sitaro memiliki panjang garis pantai ± 226,857 km dan luas total setiap pulaunya ± 38 501,691 Ha (hasil perhitungan), mencirikan kondisi morfologi terumbu yang berbeda-beda, dimana hasil pengukuran lapangan dan analisis data dari tujuhbelas lokasi penelitian gambaran morfometri terumbu umumnya terdiri dari 3 tipe reef yang ada yaitu terumbu belakang (back reef), rataan terumbu (reef flat) dan terumbu depan (reef front). Gambar di bawah ini menunjukkan hasil digital elevation model (DEM) dan biocenosis geometrik terumbu yang terbentuk.

Lokasi

Karang Batu

Stok Ikan

Geometrik Unit (ha)

Tipe Geometrik Terumbu Pulau

Persentasi

(%)

Stok Ikan(ind/250m) TerumbuBelakang RataanTerumbu TerumbuDepan
Biaro Utara

40.00

732

13.32 28.38 16.96 Rectangle reef (v)
P. Ruang

30.00

611

2.29 5.52 3.48 Triangle reef (v)
Pasige 1

31.96

338

23.22 112.94 34.88 Circle reef (nv)
Pasige 2

28.96

453

4.67 32.44 6.91 Circle reef (nv)
Makalehi 1

50.56

466

0.78 2.17 1.28 Circle Reef (v
Makalehi 2

30.80

409

3.71 1.85 1.43 Circle Reef (v
Pahepa 1

40.96

298

3.25 21.71 9.27 Kidney shape reef (v)
Pahepa 2

50.92

304

1.38 11.43 3.71 Kidney shape reef (v)
Mahoro 1

31.60

429

4.07 5.43 2.25 Rectangled reef (v)
Mahoro 2

37.04

433

4.34 4.63 1.86 Rectangled reef (v)

Model pendekatan geometric terumbu pulau-pulau kecil ini adalah merupakan salah satu cara di dalam penentuan unit kawasan konservasi, bukan sebagai syarat ekslusif dalam membuat keputusan tentang kebijakan atau zonasi kawasan konservasi. Sebaliknya metode ini memperkirakan kelas terumbu dan ikan target sebagai unit di dalam pernentuan lokasi konservasi, sehingga perlu ada kombinasi lain yang berhubungan dengan target konservasi lainnya. Target konservasi ini bisa di kombinasikan dengan keberadaan spesies langka (endangered spesies), sosial ekonomi nelayan, aktivitas transportasi dan faktor fisik perairan di dalam penetapan status kawasan konservasi.

Mein Kampf by Adolf Hitler


Translated into English by James Murphy  (Buat yang suka baca biografi orang hebat yang salah jalan)

Translator’s Introduction
IN PLACING before the reader this unabridged translation of Adolf Hitler’s book,

MEIN KAMPF, I feel it my duty to call attention to certain historical facts which must
be borne in mind if the reader would form a fair judgment of what is written in this
extraordinary work.

The first volume of MEIN KAMPF was written while the author was imprisoned in a
Bavarian fortress. How did he get there and why? The answer to that question is
important, because the book deals with the events which brought the author into this
plight and because he wrote under the em otional stress caused by the historical
happenings of the time. It was the hour of Germany’s deepest humiliation, somewhat
parallel to that of a little over a century before, when Napoleon had dismembered the
old German Empire and French soldiers occupied almost the whole of Germany.

In the beginning of 1923 the French invaded Germany, occupied the Ruhr district and
seized several German towns in the Rhineland. This was a flagrant breach of
international law and was protested against by every section of British political opinion
at that time. The Germans could not effectively defend themselves, as they had been
already disarmed under the provisions of the Versailles Treaty. To make the situation
more fraught with disaster for Germany, and therefore more appalling in its prospect,
the French carried on an intensive propagan da for the separation of the Rhineland from
the German Republic and the establishment of an independent Rhenania. Money was
poured out lavishly to bribe agitators to carry on this work, and some of the most
insidious elements of the German population became active in the pay of the invader.
At the same time a vigorous movement was being carried on in Bavaria for the
secession of that country and the establishm ent of an independent Catholic monarchy
there, under vassalage to France, as Napoleon had done when he made Maximilian the
first King of Bavaria in 1805.

The separatist movement in the Rhineland went so far that some leading German
politicians came out in favour of it, suggesting that if the Rhineland were thus ceded it
might be possible for the German Republic to strike a bargain with the French in regard
to Reparations. But in Bavaria the movement went even farther. And it was more far-reaching in its implications; for, if an independent Catholic monarchy could be set up in
Bavaria, the next move would have been a union with Catholic German-Austria.
possibly under a Habsburg King. Thus a Catholic BLOC would have been created

which would extend from the Rhineland through Bavaria and Austria into the Danube
Valley and would have been at least under the moral and military, if not the full
political, hegemony of France. The dream seems fantastic now, but it was considered
quite a practical thing in those fantastic times. The effect of putting such a plan into
action would have meant the complete dismemberment of Germany; and that is what
French diplomacy aimed at. Of course such an aim no longer exists. And I should not
recall what must now seem “old, unhappy, far-off things” to the modern generation,
were it not that they were very near and actual at the time MEIN KAMPF was written
and were more unhappy then than we can even imagine now.

By the autumn of 1923 the separatist movement in Bavaria was on the point of
becoming an accomplished fact. General von Lossow, the Bavarian chief of the
REICHSWEHR no longer took orders from Berlin. The flag of the German Republic was
rarely to be seen. Finally, the Bavarian Prime Minister decided to proclaim an
independent Bavaria and its secession from the German Republic. This was to have
taken place on the eve of the Fifth Annive rsary of the establishment of the German
Republic (November 9th, 1918.)

Hitler staged a counter-stroke. For several days he had been mobilizing his storm
battalions in the neighbourhood of Munich, intending to make a national demonstration
and hoping that the REICHSWEHR would stand by him to prevent secession.
Ludendorff was with him. And he thought that the prestige of the great German
Commander in the World War would be sufficient to win the allegiance of the
professional army.

A meeting had been announced to take place in the Bürgerbräu Keller on the night of
November 8th. The Bavarian patriotic societies were gathered there, and the Prime
Minister, Dr. von Kahr, started to read his official PRONUNCIAMENTO, which
practically amounted to a proclamation of Bavarian independence and secession from
the Republic. While von Kahr was speaking Hitler entered the hall, followed by
Ludendorff. And the meeting was broken up.

Next day the Nazi battalions took the street for the purpose of making a mass
demonstration in favour of national union. They marched in massed formation, led by
Hitler and Ludendorff. As they reached one of the central squares of the city the army
opened fire on them. Sixteen of the marchers were instantly killed, and two died of their
wounds in the local barracks of the REICHSWEHR. Several others were wounded also.
Hitler fell on the pavement and broke a collar-bone. Ludendorff marched straight up to
the soldiers who were firing from the barricade, but not a man dared draw a trigger on
his old Commander.

Hitler was arrested with several of his comrades and imprisoned in the fortress of
Landsberg on the River Lech. On February 26th, 1924, he was brought to trial before the

VOLKSGERICHT, or People’s Court in Munich. He was sentenced to detention in a
fortress for five years. With several companions, who had been also sentenced to
various periods of imprisonment, he returned to Landsberg am Lech and remained
there until the 20th of the following December, when he was released. In all he spent
about thirteen months in prison. It was during this period that he wrote the first volume
of MEIN KAMPF.

If we bear all this in mind we can account for the emotional stress under which MEIN
KAMPF was written. Hitler was naturally incensed against the Bavarian government
authorities, against the footling patriotic so cieties who were pawns in the French game,
though often unconsciously so, and of course against the French. That he should write
harshly of the French was only natural in the circumstances. At that time there was no
exaggeration whatsoever in calling France the implacable and mortal enemy of
Germany. Such language was being used by even the pacifists themselves, not only in
Germany but abroad. And even though the second volume of MEIN KAMPF was
written after Hitler’s release from prison and was published after the French had left the
Ruhr, the tramp of the invading armies still echoed in German ears, and the terrible
ravages that had been wrought in the industrial and financial life of Germany, as a
consequence of the French invasion, had plunged the country into a state of social and
economic chaos. In France itself the franc fell to fifty per cent of its previous value.
Indeed, the whole of Europe had been brought to the brink of ruin, following the
French invasion of the Ruhr and Rhineland.

But, as those things belong to the limbo of a dead past that nobody wishes to have
remembered now, it is often asked: Why doesn’t Hitler revise MEIN KAMPF? The
answer, as I think, which would immediately come into the mind of an impartial critic
is that MEIN KAMPF is an historical document which bears the imprint of its own time.
To revise it would involve taking it out of its historical context. Moreover Hitler has
declared that his acts and public statements constitute a partial revision of his book and
are to be taken as such. This refers especially to the statements in MEIN KAMPF
regarding France and those German kinsfolk that have not yet been incorporated in the
REICH. On behalf of Germany he has definitely acknowledged the German portion of
South Tyrol as permanently belonging to Italy and, in regard to France, he has again
and again declared that no grounds now exist for a conflict of political interests between
Germany and France and that Germany has no territorial claims against France. Finally,
I may note here that Hitler has also declared that, as he was only a political leader and
not yet a statesman in a position of official responsibility, when he wrote this book,
what he stated in MEIN KAMPF does not implicate him as Chancellor of the REICH.

I now come to some references in the text which are frequently recurring and which
may not always be clear to every reader. For instance, Hitler speaks indiscriminately of
the German REICH. Sometimes he means to refer to the first REICH, or Empire, and
sometimes to the German Empire as founded under William I in 1871. Incidentally the

regime which he inaugurated in 1933 is generally known as the THIRD REICH, though
this expression is not used in MEIN KAMPF. Hitler also speaks of the Austrian REICH
and the East Mark, without always explicit ly distinguishing between the Habsburg
Empire and Austria proper. If the reader will bear the following historical outline in
mind, he will understand the references as they occur.

The word REICH, which is a German form of the Latin word REGNUM, does not mean
Kingdom or Empire or Republic. It is a sort of basic word that may apply to any form of
Constitution. Perhaps our word, Realm, would be the best translation, though the word
Empire can be used when the REICH was actually an Empire. The forerunner of the
first German Empire was the Holy Roman Empire which Charlemagne founded in A.D.
800. Charlemagne was King of the Franks, a grou p of Germanic tribes that subsequently
became Romanized. In the tenth century Charlemagne’s Empire passed into German
hands when Otto I (936-973) became Emperor. As the Holy Roman Empire of the
German Nation, its formal appellation, it continued to exist under German Emperors
until Napoleon overran and dismembered Germany during the first decade of the last
century. On August 6th, 1806, the last Emperor, Francis II, formally resigned the
German crown. In the following October Napoleon entered Berlin in triumph, after the
Battle of Jena.

After the fall of Napoleon a movement set in for the reunion of the German states in one
Empire. But the first decisive step towards that end was the foundation of the Second
German Empire in 1871, after the Franco-Prussian War. This Empire, however, did not
include the German lands which remained under the Habsburg Crown. These were
known as German Austria. It was Bismarck’s dream to unite German Austria with the
German Empire; but it remained only a dream until Hitler turned it into a reality in
1938′. It is well to bear that point in mind, because this dream of reuniting all the
German states in one REICH has been a do minant feature of German patriotism and
statesmanship for over a century and has been one of Hitler’s ideals since his childhood.

In MEIN KAMPF Hitler often speaks of the East Mark. This East Mark–i.e. eastern
frontier land–was founded by Charlemagne as the eastern bulwark of the Empire. It
was inhabited principally by Germano-Celtic tribes called Bajuvari and stood for
centuries as the firm bulwark of Western Ch ristendom against invasion from the East,
especially against the Turks. Geographically it was almost identical with German
Austria.

There are a few points more that I wish to mention in this introductory note. For
instance, I have let the word WELTANSCHAUUNG stand in its original form very
often. We have no one English word to convey the same meaning as the German word,
and it would have burdened the text too mu ch if I were to use a circumlocution each
time the word occurs. WELTANSCHAUUNG literally means “Outlook-on-the World”.
But as generally used in German this outlook on the world means a whole system of

ideas associated together in an organic unity–ideas of human life, human values,
cultural and religious ideas, politics, economics, etc., in fact a totalitarian view of human
existence. Thus Christianity could be called a WELTANSCHAUUNG, and
Mohammedanism could be called a WELTANSCHAUUNG, and Socialism could be
called a WELTANSCHAUUNG, especially as preached in Russia. National Socialism
claims definitely to be a WELTANSCHAUUNG.

Another word I have often left standing in the original is VÖLKISCH. The basic word
here is VOLK, which is sometimes translated as PEOPLE; but the German word, VOLK,
means the whole body of the PEOPLE without an y distinction of class or caste. It is a
primary word also that suggests what might be called the basic national stock. Now,
after the defeat in 1918, the downfall of the Monarchy and the destruction of the
aristocracy and the upper classes, the concept of DAS VOLK came into prominence as
the unifying co-efficient which would emb race the whole German people. Hence the
large number of VÖLKISCH societies that arose after the war and hence also the
National Socialist concept of unification which is expressed by the word
VOLKSGEMEINSCHAFT, or folk community. This is used in contradistinction to the
Socialist concept of the nation as being divided into classes. Hitler’s ideal is the
VÖLKISCHER STAAT, which I have translated as the People’s State.

Finally, I would point out that the term Social Democracy may be misleading in
English, as it has not a democratic connotation in our sense. It was the name given to
the Socialist Party in Germany. And that Party was purely Marxist; but it adopted the
name Social Democrat in order to appeal to the democratic sections of the German
people.

James Murphy
Abbots Langley
February, 1939